The Fed Resmi Tahan Suku Bunga 3,50-3,75 persen, tapi Internal Pecah Suara
astakom.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), baru saja memutuskan buat mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/07/2026) waktu setempat.
Meski keputusan ini sudah sesuai sama ekspektasi pasar, yang masih dipengaruhi oleh kekhawatiran ketegangan yang terjadi antara Iran dengan AS.
Di balik berlakunya keputusan mempertahankan suku bunga, investor masih dibuat ketar-ketir alias cemas gara-gara bayang-bayang lonjakan inflasi akibat eskalasi Trump-Iran, ditambah adanya perbedaan pandangan yang kontras di internal The Fed sendiri.
Tiga pejabat minta suku bunga naik
Berdasarkan data yang dihimpun astakom.com, keputusan buat menahan suku bunga ini diambil lewat voting 9 banding 3. Ini artinya, sudah lima pertemuan berturut-turut The Fed milih buat stay di level yang sama.
Tapi yang bikin plot twist, ada tiga pejabat The Fed yang nge-dissent alias beda suara. Mereka adalah Presiden Fed Dallas Lorie Logan, Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari.
Ketiganya kompak mendorong kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin karena merasa inflasi masih jadi ancaman nyata.
Kekhawatiran inflasi tinggi di AS
Perbedaan sikap ini jadi sinyal kuat kalau kekhawatiran soal tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Walaupun inflasi konsumen di AS sebenarnya sudah melambat ke angka 3,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) bulan lalu, komite merasa risiko lonjakan harga tetap tinggi, terutama karena harga minyak dunia lagi bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, keputusan The Fed ini setidaknya ngasih ruang bernapas bagi Bank Indonesia (BI) buat menentukan langkah BI Rate selanjutnya, meskipun tekanan terhadap rupiah di pasar global masih lumayan kencang.
Pada Kamis (30/07/2026) hingga pukul 10.17 WIB, nilai tukar rupiah terpantau menguat tipis ke level Rp18.062 per USD.
Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikutan terkerek naik dengan menguat 0,91 persen ke level 6.151, mencoba bangkit dan mengakhiri tren apes penurunan selama 6 hari beruntun sebelumnya.
Pasar obligasi mulai anxious
Menurut analisis dari Phintraco Sekuritas, keputusan The Fed sebenarnya sempat meredakan ketegangan di bursa saham AS karena meredakan kekhawatiran pasar akan adanya kenaikan suku bunga dadakan. Namun, hype positif itu ternyata cuma bertahan sebentar.
Wall Street akhirnya ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Penyebabnya adalah aksi jual masif (panic selling) yang berlanjut pada saham-saham sektor semikonduktor, ditambah harga minyak yang bergerak fluktuatif. Munculnya tiga suara dissent dalam rapat FOMC makin mempertegas narasi kalau inflasi ini bukan masalah sepele bagi bank sentral AS.
Bahkan, pasar obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda anxious alias khawatir kalau The Fed bakal telat dan kecolongan dalam mengendalikan inflasi karena memilih bermain aman di tengah potensi kenaikan harga energi.
Meski begitu, ketua The Fed Kevin Wars menyatakan kalau pihaknya berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas harga. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
The Fed resmi hold suku bunga di 3,50–3,75%, tapi drama internal makin kerasa karena tiga pejabat minta rate naik 25 bps. Pasar masih anxious gara-gara risiko inflasi dari konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Meski begitu, keputusan ini kasih ruang buat BI nentuin langkah berikutnya.









