Infrastruktur BRT Cekungan Bandung Mulai Dikerjakan, Kemenhub Optimis Pangkas Kemacetan
astakom.com, Jakarta – Upaya menghadirkan transportasi umum yang lebih cepat dan terintegrasi di kawasan Bandung Raya mulai memasuki tahap pembangunan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) kini mengembangkan Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung sebagai bagian dari Mass Transit Project (MASTRAN), dengan harapan mampu memangkas waktu perjalanan sekaligus mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi tantangan mobilitas masyarakat.
Pengembangan sistem transportasi massal tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan armada bus, tetapi juga mencakup pembangunan berbagai infrastruktur pendukung seperti depo, halte, jalur khusus BRT, hingga penerapan Intelligent Transportation System (ITS). Sistem itu dirancang agar layanan angkutan umum memiliki jadwal yang lebih pasti, perjalanan lebih efisien, serta terhubung dengan moda transportasi lainnya.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi Pemerintah Indonesia bersama World Bank dan Agence Française de Développement (AFD) sebagai bagian dari pengembangan transportasi perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Infrastruktur mulai dibangun
Kementerian Perhubungan menyebut pembangunan sejumlah fasilitas utama BRT Cekungan Bandung kini telah dimulai. Infrastruktur tersebut meliputi depo operasional, halte, jalur khusus bus, hingga sistem ITS yang akan membantu mengatur operasional layanan secara digital agar perjalanan lebih konsisten.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan mengatakan masyarakat membutuhkan layanan transportasi yang bukan hanya nyaman, tetapi juga memiliki kepastian waktu perjalanan.
"Masyarakat tidak hanya membutuhkan transportasi umum yang nyaman, tetapi juga memiliki waktu perjalanan yang pasti dan BRT dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan. Karena itu, BRT Cekungan Bandung dirancang dengan jalur khusus, sistem operasi yang terintegrasi, dan dukungan Intelligent Transportation System (ITS) agar layanan menjadi lebih andal, cepat, dan konsisten," ujar Aan Suhanan di Depo Leuwipanjang, Bandung, Rabu (22/07/2026).
Menurut Kemenhub, saat mulai beroperasi nanti layanan BRT ditargetkan memiliki interval keberangkatan maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan maksimal 15 menit di luar jam sibuk sehingga masyarakat memiliki pilihan transportasi publik yang lebih dapat diandalkan.
"Layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan beroperasi dengan headway maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan maksimal 15 menit pada jam tidak sibuk sehingga masyarakat dapat menikmati layanan yang lebih pasti, cepat, dan dapat diandalkan. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik utama untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi di kawasan Bandung Raya," kata Aan.
Ditarget layani hampir 100 ribu penumpang
Pengembangan BRT dilakukan untuk menjawab persoalan mobilitas di Bandung Raya yang masih dibayangi kepadatan lalu lintas. Berdasarkan kajian yang dipaparkan Kemenhub, kecepatan rata-rata perjalanan di Bandung saat ini hanya sekitar 18 kilometer per jam, sementara pengguna jalan diperkirakan kehilangan waktu hingga 108 jam setiap tahun akibat kemacetan.
Analisis World Bank memproyeksikan keberadaan BRT dapat memangkas rata-rata waktu tempuh perjalanan sekitar 11 persen, dari sekitar 45 menit menjadi 40 menit. Layanan ini juga diperkirakan mampu melayani sekitar 99 ribu penumpang setiap hari, dengan sekitar 21 persen pengguna diproyeksikan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Selain mempercepat mobilitas, proyek tersebut juga diperkirakan berkontribusi pada penurunan konsumsi bahan bakar serta pengurangan emisi karbon secara bertahap.
"Selain dapat mempercepat waktu perjalanan, pengembangan layanan BRT diharapkan dapat mengurangi kemacetan, menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon hingga 196 ribu ton CO2 secara bertahap. Kami juga berharap BRT Cekungan Bandung sekaligus dapat meningkatkan akses masyarakat menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik," jelas Aan.
Kolaborasi pemerintah dan mitra internasional
Pengembangan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari proyek MASTRAN yang didukung pembiayaan bersama antara Pemerintah Indonesia, World Bank, dan AFD. Dukungan tersebut tidak hanya mencakup pembiayaan, tetapi juga penguatan sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Operations Manager World Bank untuk Indonesia dan Timor-Leste, Alanna Simpson, menyatakan pihaknya siap melanjutkan dukungan kepada Pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam meningkatkan mobilitas, konektivitas, serta kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sistem BRT.
Sementara itu, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Fabien Penone mengatakan keterlibatan AFD dalam proyek tersebut mencerminkan komitmen kerja sama Indonesia dan Prancis dalam pengembangan transportasi publik dan manajemen perkotaan.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan optimistis pembangunan dapat berjalan sesuai target sehingga masyarakat Bandung Raya dapat segera menikmati layanan transportasi publik yang lebih aman, nyaman, efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kalau proyek ini berjalan sesuai target, BRT Cekungan Bandung bukan cuma menambah pilihan transportasi umum, tetapi juga berpotensi bikin perjalanan harian lebih singkat, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, sekaligus mendukung mobilitas kota yang lebih ramah lingkungan.










