Menelusuri Sejarah Patung M.H. Thamrin, Pengingat Perjuangan Tokoh Betawi
astakom.com, Jakarta – Nama Mohammad Husni Thamrin tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Jakarta. Sosok pahlawan nasional asal Betawi tersebut diabadikan melalui sebuah patung yang pernah berdiri di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kehadirannya menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang turut memperjuangkan kepentingan masyarakat pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Berdasarkan informasi yang dihimpun astakom.com pada Minggu (01/11/2026), patung M.H. Thamrin diresmikan pada 3 Juni 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo. Pembangunannya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sosok dan perjalanan perjuangan Thamrin kepada masyarakat, sehingga sejarahnya tidak hanya dikenal melalui nama jalan yang menggunakan namanya.
Lebih dari sekadar monumen, sosok M.H. Thamrin memiliki perjalanan panjang dalam pergerakan nasional. Ia menggunakan ruang politik untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, memperjuangkan perbaikan kehidupan penduduk, hingga terlibat dalam organisasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran kebangsaan.
Mengenal sosok M.H. Thamrin, tokoh perjuangan Betawi
Mohammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Batavia, pada 16 Februari 1894. Tumbuh di lingkungan masyarakat Betawi, ia dikenal memiliki perhatian terhadap persoalan sosial yang dihadapi penduduk di sekitarnya.
Mengutip Ensiklopedia Sejarah Indonesia yang dikelola Kementerian Kebudayaan, keterlibatan Thamrin dalam perjuangan masyarakat mulai terlihat melalui Gemeenteraad atau Dewan Kota Batavia. Ia resmi menjadi anggota lembaga tersebut pada 29 Oktober 1919 ketika berusia 25 tahun.
Perhatiannya terhadap kondisi masyarakat kemudian mendorong Thamrin bergabung dengan organisasi Kaum Betawi yang berdiri pada 1 Januari 1923. Organisasi tersebut memiliki tujuan memajukan perdagangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
Perjalanan politiknya berlanjut ketika ia menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat pada 1927. Melalui lembaga tersebut, Thamrin memiliki ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat Indonesia.
Salah satu kiprah pentingnya terjadi pada 27 Januari 1930, ketika Fraksi Nasional dibentuk di Volksraad dengan Thamrin sebagai ketua. Kelompok ini dikenal aktif menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial, termasuk tindakan penangkapan terhadap para pemimpin pergerakan nasional.
Peresmian patung sebagai bentuk penghormatan
Perjuangan M.H. Thamrin kemudian diabadikan melalui pembangunan patung di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa monumen tersebut diresmikan pada Minggu, 3 Juni 2012, oleh Gubernur Fauzi Bowo.
Pembangunan patung ini dilatarbelakangi keinginan untuk menghadirkan sosok Thamrin agar lebih dikenal oleh masyarakat Jakarta. Pemerintah dan warga ibu kota menjadikannya sebagai bentuk penghargaan terhadap putra Betawi yang memiliki kontribusi dalam perjalanan pembangunan dan sejarah Jakarta.
Keberadaan monumen tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang tokoh tidak hanya dapat dikenang melalui catatan sejarah, tetapi juga melalui ruang publik yang dapat dijumpai masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Atas kiprahnya dalam perjuangan nasional, M.H. Thamrin kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 175 Tahun 1960 tertanggal 28 Juli 1960. Ia wafat pada 11 Januari 1941 setelah melalui perjalanan panjang dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.
Penataan patung dan upaya menguatkan identitas Betawi
Keberadaan patung M.H. Thamrin juga masuk dalam rencana penataan kawasan Jakarta. Pada 2025, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan rencana pemindahan patung lama dari Jalan Medan Merdeka Selatan ke halaman Balai Kota DKI Jakarta.
Dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta, Gubernur Pramono Anung juga menyampaikan rencana pembangunan patung baru M.H. Thamrin di Jalan M.H. Thamrin sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh Betawi tersebut.
Rencana itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat karakter budaya Betawi sebagai identitas Jakarta. Sosok Thamrin dipandang memiliki peran penting dalam meletakkan dasar pembangunan kota melalui pemikiran dan perjuangannya.
Dengan demikian, pengenalan terhadap M.H. Thamrin tidak hanya berkaitan dengan keberadaan patung, tetapi juga perjalanan sejarah seorang tokoh yang pernah memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui jalur politik. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Mengenal Patung M.H. Thamrin bukan hanya soal mengetahui monumen yang pernah berdiri di kawasan Jakarta Pusat. Di balik sosok yang diabadikan tersebut, ada cerita perjuangan tokoh Betawi yang berani menyuarakan kepentingan masyarakat pada masa kolonial. Sejarah ini bisa menjadi pengingat bahwa mengenal kota tempat kita tinggal juga berarti memahami tokoh dan perjuangan yang ikut membentuk perjalanannya.









