Damai Timur Tengah: Irak Gagaskan Dewan Keamanan Iran-Arab Saudi
astakom.com, Jakarta – Irak resmi mengajukan usulan pembentukan dewan keamanan bersama yang melibatkan Iran dan Arab Saudi pada hari Minggu. Langkah berani ini diambil mengingat masih tebalnya krisis kepercayaan di antara kedua kekuatan besar di kawasan tersebut.
Mengikis krisis kepercayaan
Qasim al Araji penasihat keamanan nasional untuk perdana menteri Irak, mengonfirmasi kalau pihak Baghdad sudah menyampaikan draf proposal persatuan tersebut secara langsung kepada Teheran maupun Riyadh.
“Masalah antara kedua negara adalah krisis kepercayaan,” tutur al-Araji kepada stasiun televisi pemerintah Iraqiya TV, dilansir dari Anadolu Ajansi pada Senin (24/08/2026).
Meskipun sudah melayangkan gagasan tersebut, Al-Araji belum membeberkan detail mekanisme kerjanya secara mendalam. Di sisi lain, baik pihak Iran maupun Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan resmi mengenai usulan ini.
Satu komando persenjataan
Tak cuma membahas hubungan bilateral tetangganya, Al-Araji turut menegaskan ketegasan kedaulatan negaranya. Ia menyatakan kalau membawa semua senjata di bawah kendali negara adalah keputusan strategis Irak semata, menekankan kalau keputusan perang dan damai sepenuhnya berada di tangan negara Irak.
Sebelumnya, pada tanggal 3 Juni, tentara Irak menyatakan pembentukan sebuah komite yang bertugas untuk mengendalikan persenjataan di bawah kendali negara, sebuah tantangan keamanan dan politik yang telah lama ada di tengah keberadaan faksi-faksi bersenjata yang beroperasi baik di dalam ataupun di luar Pasukan Mobilisasi Populer.
Upaya redam eskalasi
Inisiatif dewan bersama ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein dan partner nya dari Arab Saudi, Faisal bin Farhan, membahas perkembangan di kawasan tersebut, menegaskan perlunya nge hold eskalasi dan menuntaskan perselisihan secara damai.
Tantangan insiden drone
Hubungan regional sempat diuji ketika pada 27 Juli, Arab Saudi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan beberapa drone yang diluncurkan dari wilayah Irak yang berupaya menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur dan Riyadh.
Riyadh menuduh kalau milisi yang berafiliasi dengan Iran atas serangan tersebut dan menyatakan pihaknya berhak untuk membalas.
Merespons tuduhan tersebut, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi pada hari yang sama memerintahkan badan-badan keamanan dalam menyelidiki informasi yang diberikan oleh Arab Saudi terkait peluncuran pesawat nirawak dari wilayah Irak. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Irak lagi coba jadi peacekeeper dengan ngajakin dua "raksasa" Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi, buat duduk bareng di dewan keamanan demi ngikis rasa untrust di antara mereka. Meski ketegangan sempat naik gara-gara isu drone dan milisi, Baghdad tetap assertive kalau urusan keamanan dan senjata itu mutlak satu komando di tangan negara biar kawasan enggak gampang burnout gara-gara konflik.









