Menlu Sugiono: Inovasi Jadi Kunci Utama Pengokohan Kolaborasi ASEAN Plus Three
astakom.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono secara tegas mendorong ASEAN Plus Three (APT) untuk tancap gas memperkuat ketahanan kawasan sejak dini, bukan cuma sibuk firefighting atau merespons pas krisis udah terlanjur pecah. Pesan krusial ini disampaikan langsung dalam Pertemuan ke-27 Menteri Luar Negeri ASEAN Plus Three (Jepang, RRT, Republik Korea) yang digelar di Manila, Filipina.
Menurut Menlu Sugiono, perjalanan hampir tiga dekade kerja sama APT sudah membuktikan satu hal action nyata dan hasil konkret adalah kunci utama kekuatan mekanisme ini, bukan sekadar retorika atau jualan janji manis.
Ketahanan sejak dini
“APT lahir dari krisis. Masa depannya harus ditentukan oleh ketahanan yang kita bangun sebelum krisis terjadi,” tutur Menlu Sugiono dikutip oleh astakom.com pada Minggu, (26/07/2026).
Di tengah ketidakpastian global yang makin unpredictable dan berdampak langsung ke pasar energi, rantai pasok, hingga pasokan pangan kawasan, Menlu Sugiono menekankan perlunya APT untuk terus berinovasi. Langkah ini penting agar kerja sama regional tersebut benar-benar memberikan real benefit bagi seluruh negara anggotanya.
Inovasi pangan modern
Khusus di sektor ketahanan pangan, Indonesia mendorong agar ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) nggak cuma stuck di tempat, melainkan bertransformasi menjadi platform regional yang jauh lebih luas dan relevan.
Kolaborasi ini dinilai perlu menyentuh inovasi teknologi pertanian, penguatan rantai pasok pangan yang tangguh, hingga diversifikasi cadangan pangan di seluruh kawasan.
Jaring pengaman finansial
Beralih ke sektor finansial, Menlu Sugiono menekankan pentingnya memaksimalkan seluruh hasil kerja sama APT agar dampaknya bisa langsung dirasakan. Beliau secara khusus menyoroti keberadaan Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) yang berfungsi sebagai jaring pengaman keuangan kawasan.
"Indonesia menyambut baik perkembangan CMIM untuk mengimplementasikan Rapid Financing Facility (RFF) dan pengesahan roadmap menuju mekanisme penggunaan yang lebih efektif," sambung Menlu Sugiono.
Fondasi stabilitas kawasan
Di luar isu ekonomi dan pangan, hal mendasar lain yang digarisbawahi dalam pertemuan APT ini adalah pentingnya membangun arsitektur kawasan yang kuat, stabil, dan transparan. Fondasi tersebut harus berpijak teguh pada Treaty on Amity and Cooperation serta ASEAN Outlook on Indo-Pacific.
Indonesia menekankan kembali kalau penguatan Sentralitas ASEAN akan menjadi kunci utama dalam memperkokoh trust terhadap APT, sekaligus memaksimalkan kontribusinya bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan dalam jangka panjang.
Dibentuk sejak tahun 1997, ASEAN Plus Three merupakan wadah kolaborasi strategic yang mempertemukan negara-negara anggota ASEAN dengan tiga mitra utamanya di Asia Timur Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Republik Korea. Pertemuan ke-27 Menlu APT di Filipina ini merupakan bagian dari rangkaian AMM/PMC ke-59 yang mengupas tuntas isu-isu krusial mulai dari politik-keamanan, ekonomi, keuangan, pangan, energi, kesehatan, hingga hubungan people-to-people. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Basically, ketimbang sibuk firefighting atau panik pas krisis ekonomi dan pangan udah melanda, Indonesia mau ASEAN Plus Three (plus Jepang, Cina, Korea) tancap gas lewat inovasi sejak dini. Mulai dari modernisasi cadangan beras kawasan sampai jaring pengaman finansial yang lebih cepat (Rapid Financing Facility), poin utamanya simpel: be proactive, not reactive!









