Bahas AI hingga Hak Pekerja, WCCE 2026 Siapkan 4 Pilar Ekraf
astakom.com, Jakarta – Indonesia bersiap mempertegas kepemimpinannya di panggung global melalui penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 21–23 Oktober 2026.
Forum internasional edisi kelima ini disiapkan untuk menyusun landasan baru masa depan ekonomi kreatif dunia, mulai dari integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga perlindungan hak-hak pekerja kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan kalau WCCE 2026 bukan sekadar agenda seremoni, melainkan panggung strategis bagi Indonesia dalam memperkuat reputasi sekaligus mendorong ekonomi kreatif masuk ke dalam agenda pembangunan global pasca-SDGs 2030. Forum ini diselenggarakan berdasarkan amanah Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (RINDEKRAP) serta RPJPN 2025–2029.
"Bagi Indonesia, WCCE bukan hanya forum internasional, melainkan kesempatan strategis untuk membawa potensi kreativitas kita ke panggung global," tutur Menekraf Teuku Riefky Harsya kepada wartawan saat konferensi pers WCCE di gedung Badan Komunikasi Pemerintah RI pada Kamis, (15/10/2026).
Guna menyelaraskan arah perkembangan ekonomi kreatif global, WCCE 2026 bakal menghasilkan dokumen kesepakatan bersama bertajuk Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen ini memuat 4 pilar utama yang menjadi kerangka aksi masa depan ekraf dunia.
Pilar utama
Pilar pertama berfokus pada teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital. Pilar kedua menyoroti keberlanjutan ekonomi sirkular dan desain regeneratif. Pilar ketiga menekankan pelindungan kekayaan intelektual (KI) serta hak-hak pekerja kreatif. Adapun pilar keempat mencakup inklusivitas ekosistem kreatif dan pemberdayaan komunitas. Dokumen kesepakatan ini nantinya ditargetkan menjadi dasar usulan resolusi ekonomi kreatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Prinsip dasar
Mengusung tema "Inclusively Creative, Collectively Continuity", WCCE 2026 menekankan tiga prinsip dasar: inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan. Forum ini mempertemukan seluruh elemen ekosistem ekraf mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, asosiasi, media, hingga lembaga keuangan.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 1.500 partisipan dari 51 negara dan 7 organisasi internasional dipastikan hadir dalam konferensi tiga hari tersebut. Kehadiran para pembawa pengaruh dan pemangku kepentingan dunia ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan (knowledge sharing) serta praktik terbaik (best practice) bagi para pelaku ekraf nasional.
Creative Village SCBD
Rangkaian kegiatan WCCE 2026 dirancang memadukan sesi diskusi formal dengan pameran publik di dua lokasi berbeda di Jakarta. Konferensi utama bakal digelar di Hotel Indonesia Kempinski, sedangkan pameran Creative Village dipusatkan di kawasan SCBD.
Daya tarik Creative Village diperkirakan mampu mendatangkan hingga lebih dari 20.000 pengunjung selama lima hari penyelenggaraannya. Lokasi ini bakal menampilkan berbagai hasil karya, inovasi, serta etalase produk kreatif unggulan tanah air kepada masyarakat umum dan tamu internasional.
Dampak ekonomi langsung
Selain memperkuat diplomasi budaya dan regulasi, WCCE 2026 ditargetkan memberikan dampak ekonomi langsung bagi Indonesia melalui peningkatan peluang investasi dan perluasan akses pasar internasional. Manfaat dari masuknya modal serta kerja sama global ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri papan atas di ibu kota, tetapi juga menjangkau para kreator di berbagai daerah.
"Keberhasilan WCCE ini tidak hanya ditentukan oleh kelancaran penyelenggaraan, tetapi juga oleh gagasan, kemitraan, dan tindak lanjut yang lahir setelah konferensi," tutup Teuku Riefky. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
WCCE 2026 fix jadi ajang game changer buat masa depan industri kreatif lokal! Nggak cuma bahasan AI sama hak kreator biar nggak kena art theft atau slay di pasar global, bakal ada Creative Village di SCBD yang siap bikin lo ter-WIBU (Waktu Indonesia Bagian Unggul) bareng karya-karya lokal super kece. Definitely zero skip!









