Menkomdigi Bahas Peluang Kerja Sama Pusat Data dan Infrastruktur Komputasi Indonesia-Finlandia
astakom.com, Jakarta – Indonesia dan Finlandia menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan pusat data dan infrastruktur komputasi. Kolaborasi ini berpotensi mendukung kebutuhan teknologi kecerdasan artifisial (AI), penguatan kapasitas komputasi, serta pengembangan layanan publik berbasis digital.
Melansir dari keterangan resmi Komdigi pada Kamis, (15/10/2026), pembahasan tersebut berlangsung saat Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menerima audiensi Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia Ville Tavio di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, pada Rabu (14/10/2026).
Pertemuan itu turut membahas pemanfaatan teknologi dan pengembangan ekosistem digital untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur digital Indonesia yang andal dan merata.
Indonesia pertimbangkan pemerataan lokasi pusat data
Meutya menyampaikan bahwa pembangunan pusat data perlu memperhitungkan kebutuhan kapasitas komputasi, pemilihan lokasi, serta kesiapan infrastruktur pendukung. Pemerintah juga berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk memastikan perencanaan pembangunan sesuai dengan kebutuhan nasional dan kondisi geografis Indonesia.
“Kami tengah berkoordinasi dengan menteri-menteri lain untuk menentukan lokasi yang tepat serta melakukan perhitungan yang akurat dalam pembangunan pusat data,” ujar Meutya.
Luas wilayah Indonesia menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi pusat data. Meutya menyoroti bahwa sebagian besar fasilitas tersebut masih terkonsentrasi di satu wilayah. Karena itu, diversifikasi lokasi diperlukan untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan komputasi sekaligus mendukung pemerataan infrastruktur digital.
Dalam pertemuan tersebut, Meutya juga menyinggung keterlibatan Nokia, perusahaan teknologi asal Finlandia, dalam proyek pusat data bersama Indosat. Keterlibatan ini menjadi salah satu contoh peluang kemitraan teknologi antara kedua negara.
“Ini adalah tonggak pencapaian penting, tidak hanya bagi perusahaan Indonesia tetapi juga bagi Nokia, sebagai perusahaan Finlandia, untuk terlibat dalam salah satu proyek pusat data terbesar Indonesia,” ujarnya.
Infrastruktur komputasi untuk mendukung layanan publik
Penguatan infrastruktur komputasi juga berkaitan dengan pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan masyarakat. Salah satu contoh yang disampaikan Meutya adalah digitalisasi perlindungan sosial yang sedang diuji coba pemerintah untuk meningkatkan ketepatan sasaran penerima bantuan.
Program tersebut direncanakan diperluas ke berbagai wilayah. Dengan perkiraan sekitar 50 juta penerima manfaat, dukungan infrastruktur digital dan AI menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan layanan tersebut.
“Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 50 juta penerima manfaat yang akan menerima bantuan dalam bentuk tunai. Hal ini tentu membutuhkan infrastruktur digital dan infrastruktur AI yang memadai,” tegas Meutya.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur digital merupakan bagian dari Visi Digital Indonesia 2045 yang berlandaskan tiga pilar, yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga.
Ketiga pilar tersebut mencakup penguatan konektivitas, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi digital, serta perlindungan masyarakat melalui ekosistem digital yang aman dan tepercaya.
Finlandia buka peluang kolaborasi teknologi
Sementara itu, Ville Tavio menyampaikan bahwa Finlandia memiliki pengalaman dalam pengembangan pusat data yang didukung kondisi iklim, ketersediaan energi, dan kemajuan teknologi.
Menurut Tavio, suhu yang relatif rendah di Finlandia membantu mengurangi kebutuhan pendinginan pusat data. Ia juga menyebut lebih dari 95 persen pasokan listrik negaranya berasal dari sumber yang bebas bahan bakar fosil.
“Sebagian besar listrik kami, yakni lebih dari 95 persen bebas bahan bakar fosil. Ini merupakan hal yang sangat baik bagi kami. Dengan demikian, sistem kami juga sangat mandiri,” jelas Tavio.
Selain pusat data, Finlandia melihat peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan komputasi kuantum, AI, infrastruktur jaringan, dan peningkatan kapasitas digital.
Tavio turut menyinggung potensi keterlibatan perusahaan Finlandia dalam pembangunan pusat data di Indonesia, termasuk melalui Nokia. Peluang lainnya mencakup kemungkinan kolaborasi dalam perencanaan kota pintar di Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami ingin meningkatkan partisipasi kami, khususnya dalam kerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.
Menurut Tavio, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dapat membuka kesempatan bagi perusahaan Finlandia untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur dan layanan digital. Pemerintah Finlandia juga menyatakan kesiapan untuk menyampaikan informasi mengenai peluang pengadaan dan tender publik di Indonesia kepada perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang terkait.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan peluang kolaborasi untuk mempertemukan kebutuhan Indonesia dalam pengembangan infrastruktur komputasi dengan pengalaman teknologi Finlandia. Bentuk kerja sama lebih lanjut masih perlu ditindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan dan peluang yang dapat dikembangkan bersama. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Pusat data menjadi salah satu infrastruktur penting di balik perkembangan layanan digital. Ketika pemanfaatan AI semakin dibutuhkan, termasuk untuk mendukung pelayanan publik, kapasitas komputasi yang memadai ikut menjadi perhatian. Karena itu, pengembangan pusat data bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang menyiapkan infrastruktur yang dapat menopang kebutuhan digital Indonesia ke depan.









