Yuk Bahas tentang Patung Sudirman? Ini Sejarah dan Fakta di Balik Pose Hormatnya

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Senin, 26 Oktober 2026 | 00:04 WIB
Yuk Bahas tentang Patung Sudirman? Ini Sejarah dan Fakta di Balik Pose Hormatnya
Yuk Bahas Tentang Patung Sudirman? Ini Sejarah dan Fakta di Balik Pose Hormatnya [Dok. GNI Kemenbud]

astakom.com, Jakarta – Patung Jenderal Sudirman menjadi salah satu landmark yang mudah dikenali di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Selatan. Sosok Panglima Besar TNI pertama ini berdiri tegak di tengah Jalan Jenderal Sudirman dengan gestur hormat yang khas. Meski kerap dilewati warga saat beraktivitas, monumen ini punya cerita menarik, mulai dari sosok seniman di balik pembuatannya hingga makna pose yang ditampilkan.

Mengutip katalog resmi Galeri Nasional Indonesia di bawah Kementerian Kebudayaan, Patung Jenderal Sudirman merupakan karya Sunaryo yang dibuat pada 2003 menggunakan bahan perunggu. Pembuatannya didanai keluarga Jenderal Sudirman, kemudian disumbangkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekitar tahun yang sama. Informasi tersebut tercantum dalam katalog resmi yang diakses pada Minggu (25/10/2026).

Berawal dari karya Sunaryo pada 2003

Patung yang berdiri di kawasan Dukuh Atas ini dirancang dengan pendekatan realistis. Proporsi kepala, tubuh, dan pakaian dibuat menyerupai sosok manusia, sementara desain keseluruhannya tetap sederhana tanpa banyak ornamen tambahan.

Pilihan desain tersebut bukan tanpa alasan. Menurut katalog Galeri Nasional Indonesia, patung berada di tengah kawasan yang dipenuhi beragam aktivitas sehingga tampilannya dibuat tidak terlalu ramai oleh detail dekoratif.

Ada beberapa fakta utama tentang monumen ini:

  • Seniman: Sunaryo.
  • Tahun pembuatan: 2003.
  • Material: perunggu.
  • Tinggi patung: 6,5 meter.
  • Tinggi alas: 5,5 meter.

Jika tinggi patung dan alas dijumlahkan, keseluruhan monumen mencapai sekitar 12 meter. Ukuran tersebut membuat sosok Jenderal Sudirman tampak menonjol di tengah aktivitas kawasan Sudirman.

Apa makna pose hormatnya?

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari patung ini adalah posisi Jenderal Sudirman yang berdiri tegak sambil memberikan hormat. Kepalanya sedikit mendongak ke atas, sehingga figur tersebut tampak dinamis meski berada dalam posisi diam.

Dalam katalog resminya, Galeri Nasional Indonesia menjelaskan bahwa gestur tersebut menggambarkan Jenderal Sudirman seolah-olah sedang memberikan hormat kepada rakyatnya. Jadi, pose itu bukan sekadar pilihan bentuk, tetapi bagian penting dari pesan yang ingin ditampilkan melalui patung.

Sosok yang diabadikan juga bukan tokoh sembarangan. Jenderal Sudirman dikenal sebagai Panglima Besar TNI pertama, dan penggambarannya dalam monumen ini menghadirkan sosoknya di ruang publik yang setiap hari dilalui masyarakat.

Didanai keluarga, lalu menjadi milik Pemprov DKI

Fakta lain yang menarik ada pada proses pengadaan patung. Katalog Galeri Nasional Indonesia menyebut pembuatannya didanai oleh keluarga Jenderal Sudirman. Setelah itu, patung disumbangkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekitar 2003.

Melansir dari keterangan resmi Galeri Nasional Indonesia mencatat Patung Jenderal Sudirman sebagai milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan pengelolaan berada di bawah Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta.

Dengan demikian, patung ini tidak hanya menjadi penanda visual di jalan protokol Jakarta, tetapi juga tercatat sebagai karya seni publik yang dimiliki pemerintah daerah.

Terhubung dengan deretan monumen ikonik Jakarta

Lokasi Patung Jenderal Sudirman berada di Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Menurut katalog Galeri Nasional Indonesia, titiknya berada pada satu garis kawasan monumen yang menghubungkan Patung Pemuda Membangun di kawasan Senayan, Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, hingga Monumen Nasional di Gambir, Jakarta Pusat.

Penempatan tersebut membuat patung ini menjadi bagian dari lanskap seni publik Jakarta. Warga mungkin mengenalnya sebagai landmark di jalan utama, tetapi keberadaannya juga memperlihatkan bagaimana karya seni ditempatkan di tengah ruang kota yang terus digunakan dan dilalui masyarakat. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Patung Jenderal Sudirman di Dukuh Atas bukan cuma monumen yang sering terlihat saat melintasi Jalan Sudirman. Karya Sunaryo ini dibuat pada 2003, menggunakan perunggu, dan memiliki tinggi sekitar 12 meter jika alasnya ikut dihitung. Pose hormatnya menggambarkan sang jenderal seolah memberikan hormat kepada rakyat, sementara sejarah pengadaannya mencatat peran keluarga Jenderal Sudirman sebelum patung tersebut disumbangkan kepada Pemprov DKI Jakarta.

Patung Sudirman Patung di Jakarta Sejarah Patung Sejarah Patung Sudirman Sejarah

Infografis

Terkini