QRIS Makin Go International, BI Jajaki Arab Saudi hingga Australia

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 17 September 2026 | 11:00 WIB
QRIS Makin Go International, BI Jajaki Arab Saudi hingga Australia
QRIS Makin Go International, BI Jajaki Arab Saudi hingga Australia (astakom/Bank Indonesia)

astakom.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) gaspol memperluas penggunaan QRIS Cross Border ke berbagai negara. Sebelumnya, BI telah berhasil menghubungkan penggunaan QRIS ke enam negara, sekarang QRIS masuk ke kerja sama baru yakni dengan Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI Fitria Irmi Triswati ngespill kalau penjajakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas konektivitas pembayaran regional.

“Kita sedang menjajaki dengan teman-teman di India, dengan teman-teman di Saudi Arabia, dengan teman-teman di Vietnam, kemudian juga Australia kita juga rapat bareng, kita jajaki (potensi kerja sama). Jadi regional payment connectivity itu semakin luas. Nanti tidak hanya dengan QRIS, tapi juga dengan BI-FAST-nya di Indonesia,” kata Fitria di Jakarta, dikutip astakom.com pada Rabu (16/09/2026).

Perkembangan signifikan

Dia menilai perkembangan QRIS ini berlangsung pesat sejak pertama kali diadopsi pada 2019. Jadi bisa dibilang inovasi QRIS ini laku keras di pasaran. Tercatat pertumbuhan itu makin terdorong saat pandemi COVID-19, saat transaksi digital menjadi salah satu solusi pembayaran bagi masyarakat.

Sekarang QRIS udah menjangkau 15 miliar transaksi dari target 17 miliar transaksi. Jumlah merchant yang pakai QRIS mencapai 45 juta unit usaha dari target 47 juta merchant. Lalu, jumlah pengguna QRIS udah mencapai 78 juta. Angka itu sudah menembus target yang ditetapkan, yakni 70 juta pengguna.

QRIS cross border 

Buat pembayaran atau transaksi lintas negara, QRIS Cross Border udah terhubung dan bisa dipake di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Fitria bilang kalau perluasan QRIS Cross Border nggak sesederhana cuma  melakukan penambahan negara mitra, tapi BI juga akan memperhatikan karakteristik. Ditambah lagi BI akan melihat dan mempertimbangkan kebiasaan masyarakat di masing-masing negara.

Dia bilang kalau preferensi masyarakat buat bayar atau bertransaksi pakai QR bisa berbeda tiap negara. Makanya sistem pembayaran perlu disesuaikan supaya memudahkan masyarakat dan merchant. Sehingga penggunaannya lebih adaptif dan efisien.

Metode penggunaan QRIS beda-beda

Contohnya, masyarakat Jepang dan Korea Selatan cenderung lebih menyukai metode ketika merchant memindai kode QR yang ditampilkan pengguna. Lalu masyarakat di sejumlah negara Eropa prefer pake metode pembayaran dengan melakukan tap QRIS, jadi transaksinya dilakukan tanpa perlu memindai kode QR secara manual.

“Jadi perluasan negaranya, kemudian perluasan kualitas merchant-nya, dan juga perluasan fitur-fitur yang tadi. Jadi tidak hanya scan, tetapi juga CPM (Customer Presented Mode/QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM)), dan juga QRIS-Tap,” katanya.

Selain memperluas negara yang terhubung, BI juga ngepush peningkatan kualitas dan cakupan merchant yang bisa menerima transaksi QRIS. Pengembangan fitur pembayaran turut menjadi bagian dari strategi tersebut, termasuk CPM atau QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM) dan QRIS-Tap. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

QRIS makin gaspol go international. Setelah terhubung ke 6 negara, BI kini menjajaki kerja sama dengan Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia. Bukan cuma nambah negara, BI juga bakal menyesuaikan QRIS dengan kebiasaan pembayaran tiap negara, plus mengembangkan fitur seperti QRIS Tanpa Tatap Muka dan QRIS-Tap.

QRIS Bank Indonesia (BI) QRIS Cross Border transaksi QRIS

Infografis

Terkini