Mengulik Sejarah Gedung Sate Bandung, dari Pusat Pemerintahan Kolonial hingga Ikon Jawa Barat
astakom.com, Jakarta – Gedung Sate menjadi salah satu bangunan bersejarah yang lekat dengan identitas Kota Bandung, Jawa Barat. Berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini menyimpan perjalanan panjang, mulai dari rencana pembangunan pusat administrasi kolonial hingga menjadi kantor pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun astakom.com, dikutip pada Sabtu, (07/11/2026), pembangunan Gedung Sate dimulai pada 27 Juli 1920 dan bangunan utamanya rampung pada 1924.
Sebelum populer dengan nama Gedung Sate, bangunan tersebut dikenal sebagai Gouvernements Bedrijven (GB). Kehadirannya berkaitan dengan rencana pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menjadikan Bandung sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Batavia. Namun, rencana pemindahan tersebut tidak sepenuhnya terealisasi.
Awal pembangunan Gedung Sate dan lokasinya
Gedung Sate beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini berada di kawasan pusat pemerintahan provinsi dan berhadapan dengan Lapangan Gasibu.
Pembangunannya dimulai melalui peletakan batu pertama pada 27 Juli 1920. Proyek tersebut merupakan bagian dari rencana pembangunan kompleks perkantoran pemerintahan Hindia Belanda yang dinamakan Gouvernements Bedrijven.
Perancangan bangunan dipimpin arsitek Belanda, Ir. J. Gerber, dengan dukungan sejumlah tenaga ahli, di antaranya Ir. E.H. de Roo dan G. Hendriks. Kolonel V.L. Slors juga tercatat dalam perencanaan pembangunan kompleks tersebut.
Setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih empat tahun, bangunan utama kompleks ini selesai pada 1924. Sejak saat itu, Gedung Sate menjadi bagian dari perjalanan sejarah perkembangan Bandung, baik dari sisi pemerintahan maupun arsitektur.
Fungsi awal Gedung Sate, bukan langsung kantor Gubernur
Sebelum menjadi kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate dirancang sebagai bagian dari kompleks pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda.
Pembangunan kompleks tersebut berkaitan dengan rencana pemindahan pusat pemerintahan kolonial dari Batavia ke Bandung. Karena itu, keberadaan bangunan ini sejak awal memiliki hubungan erat dengan kebutuhan administrasi pemerintahan.
Dalam perkembangannya, Gedung Sate pernah digunakan sebagai kantor Departemen Pekerjaan Umum dan Pengairan. Bangunan ini juga sempat difungsikan sebagai perpustakaan pusat yang menghimpun koleksi dari tujuh jawatan.
Seiring perubahan pemerintahan dan kebutuhan administrasi, fungsinya turut berkembang. Kini, Gedung Sate dikenal sebagai kantor pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk tempat berkantornya Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Ikon enam bulatan di puncak, kenapa disebut tusuk sate?
Salah satu bagian yang paling mudah dikenali dari Gedung Sate adalah ornamen di puncak menara utamanya. Bentuknya berupa enam bulatan yang tersusun pada sebuah tiang sehingga menyerupai tusuk sate.
Dari bentuk tersebut, masyarakat kemudian mengenal bangunan ini dengan sebutan Gedung Sate. Nama itu lebih melekat dibandingkan nama awalnya, Gouvernements Bedrijven.
Menariknya, enam bulatan tersebut juga dikaitkan dengan biaya pembangunan gedung yang diperkirakan mencapai enam juta gulden pada masa Hindia Belanda. Penjelasan mengenai simbol biaya pembangunan ini tercantum dalam informasi sejarah yang dipublikasikan Indonesia Travel, platform pariwisata resmi Kementerian Pariwisata.
Selain ornamen khasnya, desain Gedung Sate juga memperlihatkan perpaduan pengaruh arsitektur dari beberapa kawasan. Bagian jendelanya mengambil inspirasi gaya Moorish dari Spanyol, bangunannya dipengaruhi Renaissance Italia, sedangkan bentuk menaranya memperlihatkan unsur arsitektur Asia melalui kemiripan dengan atap pura Bali dan pagoda Thailand.
Perpaduan tersebut membuat Gedung Sate memiliki karakter arsitektur yang khas sekaligus menjadi salah satu identitas bangunan bersejarah di Bandung.
Menyimpan kisah perjuangan tujuh pemuda pada 1945
Di balik nilai arsitekturnya, Gedung Sate juga menyimpan catatan perjuangan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat mencatat, pada 3 Desember 1945 terjadi pertempuran ketika pasukan Sekutu dan Belanda menyerbu kantor Departemen Pekerjaan Umum yang saat itu berada di Gedung Sate.
Dalam peristiwa tersebut, tujuh pemuda yang mempertahankan gedung dinyatakan hilang. Mereka adalah Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono.
Untuk mengenang perjuangan mereka, sebuah batu peringatan yang memuat nama ketujuh pemuda tersebut ditempatkan di halaman Gedung Sate.
Peristiwa 3 Desember 1945 juga menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya Hari Bakti Pekerjaan Umum yang diperingati setiap tahun pada tanggal tersebut.
Museum Gedung Sate jadi ruang edukasi sejarah
Masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh perjalanan bangunan bersejarah ini juga dapat mengunjungi Museum Gedung Sate yang berada di kompleks tersebut.
Museum ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah pembangunan Gedung Sate, perkembangan pemerintahan, serta perjalanan Kota Bandung dan Jawa Barat.
Pengunjung dapat mengenal berbagai informasi sejarah melalui pameran dan fasilitas edukasi yang didukung teknologi multimedia interaktif. Konsep tersebut membuat penyampaian informasi sejarah terasa lebih menarik dan mudah dipahami.
Lokasinya berada di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Sebelum berkunjung, masyarakat dapat mengecek kembali informasi operasional dan ketentuan tiket melalui kanal resmi pengelola museum.
Perjalanan Gedung Sate memperlihatkan bahwa sebuah bangunan tidak hanya memiliki nilai dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari cerita yang tersimpan di dalamnya. Mulai dari rencana pusat pemerintahan Hindia Belanda, perubahan fungsi setelah kemerdekaan, hingga menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat, bangunan ini tetap menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah Bandung. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Gedung Sate ternyata bukan cuma bangunan ikonik yang sering jadi latar foto saat berkunjung ke Bandung. Bangunan yang mulai didirikan pada 1920 ini punya cerita panjang, mulai dari rencana pemerintahan kolonial, perpaduan arsitektur Eropa dan Asia, enam bulatan yang menjadi ciri khas tusuk sate, hingga kisah perjuangan tujuh pemuda pada 3 Desember 1945. Jadi, di balik tampilannya yang khas, ada banyak sejarah yang menarik untuk dikenali.








