100 Tahun Gontor: Menghidupkan Kembali Spirit Jiwa Pesantren Asuhan Pak Zarkasyi

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 19 September 2026 | 11:32 WIB
100 Tahun Gontor: Menghidupkan Kembali Spirit Jiwa Pesantren Asuhan Pak Zarkasyi
100 Tahun Gontor: Menghidupkan Kembali Spirit Jiwa Pesantren Asuhan Pak Zarkasyi (Gontor.ac.id)

astakom.com, Jakarta – Tahun 2026 ini, Pondok Modern Darussalam Gontor resmi menginjak usia 100 tahun. Sebagai bentuk unrealized rasa syukur yang luar biasa, persiapan serangkaian agenda peringatan seabadnya bahkan sudah digas sejak 2023. Salah satunya lewat peluncuran logo resmi 100 tahun Gontor pada 8 Agustus 2023 lalu.

“Spirit dari logo ini adalah perjuangan tanpa kenal lelah Gontor untuk berkontribusi dalam pembangunan peradaban melalui pendidikan,” tutur Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Umum Peringatan 100 Tahun Gontor dikutip oleh astakom pada Jumat, (18/09/2026).

Filosofi logonya keren banget. Angka 100 ditampilkan lewat angka 1 berwarna hijau yang membentuk Menara Gontor, bersanding dengan dua angka 0 berwarna emas yang saling terjalin simbol endless ketakterbatasan dan kesinambungan. Di bagian tepi angka, tersemat aksen merah, hijau, dan putih yang menjadi panji sekalian brand colour khas Gontor.

Filosofi Logo & Puncak Acara

Puncak acaranya bakal dilaksanakan di tanggal 18–20 September 2026.

Rundown puncaknya dimulai Jumat, 18 September 2026, diawali khotmul Qur’an yang diikuti serentak oleh seluruh pondok, pondok alumni, UNIDA putra-putri, hingga para alumni di mana pun berada. Begitu selepas magrib, seluruh santri dan alumni yang hadir bakal menggelar sujud syukur bersama.

Hari berikutnya, Sabtu, 19 September 2026, jadi highlight utama lewat Resepsi Kesyukuran, lalu disambung malam harinya dengan dua agenda paralel khusus alumni. Rangkaian momen bersejarah ini ditutup manis pada Ahad, 20 September 2026 pagi lewat senam bareng dan Reuni Akbar mulai pukul 08.00 WIB.

Membangun Peradaban Lewat Pendidikan

Selaras dengan visual logonya, tema besar yang diusung adalah: Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama. Lewat pesan ini, Gontor menegaskan komitmennya untuk terus stay solid dan istiqamah membangun peradaban di atas pijakan nilai-nilai Islam.

Gontor sendiri terbukti jadi salah satu top-tier lembaga pendidikan terbaik di negeri ini. Berdiri sejak 1926 dan "disegarkan" pada 1936, pesantren ini konsisten melahirkan jebolan yang membawa dampak nyata.

Dampak positif para alumninya sudah diakui luas oleh umat dan bangsa. Sebut saja dua nama besar seperti Hasyim Muzadi (Ketua PB NU 2000–2010) dan Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005–2015).

Tentu ada banyak insight berharga kalau kita menelisik pemikiran salah satu pendirinya, yaitu KH Imam Zarkasyi (1910–1985). Beliau merupakan bungsu dari Tiga Bersaudara pendiri Gontor, bersama dua kakaknya: KH Ahmad Sahal (1901–1977) dan KH Zainuddin Fanani (1908–1967).

Pesan Amal Jariyah Pak Zarkasyi

Dalam pandangan Pak Zar sapaan akrab KH Imam Zarkasyi, sebuah karya berkaitan erat dengan prinsip amal jariyah yang memberi kemanfaatan buat sesama. Pemikiran ini terekam jelas dalam buku KH Imam Zarkasyi: Dari Gontor Merintis Pesantren Modern (2016: 263–267).

Makin luas manfaat karya seseorang untuk lingkungan sekitarnya, makin besar pula bobot amal jariyahnya. Di saat yang sama, karya penuh manfaat itu adalah bentuk ibadah, bukti ketakwaan, sekaligus metric keberhasilan sesungguhnya dari seorang individu.

Inspirasi ini sejalan dengan tekad legendaris Pak Zar saat mulai merintis sistem pesantren modern:

“Apabila saya tidak berhasil mengajar melalui pesantren, maka saya akan mengajar dengan pena.” ucapnya.

Kalau ditarik garis lurus, tema 100 tahun Gontor tadi beririsan sempurna dengan mindset yang dicanangkan Pak Zar sejak dulu. Bukankah aktif menulis adalah bagian dari nilai Islam? Dan bukankah inti dari mengajar adalah mencetak peradaban?.

Jejak Pengaruh dan Output Alumni

Kembali lagi ke soal karya. Menurut Pak Zar, karya terbaik bisa berwujud keberhasilan anak-anak didiknya.

Banyak di antaranya yang mendirikan sekaligus memimpin pesantren hingga tumbuh jadi institusi raksasa. Sebut saja Pesantren Pabelan-Magelang, Pesantren Darunnajah Jakarta, Pesantren Al-Husnayain Jakarta, hingga Pesantren Al-Amien Sumenep.

Tak sedikit pula yang jadi key figures nasional selaku alumni Gontor, seperti KH Idham Chalid (mantan Ketua Umum PBNU & Ketua MPR/DPR) serta Dr. Hidayat Nurwahid (Ketua MPR 2004–2009).

Di luar itu, jajaran alumni Gontor yang sukses jadi pebisnis andal maupun penulis kondang jumlahnya sangat melimpah. Bahkan, tak terhitung alumni yang memilih bekerja hening tanpa exposure publikasi, namun tetap gigih menebar manfaat besar bagi masyarakat sekitarnya. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Momen seabad Gontor ngingetin kita kalau legacy dan karya sejati itu nilainya diukur dari seberapa luas dampak positif yang bisa kita bagi ke orang lain. Lewat mindset kiai pendirinya, kita diajarin buat tetap konsisten berkarya dan stay grounded—baik lewat tulisan, aksi nyata, maupun ilmu—tanpa harus melulu ngejar clout atau exposure publik demi ngasih impact yang beneran riil buat sekitar.

Gontor 100 Tahun Gontor Pondok Modern Darussalam Gontor Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

Infografis

Terkini