Krisis Medis hingga Kelaparan, Kondisi Tahanan Palestina di Penjara Israel Kian Kritis
astakom.com, Jakarta – Kondisi para tahanan Palestina dalam penjara Israel dikabarkan makin hari makin mengkhawatirkan dan bikin prihatin. Tak cuma harus bertahan di tengah kelaparan, mereka juga mengalami pengabaian medis, penyerangan fisik, isolasi ketat, hingga krisis perlengkapan kebersihan di tengah wabah kudis yang kian meluas.
Potret kelam Megiddo
Pemandangan kelam ini salah satunya terlihat jelas di Penjara Megiddo. Pihak The Commission of Detainees’ Affairs membeberkan gambaran situasi yang sangat memprihatinkan di fasilitas tahanan tersebut.
“Kondisi para tahanan Palestina di Penjara Megiddo, Israel menghadapi kekurangan makanan dan perawatan medis serta kondisi hidup mereka terus memburuk,” tutur The Commission of Detainees’ Affairs, dilansir dari Anadolu, Senin (03/08/2026).
Pernyataan ini dikeluarkan setelah tim pengacara lembaga tersebut turun langsung mengunjungi para tahanan. Dari kunjungan itu, mereka mendokumentasikan kondisi fasilitas yang secara nyata digambarkan sebagai "buruk."
Kondisi kesehatan anjlok
Salah satu potret nyata dari pengabaian medis ini dialami oleh Mohammed Sawafta, pemuda berusia 20 tahun asal Provinsi Tubas, Tepi Barat. Sawafta diketahui telah mendekam di balik jeruji besi sejak 17 Juni 2025.
“Sawafta menderita radang sendi dan infeksi virus yang menyerang perut dan matanya,” papar pihak Komisi.
Meski sempat menerima penanganan untuk infeksi matanya, kondisi fisiknya yang lain sangat terbatas hingga ia masih membutuhkan alat bantu jalan untuk beraktivitas.
Tak hanya itu, kurangnya asupan nutrisi membuat berat badan para tahanan merosot drastis akibat kelaparan. Situasi makin sulit karena saat dipindahkan, tangan mereka tetap dalam kondisi terborgol. Hal ini otomatis menyulitkan para tahanan bahkan sekadar untuk menandatangani dokumen penting atau memegang telepon ketika berkonsultasi dengan pengacara mereka.
Sanitasi 'red flag'
Krisis kebersihan di dalam lingkungan penjara juga berada di level yang red flag parah. Perlengkapan sanitasi sangat minim, ditambah lagi akses air bersih untuk mandi dibatasi dan tidak teratur rata-rata hanya menyala sekitar satu jam saja dalam sehari.
Selain sanitasi yang buruk, ruang gerak para tahanan dipangkas habis-habisan. Mereka hanya diizinkan keluar dari sel paling lama satu jam sehari, itu pun pada waktu yang tidak pasti.
Kombinasi dari pengabaian medis, kelaparan, penyerangan, hingga isolasi inilah yang mempercepat penularan wabah kudis di antara para tahanan.
Ratusan korban jiwa
Dampak dari perlakuan di dalam penjara ini berujung fatal. Menurut organisasi tahanan Palestina, lebih dari 100 tahanan Palestina telah gugur dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, identitas 91 korban di antaranya telah resmi diumumkan pada akhir Juni 2026.
Laporan dari kelompok hak asasi manusia Palestina dan Israel mencatat angka yang tak kalah mengejutkan, saat ini diperkirakan ada sekitar 9.500 warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Angka real tersebut mencakup kelompok rentan, yakni 94 wanita dan lebih dari 350 anak-anak. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Kasus ini bukan sekadar berita politik biasa, tapi udah masuk level red flag krisis kemanusiaan yang parah banget. Dari sanitasi buruk, air cuma nyala sejam, sampai ratusan jiwa gugur di balik jeruji besi—ini bukti nyata kalau hak asasi manusia (HAM) dasar di sana lagi dipangkas habis-habisan dan butuh perhatian dunia.









