Kebakaran Besar Hanguskan Desa Adat Sade Lombok, Kemenbud Siapkan Langkah Pemulihan
astakom.com, Jakarta - Kebakaran besar melanda kawasan pemukiman tradisional Suku Sasak di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu malam, (22/08/2026). Musibah ini membuat ratusan aset bangunan dan sejumlah warisan budaya masyarakat ikut terdampak.
Melansir dari keterangan resmi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) yang diterima astakom.com pada Senin (24/08/2026), Kemenbud langsung mengambil langkah darurat setelah kebakaran melanda Desa Adat Sade. Melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Barat, kementerian melakukan koordinasi di lapangan, mendata kerusakan, sekaligus menyusun rencana pemulihan kawasan adat tersebut.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai penanganan Desa Adat Sade menjadi perhatian mendesak karena kawasan ini bukan sekadar permukiman tradisional, tetapi juga memiliki nilai penting bagi warisan budaya masyarakat Sasak.
Api melahap 167 aset bangunan
Kebakaran terjadi sekitar pukul 22.05 Wita dan diduga bermula dari salah satu rumah warga di sekitar area Pohon Cinta yang berada di tengah permukiman, tidak jauh dari Masjid Tua.
Berdasarkan informasi awal dari masyarakat setempat, api diduga dipicu hubungan arus pendek listrik atau korsleting akibat kondisi jaringan kabel yang saling berdempetan. Jarak antarbangunan yang rapat, ditambah material atap berupa jerami dan alang-alang yang mudah terbakar, membuat api cepat menyebar ke kawasan permukiman.
Total ada 167 unit aset bangunan yang terdampak. Rinciannya meliputi:
- 75 rumah adat hangus terbakar.
- 69 artshop atau toko kerajinan hangus terbakar.
- 8 lumbung alang hangus terbakar.
- 6 berugak sekepat terdampak.
- 4 berugak sekenam besar terdampak.
- 1 masjid, 1 Bale Beleq, 1 toilet umum wisatawan, 1 gerbang desa, dan 1 Pelonggo ikut terdampak.
Dampaknya juga tidak berhenti pada bangunan. Sejumlah benda pusaka dan perlengkapan budaya masyarakat Sasak ikut musnah, seperti keris, tombak, klewang, peralatan seni Peresean, Gendang Beleq, Gong Tua ritual, hingga naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta.
Setiap keluarga rata-rata kehilangan sekitar 3–4 bilah keris yang tidak sempat diselamatkan. Dari delapan Gendang Beleq yang terdampak, empat unit berhasil diselamatkan.
Kemenbud selamatkan sisa warisan
Dalam fase tanggap darurat, Kemenbud memprioritaskan penyelamatan benda budaya yang masih bisa diamankan sekaligus mendokumentasikan pengetahuan masyarakat yang berpotensi hilang akibat kebakaran.
“Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun non-fisik. Penyelamatan fisik dengan menyisir sisa-sisa reruntuhan demi menyelamatkan sisa kain tenun (wastra), benda pusaka (keris/tombak), dan fragmen manuskrip kuno yang hangus dan penyelamatan non-fisik, yaitu mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat agar memori kolektif masyarakat Sade”, ungkap Fadli Zon melansir dalam keterangan resmi Kemenbud yang diterima astakom.com.
Desa Adat Sade telah diakui sebagai desa wisata sejak 1982 dan mendapat pengakuan Kementerian Pariwisata pada 1993 sebagai bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.
Namun, hasil penelusuran awal pascakebakaran menemukan bahwa Desa Adat Sade ternyata belum tercatat dalam Data Pokok Kebudayaan (DAPOBUD) Kabupaten Lombok Tengah.
Kemenbud menyatakan akan memperkuat pendataan tersebut agar kawasan adat dan aset budaya di dalamnya memiliki basis data serta landasan pelindungan yang lebih kuat.
“Kementerian Kebudayaan siap bergerak sebagai Wali Data Masyarakat Adat untuk segera mengintegrasikan dan meregistrasi seluruh cagar budaya serta wilayah masyarakat adat secara nasional agar memiliki payung hukum pelindungan yang lebih kuat”, ungkap Fadli Zon.
Pemulihan disiapkan dalam 4 tahap
Kemenbud bersama pemerintah daerah dan pemangku adat setempat telah merumuskan Rekomendasi Pemulihan dan Rencana Aksi dengan 3 pilar utama.
Pertama, pemulihan kondisi fisik desa melalui pemugaran bangunan menggunakan material tradisional seperti kayu, bambu, ijuk, dan alang-alang. Pemulihan ini juga akan dipadukan dengan penambahan fasilitas mitigasi serta pencegahan kebakaran.
Kedua, pemulihan kondisi perekonomian masyarakat dengan dukungan sarana dan prasarana ekonomi tradisional, termasuk penyediaan kembali alat tenun beserta perlengkapannya bagi warga terdampak.
Ketiga, pemulihan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) melalui rekonstruksi sejarah, termasuk membuat duplikasi manuskrip kuno yang terbakar dengan memanfaatkan koleksi manuskrip sejenis yang tersimpan di Museum NTB.
Rencana pemulihan tersebut kemudian dipetakan ke dalam 4 tahap strategis. Tahap I merupakan tanggap darurat untuk mengamankan lokasi dan menyelamatkan sisa material. Tahap II berupa asesmen dan dokumentasi melalui pengukuran arsitektur serta inventarisasi benda budaya.
Selanjutnya, Tahap III berfokus pada pelindungan dan pemulihan melalui penyusunan kajian teknis serta pemulihan bangunan. Terakhir, Tahap IV diarahkan pada penguatan keberlanjutan budaya melalui digitalisasi dokumen dan peningkatan sistem kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kebakaran di Desa Adat Sade bukan cuma soal bangunan yang terbakar. Rumah adat, benda pusaka, kesenian, manuskrip, sampai ingatan kolektif masyarakat Sasak ikut terancam hilang. Karena itu, pemulihannya tidak berhenti pada membangun ulang kawasan, tetapi juga menjaga identitas budaya Sade agar tetap hidup dan terdokumentasi.









