Warga Hebron Diusir, Israel Sulap Rumah Sipil Jadi Pos Militer
astakom.com, Jakarta – Aksi sepihak kembali terjadi di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Pasukan Israel dilaporkan mengusir warga Palestina dari tempat tinggal mereka dan menguasai rumah-rumah tersebut untuk dijadikan barak militer serta pos pengamatan di Kota Hebron.
Pengusiran secara paksa ini berlangsung pada hari kedua operasi militer berskala besar yang diluncurkan Israel di wilayah Tepi Barat bagian selatan.
Pengusiran & penyitaan rumah
Berdasarkan laporan kantor berita resmi Palestina, WAFA, yang mengutip sejumlah sumber pada Sabtu (24/10/2026), pasukan Israel menduduki beberapa unit rumah warga di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun, Hebron selatan, untuk diubah fungsinya menjadi barak militer.
“Pasukan Israel memaksa warga meninggalkan rumah di lingkungan lain dan menggunakan bangunan tersebut sebagai pos pengamatan,” ucap sumber tersebut, dipansir dari Anadolu, Minggu,(25/10/2026).
Langkah pengusiran ini melengkapi pemindahan paksa ratusan keluarga yang terjadi sejak Jumat, di tengah gelombang penggerebekan massif, blokade akses jalan, hingga pembatasan ketat terhadap mobilitas masyarakat lokal.
Blokade & tindakan keras
Situasi memanas juga menjalar ke kawasan dekat Bethlehem. Pasukan Israel dilaporkan menutup rapat jalan-jalan tanah yang menjadi akses menuju Kota Tuqu.
Mengutip sumber keamanan Palestina, WAFA menyebutkan kalau tentara Israel tak segan menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang nekat melintas di jalur alternatif tak beraspal.
Akibat blokade ketat di Bethlehem serta desa-desa sekitarnya, masyarakat Palestina terpaksa mengandalkan jalur alternatif tak beraspal tersebut hanya untuk sekadar beraktivitas dan berpindah antarkomunitas.
Pemicu operasi militer
Aksi penutupan total terhadap akses Kota Hebron dan Halhul ini berawal pada Jumat, setelah dua warga Palestina melancarkan serangan ke pos pemeriksaan militer Israel.
Data resmi pihak Israel mencatat dua prajurit mereka tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Kedua warga Palestina yang melakukan serangan kemudian tewas ditembak pasukan Israel.
Pihak militer Israel menyampaikan konfirmasi pada Jumat bahwa operasi militer ini berpotensi bergulir selama beberapa hari ke depan. Fokus kegiatan mereka mencakup penggeledahan dari rumah ke rumah, proses interogasi, hingga perburuan senjata dan apa yang mereka klaim sebagai “infrastruktur teroris”.
Eskalasi panjang di Tepi Barat
Kawasan Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, terus mengalami eskalasi serangan militer Israel serta aksi kekerasan oleh pemukim Israel sejak tragedi genosida di Jalur Gaza meletus pada Oktober 2023.
Rangkaian tindakan keras tersebut mencakup penangkapan hingga pembunuhan warga Palestina, pembongkaran rumah dan fasilitas umum, pembakaran masjid serta armada kendaraan, hingga perataan area pertanian menggunakan alat berat buldoser.
Tak berhenti di situ, warga Palestina makin terimpit akibat pembatasan akses ke lahan pertanian mereka sendiri serta pengusiran paksa antarkomunitas, berbarengan dengan makin masifnya perluasan permukiman Israel yang secara hukum internasional berstatus ilegal. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Krisis kemanusiaan di Tepi Barat makin intens pasca-eskalasi Oktober 2023. Tindakan pengusiran paksa warga dari rumahnya sendiri buat dijadikan barak militer bukan cuma pelanggaran ruang aman sipil, tapi juga bentuk power abuse yang membatasi hak paling dasar manusia: tempat tinggal dan kebebasan bergerak.







