Sering Kurang Tidur? Dokter Jelaskan Kaitannya dengan Proses Penuaan Tubuh
astakom.com, Jakarta - Kurang tidur sesekali mungkin bukan masalah besar. Namun, jika terus menjadi kebiasaan, tubuh bisa kehilangan waktu penting untuk melakukan proses pemulihan, termasuk memperbaiki sel dan jaringan.
Melansir dari artikel Parade pada Minggu, (20/09/2026), kurang tidur kronis disebut berkaitan dengan peningkatan stres oksidatif dan inflamasi. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap proses penuaan biologis.
Penjelasan ini disampaikan Dr. Sara Vaughn, ahli endokrinologi, dan Dr. Tommy Wood, neuroscientist. Keduanya menjelaskan dampak kurang tidur terhadap proses perbaikan sel, sistem kekebalan tubuh hingga kondisi kulit.
Tubuh butuh tidur untuk recovery
Dr. Sara Vaughn menjelaskan bahwa tidur menjadi salah satu waktu penting bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
“Kurang tidur secara kronis mengganggu kemampuan tubuh untuk memperbaiki dan mengganti jaringan yang rusak. Tidur merupakan waktu yang penting untuk perbaikan sel,” ujar Dr. Sara Vaughn mengutip dari artikel Parade.
Menurut Vaughn, kurang tidur yang berulang juga dapat meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi. Jika berlangsung lama, kerusakan dapat menumpuk lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh untuk memperbaikinya.
Begadang bikin respons stres ikut naik
Dr. Tommy Wood menjelaskan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres kortisol. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh.
“Jika kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama, hormon tersebut dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya menjalankan tugas seperti mengenali sel-sel senesen atau sel yang menua untuk dibersihkan agar tidak menumpuk dan menimbulkan masalah lebih lanjut,” jelas Wood.
Kurang tidur juga dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres. Kondisi ini dapat mendorong pelepasan sitokin yang berperan dalam inflamasi.
Efeknya bisa kelihatan di kulit
Dampak kurang tidur juga dapat terlihat pada kulit. Parade mengutip penelitian terhadap 24 perempuan yang menemukan bahwa pembatasan tidur selama dua malam berkaitan dengan berkurangnya hidrasi dan elastisitas kulit, meningkatnya kehilangan air serta kerusakan oksidatif.
Wood menjelaskan, kurang tidur juga dapat memengaruhi sel yang berperan dalam pembaruan kulit. Kondisi tersebut berkaitan dengan kortisol, stres oksidatif, dan inflamasi yang dapat memengaruhi produksi kolagen serta elastin.
Parade turut mengutip penelitian yang menemukan peningkatan penuaan kulit pada orang yang tidur kurang dari 6,5 jam per malam. Namun, temuan tersebut merupakan hasil penelitian tertentu dan bukan berarti setiap orang yang tidur di bawah angka tersebut otomatis mengalami penuaan kulit lebih cepat. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kurang tidur bukan cuma bikin bangun terasa capek. Jika terus menjadi kebiasaan, waktu tubuh untuk recovery dan memperbaiki sel juga bisa ikut terganggu.









