Spill Sejarah Berdirinya Pesantren Gontor Menjelang Usianya Satu Abad
astakom.com, Jakarta – Pondok Modern Darussalam Gontor atau PMDG merupakan lembaga pendidikan berbasis pesantren yang berada di Ponorogo, Jawa Timur. Gontor didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga bersaudara, yakni K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi.
Melansir dari keterangan resmi Pondok Modern Darussalam Gontor pada Jumat (18/09/2026), Gontor memiliki visi sebagai lembaga pendidikan pencetak kader pemimpin umat, tempat menuntut ilmu, sekaligus sumber pengetahuan Islam, bahasa Al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum dengan tetap berjiwa pesantren.
Memasuki usia satu abad pada 2026, Gontor mempertahankan sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran di ruang kelas. Kehidupan pondok, kegiatan santri, pembinaan karakter, hingga berbagai aktivitas organisasi dan keterampilan juga ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan.
Awal berdiri dan visi Gontor
Perjalanan Gontor dimulai pada 1926. Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan ini membangun sistem yang memadukan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum dengan tetap mempertahankan karakter pesantren.
Gontor memiliki empat motto pendidikan, yaitu berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Nilai tersebut kemudian dirangkum dalam Panca Jiwa, yang terdiri dari keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan jiwa bebas.
Orientasi pendidikan Gontor mencakup keislaman, keilmuan, dan kemasyarakatan. Sementara itu, tujuan pendidikannya antara lain membentuk generasi yang beriman, berakhlak, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, serta mampu berkhidmat kepada masyarakat.
KMI jadi sistem utama belajar
Salah satu bagian penting dalam sistem pendidikan Gontor adalah Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyah atau KMI. KMI didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi pada 19 Desember 1936 sebagai sekolah tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun.
KMI dirancang untuk mencetak guru-guru Islam dengan sistem pesantren. Pembelajaran ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum diberikan secara seimbang. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris juga menjadi bagian dari sistem pembelajaran, termasuk penggunaan bahasa pengantar sesuai materi yang diajarkan.
Kurikulum KMI mencakup Bahasa Arab, Ulum Islamiyah, keguruan, Bahasa Inggris, ilmu pasti seperti matematika dan IPA, ilmu pengetahuan sosial, serta keindonesiaan dan kewarganegaraan.
Dengan sistem tersebut, pembelajaran di Gontor tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi akademik. Santri juga mendapatkan pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan pesantren dan pengembangan kemampuan untuk menjalani kehidupan bermasyarakat.
Kehidupan pondok jadi ruang belajar
Gontor menempatkan kehidupan pondok sebagai bagian dari media pembelajaran dan pendidikan. Karena itu, proses pendidikan tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar di kelas selesai.
Kegiatan santri mencakup pramuka, olahraga, kesenian, latihan pidato dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, khutbah Jumat, diskusi, kursus komputer, praktik laboratorium bahasa, kursus jurnalistik, membaca buku di perpustakaan, keterampilan, hingga praktik manajemen organisasi dan koperasi.
Evaluasi KMI juga dilakukan melalui ujian lisan, tulis, dan praktik. Dalam kegiatan tahunan, santri mengikuti antara lain kajian kitab klasik dan kontemporer, latihan membuka kamus Arab, praktik mengajar, penulisan karya ilmiah, economic study tour, serta manasik haji. (nAD/RaM)
Gen Z takeaway
Kalau dibikin simpel, Gontor bukan cuma tempat belajar agama, tetapi lembaga pendidikan berbasis pesantren yang menggabungkan ilmu agama dan umum, bahasa, kehidupan asrama, organisasi, keterampilan, serta berbagai aktivitas santri dalam satu sistem pendidikan. Jadi, ruang belajarnya tidak sebatas kelas, karena aktivitas sehari-hari di lingkungan pondok juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang telah dikembangkan Gontor sejak berdiri pada 1926 dan kini memasuki momentum satu abad.









