Kemhan RI Pastiin Pengerahan Prajurit TNI ke Gaza buat Rekonstruksi dan Pelayanan Medis
astakom.com, Jakarta — Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menekankan bahwa pengiriman prajurit TNI ke Gaza dilakukan dalam rangka menjalankan misi kemanusiaan.
“Fokus perencanaan Indonesia dalam kerangka dukungan stabilisasi dan kemanusiaan di Gaza adalah unsur rekonstruksi serta pelayanan kesehatan atau medis,” ujar Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi, kemarin (11/2/2026).
Kemhan juga membantah soal narasi kehadiran TNI di Gaza untuk melucuti senjata Hamas, kelompok militan Palestina yang terlibat dalam konflik bersenjata dengan Israel.
“Narasi bahwa pasukan Indonesia akan dilibatkan untuk melucuti pihak tertentu atau menjalankan disarmament seperti yang disebut dalam pemberitaan, tidak sesuai dengan fokus yang disiapkan Indonesia,” ujar Rico.
Pengiriman prajurit masih menunggu mandat
Rico juga menyatakan hal-hal operasional terkait rencana pengiriman pasukan masih menunggu kejelasan mandat internasional, aturan misi, dan keputusan resmi pemerintah.
“Namun prinsipnya, kontribusi Indonesia akan tetap berada dalam koridor stabilisasi, rekonstruksi, dan pelayanan kesehatan,” tegas dia.
Adapun menurut laporan media internasional, Indonesia sedang mempersiapkan hingga 8.000 tentara untuk dikerahkan ke Gaza, negara pertama yang melakukan hal tersebut sebagai bagian dari fase kedua perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat akhir tahun lalu.
Sejumlah prajurit sudah mulai berlatih
Melansir astakom.com, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan bahwa para personel TNI AD sudah mulai berlatih.
“Sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan (dikerahkan). Kan kita nanti jadi perdamaian. Jadi berarti Zeni, kesehatan, yang seperti-seperti itu kami siapkan,” ujar Maruli.
Ia memperkirakan jumlah pasukan yang bisa diberangkatkan ke Gaza sebagai pasukan perdamaian mencapai satu brigade atau 5.000-8.000 prajurit.
“Ya, bisa satu brigade, 5.000 sampai 8.000 mungkin. Tapi masih bernego semua, belum pasti. Belum ada kepastian angka sampai sekarang,” tutur Maruli.












