Diet Gagal Terus Padahal Udah Kurangin Makan? Eits, Ternyata Otak dan Hormonmu yang Lagi Pegang Kendali
astakom.com, Jakarta - Menurunkan berat badan sering kali diidentikkan sama rumus klasik: kurangin porsi makan dan perbanyak olahraga. Tapi kenyataannya, urusan makan itu nggak sesederhana masalah niat atau kemauan (willpower). Usut punya usut, otak dan hormon di dalam tubuh punya peranan super krusial yang mengontrol kapan kita merasa lapar, kenyang, sampai dorongan buat terus ngemil meski perut udah begah.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, Putri Nugraheni, membongkar rahasia di balik perilaku makan ini.Menurutnya, ada mekanisme biologis kompleks di otak yang mengatur seluruh signal tersebut.
Sinyal Lapar-Kenyang dan Pengaruh Obat Psikiatri
Dalam tubuh kita, ada hormon-hormon khusus produksi otak yang bertugas memberi komando. "Ada hormon-hormon tertentu yang dihasilkan oleh otak yang mengatur rasa lapar, rasa kenyang, kalau lapar jadi ada keinginan untuk makan, kalau kenyang ada keinginan untuk stop makan," jelas Putri dikutip Sabtu (07/11/2026).
Sayangnya, kinerja hormon ini bisa terganggu oleh kondisi kesehatan fisik maupun mental, hingga konsumsi obat-obatan tertentu. Pada pasien yang mengonsumsi obat psikiatri, misalnya, kadar hormon pencetus lapar bisa berubah. Hasilnya? Seseorang jadi jauh lebih gampang lapar dan makin susah merasakan sinyal kenyang.
Mengenal Hedonic Eating: Saat Stres Bikin Otak Berburu Reward Lewat Makanan
Pernah merasa pengen makan junk food atau yang manis-manis pas lagi bad mood? Nah, itu dia peranan neurotransmitter alias zat kimia otak seperti dopamin dan opioid. Saat kita dilanda stres atau melalui hari yang berat, otak secara otomatis bakal mencari sensasi nyaman atau reward.
"Kita lagi dapat hari buruk atau stres gitu, misalnya, neurotransmitter atau zat-zat kimia di otak kita, terutama itu ada dopamin, opioid, itu akan mencari sensasi reward dengan cara makan," ungkap Putri. Fenomena makan bukan karena lapar fisik, melainkan demi kepuasan dan kesenangan emosional ini dikenal dengan istilah hedonic eating.
Doktrin 'Eat Less, Move More' Cuma Sepertiga dari Solusi Obesitas!
Selama ini, orang dengan obesitas sering disalahkan dan dianggap kurang motivasi. Padahal menurut Putri,sudut pandang tersebut terlalu menyederhanakan masalah yang amat kompleks. "Kalau kita hanya membicarakan kamu kurang motivasi, itu kita baru membicarakan sepertiga dari problem sebenarnya," tegasnya.
Anjuran populer eat less, move more (makan lebih sedikit, gerak lebih banyak) juga dinilai baru menyentuh sepertiga dari solusi utamanya. Penanganan obesitas yang holistik wajib memperbaiki pengaturan hormon lapar-kenyang, mengintervensi neurotransmitter otak, hingga mengubah perilaku pencarian makanan sebagai bentuk reward. (RaM)
Gen Z Takeaway
Pembahasan ini beneran eye-opening banget buat kita semua yang sering self-blaming saat diet suka gagal di tengah jalan, Vips! Ternyata masalah berat badan itu bukan cuma soal "kurang niat", tapi ada peran otak, hormon, dan zat kimia yang emang lagi butuh penanganan tepat. Bottom line-nya: stop nge-judging diri sendiri atau orang lain, karena solusi masalah berat badan itu butuh pendekatan yang lengkap mulai dari kesehatan mental, keseimbangan hormon, sampai pola hidup yang sehat.








