Gejolak Geopolitik Dunia Memanas: Menlu Sugiono Dorong ASEAN Regional Forum Berbenah
astakom.com, Jakarta – Menghadapi ancaman keamanan global yang makin kompleks dan unpredictable, Menteri Luar Negeri RI Sugiono mendorong revitalisasi ASEAN Regional Forum (ARF). Langkah ini diambil agar forum tersebut jauh lebih tanggap dan relatable dengan tantangan masa kini, sembari tetap memegang teguh Sentralitas ASEAN.
Hadir dalam Pertemuan ke-33 ARF di Manila, Filipina, Menlu Sugiono me remind kalau dinamika dan lingkungan strategis kawasan sudah berubah drastis dibanding saat ARF pertama kali dibentuk pada tahun 1994 silam.
Perlunya adaptasi forum
Meski ARF tetap punya peran krusial sebagai wadah bertemunya para aktor utama kawasan untuk berdialog, Sugiono menekankan kalau forum ini wajib beradaptasi agar nggak stay di tengah tantangan zaman.
“Revitalisasi tidak berarti mengubah tujuan mendasar ARF. Revitalisasi berarti memperkuat perangkat yang dimiliki ARF agar lebih modern dan mampu menjawab tantangan nyata kawasan,” tutur Menlu Sugiono dikutip oleh astakom.com pada Minggu, (26/07/2026).
Fokus eksekusi konkret
Selain itu, Menlu RI juga memberi highlight khusus pada pentingnya eksekusi nyata dari Manila Plan of Action yang resmi diadopsi dalam pertemuan ini. Targetnya, keputusan tersebut bisa memberikan long-term impact yang positif.
“Ini membutuhkan ARF yang bersifat implementation-oriented, dimana seluruh program kerja ARF harus menjadi kemitraan yang konkret,” ucap Menlu Sugiono.
Kehadiran anggota baru
Di sisi lain, Indonesia menyambut positif ketetapan ASEAN yang menerima Inggris sebagai anggota ke-28 ARF. Menurut Sugiono, ekspansi partisipasi negara anggota ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pembenahan serta peningkatan efektivitas kinerja forum.
Langkah diplomasi preventif
Menutup keterangannya, Sugiono mengajak seluruh anggota ARF untuk berani level up menuju diplomasi preventif. Hal ini krusial agar ARF tidak cuma jadi tempat mengobrol, melainkan mampu mencegah ketegangan kawasan bereskalasi menjadi konflik terbuka. Prinsip-prinsip Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation/TAC) ditegaskan harus tetap menjadi guideline utama.
“ARF yang lebih matang akan dapat membentuk kawasan yang lebih stabil, damai dan aman, dan berkontribusi bagi perdamaian dunia, termasuk bagi Palestina,” tutup Menlu Sugiono.
Pertemuan skala internasional ini dihadiri oleh 27 negara anggota yang mencakup negara-negara kunci di berbagai penjuru dunia. Hasil utama dari forum ini adalah disepakatinya Manila Plan of Action, yang bakal menjadi peta jalan (roadmap) kerja ARF untuk dekade mendatang (2026–2036). (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Dunia lagi makin unpredictable, dan forum diplomasi jadul udah gak bisa cuma dipakai buat sekadar "ngobrol santai". Menlu RI Sugiono menegaskan ASEAN Regional Forum (ARF) wajib upgrade biar makin implementation-oriented—mulai dari masuknya Inggris sampai percepatan diplomasi preventif. Goal-nya jelas: menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara dan dunia secara riil, bukan sekadar teori di atas kertas.









