Indonesia Ajak ASEAN Level Up Pengokohan Arsitektur Ketahanan Bencana via Sustainable Resilience

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 31 Juli 2026 | 07:08 WIB
Indonesia Ajak ASEAN Level Up Pengokohan Arsitektur Ketahanan Bencana via Sustainable Resilience
Indonesia Ajak ASEAN Level Up Pengokohan Arsitektur Ketahanan Bencana via Sustainable Resilience [Kemlu RI]

astakom.com, Jakarta – Indonesia resmi memegang posisi sebagai Ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) tahun 2026. Dalam momen penting ini, Indonesia mendorong transformasi besar-besaran pada paradigma manajemen bencana di kawasan ASEAN, dari yang berfokus pada disaster risk reduction (pengurangan risiko bencana), kini level up menuju sustainable resilience (ketangguhan berkelanjutan).

Indonesia menekankan pentingnya pendekatan integratif yang menghubungkan penanganan bencana dengan isu perubahan iklim demi mendongkrak ketahanan ekonomi dan sosial kawasan.

Shift ke sustainable resilience

Langkah awal ini ditandai saat Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Rustian, S.Si., Apt., M.Kes., membuka Pertemuan ke-48 ACDM and Related Meetings di Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 28 Juli 2026.

Tema besar yang diusung kali ini adalah “From ASEAN to Global: Strengthening Community Preparedness and Leadership for Sustainable Resilience”.

Dalam pembukaan tersebut, Sestama BNPB menekankan kalau implementasi AADMER Work Programme 2026-2030 harus benar-benar di spill dan direalisasikan sampai membawa dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, menciptakan kawasan yang tangguh merupakan goals dan agenda bersama yang melintasi berbagai sektor serta pilar komunitas ASEAN.

"Sustainable Resilience harus menjadi kerangka kerja yang praktis dan lintas sektor bagi aksi ASEAN. Sejalan dengan ASEAN Leaders' Declaration on Sustainable Resilience tahun 2023, ketangguhan harus berpusat pada masyarakat serta terintegrasi dalam seluruh sektor dan tiga Pilar Komunitas ASEAN.” tutur Dr. Rustian berdasarkan pernyataan yang dikutip dari Kementerian Luar Negeri pada Kamis, (30/07/2026).

Aksi sat set lewat teknologi

Demi mewujudkan ekosistem tangguh ini, Indonesia mendorong penguatan kesiapsiagaan dan koordinasi regional, pemanfaatan data dan teknologi canggih, pemantapan sistem peringatan dini, hingga investasi berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas lokal.

Tak hanya itu, Aksi Antisipasi khususnya lewat Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) menjadi krusial agar setiap informasi risiko yang ada bisa langsung diubah menjadi action terkoordinasi secara sat-set sebelum dampak bencana melebar.

Praktik baik dan pengalaman Indonesia ini diharapkan bisa jadi role model bagi negara-negara anggota ASEAN lainnya, terutama dalam mendukung mandat ASEAN Socio-Cultural Community Strategic Plan of the ASEAN Community Vision 2045.

Collab 14 mitra global

Fokus BNPB tersebut mendapat support penuh dari Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Ina Krisnamurthi.

Saat sesi terbuka ACDM bersama para mitra ASEAN, ia menggarisbawahi betapa penting-nya kerja sama antara ASEAN dengan negara-negara mitra serta organisasi internasional.

Dubes Ina menegaskan kalau kolaborasi ini bukan sekadar bentuk reaksi mendadak saat bencana terjadi, melainkan upaya membangun perisai bersama secara berlanjut. Menurutnya, tanpa adanya support system dan kerja sama yang solid, ketangguhan berkelanjutan tidak akan pernah terwujud.

Sesi terbuka tersebut diikuti oleh 9 negara mitra eksternal ASEAN (Australia, Kanada, Uni Eropa, Selandia Baru, Federasi Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Turki, dan Prancis) serta 5 organisasi internasional terkemuka United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs  (UNOCHA), United Nations Development Programme (UNDP), International Organization for Migration (IOM), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Asian Disaster Preparedness Center (ADPC).

Dalam kesempatan ini, negara-negara ASEAN mendorong para partner internasional untuk meningkatkan komitmen kerja sama mereka, meliputi:

  1. Penguatan kapasitas sumber daya manusia
  2. Pengembangan platform pembelajaran dan knowledge-sharing
  3. Penguatan kelembagaan AHA Centre, serta
  4. Kerja sama teknis lainnya demi menyukseskan AADMER Work Programme 2026-2030.

Menuju visi ASEAN 2045

Selain memprioritaskan pada koordinasi lintas sektor dan paradigma ketangguhan berkelanjutan, Indonesia akan memanfaatkan momentum Keketuaan ACDM 2026 untuk menggenjot kapasitas antisipasi dan peringatan dini, memprioritaskan komunitas lokal, serta mendorong kontribusi ASEAN dalam pembentukan norma dan arsitektur ketangguhan global pasca-SDGs 2030.

Perjumpaan ACDM ke-48 ini juga sekaligus menjadi penanda genap 10 tahun Deklarasi One ASEAN, One Response. Rangkaian agenda ini akan berlanjut pada Pertemuan ACDM ke-49 pada November 2026 mendatang, yang rencananya digelar secara back-to-back dengan Pertemuan Tingkat Menteri (AMMDM) ke-14. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Bencana alam yang makin sering terjadi bikin kita sadar kalau penanganan biasa aja udah nggak cukup. Lewat Keketuaan ACDM 2026, Indonesia ngajak ASEAN buat level up dari sekadar merespons bencana jadi membangun sustainable resilience yang sat-set, berbasis data, dan pakai teknologi canggih. Langkah ini penting banget buat mastiin keamanan sosial dan ekonomi anak muda di masa depan lewat kerja sama global yang nyata!

ASEAN Asean update BNPB ASEAN Committee on Disaster Management

Infografis

Terkini