Respons Tawaran Luar Negeri soal Karhutla, BNPB: Kalau Kita Sudah Punya, Kenapa Harus Minta?

Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 22 Oktober 2026 | 18:34 WIB
Respons Tawaran Luar Negeri soal Karhutla, BNPB: Kalau Kita Sudah Punya, Kenapa Harus Minta?
Gubernur Sumsel Herman Deru dan Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi rakor karhutla di Lanud SMH Palembang, Minggu (18/10/2026). [Diskominfo Sumsel]

astakom.com, Jakarta - Sikap terbuka namun tetap selektif ditunjukkan pemerintah dalam merespons niat baik negara sahabat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini sedang sibuk menginventarisasi tawaran bantuan internasional demi memastikan setiap bentuk dukungan bisa terpakai secara maksimal dan tepat sasaran.

Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi menegaskan bahwa Indonesia baru akan menerima bantuan asing apabila peralatan atau spesifikasi kebutuhan penanganan karhutla memang belum atau tidak tersedia di dalam negeri.

"Ya sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita, saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi bantuan apa saja gitu ya. Sehingga nanti kalau emang kita tidak bisa dan alatnya tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran, gitu ya," ujar Kristomei di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Singapura sudah kirim surat, BNPB kaji jenis bantuan yang match

Kristomei membocorkan bahwa Singapura jadi salah satu negara tetangga yang sudah melayangkan surat penawaran bantuan secara resmi. Kendati begitu, tim BNPB masih terus melakukan peninjauan intensif agar jenis bantuan yang masuk benar-benar sesuai kebutuhan aktual di lapangan.

Prinsipnya, Indonesia tidak perlu merepotkan pihak asing untuk penyediaan alutsista atau armada yang dasarnya sudah dimiliki armada nasional. Kristomei mencontohkan keberadaan pesawat Hercules C-130 yang aktif dipakai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan mobilisasi logistik.

"Ya saya kira kalau emang kita butuh dan kita nggak punya ya, why not? Tapi kalau kita punya kenapa harus susah-susah minta. Gitu ya. Toh kalau contoh pesawat Hercules, negara lain menawarkan ini lho ada pesawat C-130, lha kita juga ada, kan lebih efektif kita gunakan, ya. Kenapa harus kita pinjem," jelasnya.

Utamakan kemandirian: kebutuhan dasar dan masker masih cukup

Selain aspek armada udara, BNPB juga menekankan pentingnya efisiensi logistik dasar seperti stok air minum hingga masker medis untuk warga terdampak asap. Kristomei menilai barang-barang pemenuhan kebutuhan dasar tersebut masih bisa dicukupi sendiri oleh sumber daya dalam negeri tanpa perlu bergantung pada bantuan luar negeri.

"Kita usaha sendiri dulu. Kalau kayak bantuan air minum, kan kita juga punya air minum, bantuan masker kita juga punya gitu. Kita juga kepakai kok gitu ya," sambung Kristomei.

Langkah filterisasi ini penting dilakukan agar bantuan internasional tidak tumpang tindih (overlapping) dengan inventaris milik pemerintah yang sudah siap pakai di lapangan. (RaM)

Gen Z Takeaway

BNPB mengambil sikap mandiri dan terukur dalam merespons tawaran bantuan penanganan karhutla dari negara sahabat, termasuk Singapura yang sudah berkirim surat resmi. Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi menegaskan bahwa Indonesia memilih mengoptimalkan sumber daya sendiri terlebih dahulu mulai dari pesawat Hercules C-130 untuk OMC hingga ketersediaan masker dan air minum dan baru membuka pintu bantuan internasional jika memerlukan peralatan khusus yang belum dimiliki di dalam negeri demi menjaga bantuan tetap tepat sasaran.

BNPB Kepala BNPB Kristomei Sianturi bantuan asing Bantuan BNPB Karhutla

Infografis

Terkini