BIG Susun Peta Bahaya Banjir untuk Perkuat Mitigasi Sumatera hingga 2028

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 17 September 2026 | 18:31 WIB
BIG Susun Peta Bahaya Banjir untuk Perkuat Mitigasi Sumatera hingga 2028
BIG Susun Peta Bahaya Banjir untuk Perkuat Mitigasi Sumatera hingga 2028 (Dok. Bakom RI)

astakom.com, Jakarta - Upaya membaca risiko banjir di Sumatera kini diperkuat lewat pemetaan yang dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Data yang dikumpulkan bukan cuma untuk mencatat wilayah yang sudah terdampak, tetapi juga membantu pemerintah menyiapkan langkah pemulihan dan mitigasi berikutnya.

Melansir dari keterangan resmi yang di terima astakom.com pada Kamis,(17/09/2026) pemetaan ini berkaitan dengan banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025. Tim BIG sudah bergerak ke sejumlah lokasi untuk melihat kondisi wilayah setelah banjir dan mengumpulkan data yang dibutuhkan.

Pekerjaan tersebut ditargetkan berjalan hingga 2028. BIG menyasar 52 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut, sekaligus membuka pemetaan untuk wilayah lain yang memiliki potensi bahaya banjir. Kegiatan ini menjadi bagian dari keterlibatan BIG dalam Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) di bidang data.

Peta dibuat untuk membaca risiko

Data yang dikumpulkan BIG nantinya akan disandingkan dengan berbagai informasi geospasial agar kondisi dan karakter bahaya banjir di tiap daerah bisa terlihat lebih lengkap.

BIG juga berupaya menyediakan data dengan standar dan acuan yang sama. Dengan begitu, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dapat menggunakan informasi tersebut saat menentukan langkah penanganan pascabencana.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Antonius B. Widjanarto menjelaskan, penggunaan referensi geospasial yang sama penting agar berbagai pihak mengambil keputusan berdasarkan data yang konsisten.

“Penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengetahui berapa besar kerusakan, tetapi juga harus diketahui secara tepat di mana lokasi terdampak, bagaimana karakteristik bahayanya, serta bagaimana kondisi wilayah tersebut sebelum dan setelah bencana. Informasi geospasial menjadi salah satu fondasi untuk memastikan intervensi rehabilitasi dan rekonstruksi tepat lokasi, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Antonius, dikutip Kamis (17/09/2026).

Bukan cuma soal genangan

BIG tidak hanya mencari tahu wilayah mana yang pernah kebanjiran. Pemetaan juga diarahkan untuk melihat potensi genangan, luas area terdampak, serta kedalaman banjir dengan mempertimbangkan kondisi topografi.

Untuk membaca kondisi tersebut, BIG menggunakan beragam informasi, mulai dari topografi, bentuk dan karakter permukaan bumi, citra satelit radar, jaringan sungai, garis pantai, penggunaan lahan, hingga data geospasial tematik lainnya.

Data tersebut kemudian dikaitkan dengan catatan kejadian banjir dan informasi pendukung dari kementerian/lembaga. Hasilnya diharapkan memberi gambaran yang lebih seragam antarwilayah untuk menentukan prioritas pemulihan, pembangunan kembali infrastruktur, hingga perencanaan ruang.

“Data yang kami bangun diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat digunakan sebagai referensi bersama dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Antonius.

Bisa dipakai untuk relokasi

Salah satu pemanfaatan peta bahaya banjir yang mulai diarahkan ke kebutuhan lapangan adalah penilaian lokasi relokasi sekolah yang terdampak banjir di Aceh.

Informasi mengenai bahaya di suatu lokasi dapat membantu pemerintah mempertimbangkan calon tempat relokasi. Dengan begitu, pembangunan kembali fasilitas pendidikan dapat memperhitungkan risiko banjir di lokasi barunya.

Pemanfaatannya juga dapat diperluas untuk menentukan wilayah prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi, melihat kawasan dengan bahaya banjir tinggi, serta menjadi bahan pertimbangan pembangunan infrastruktur, permukiman, dan fasilitas publik.

Informasi tersebut juga dapat mendukung kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, penataan ruang berbasis risiko, dan pemantauan perubahan wilayah setelah bencana.

Bagi BIG, data pascabanjir penting untuk melihat perubahan kondisi suatu wilayah. Pola dan kedalaman genangan, topografi, jaringan sungai, perubahan bentuk permukaan serta penggunaan lahan, hingga lokasi infrastruktur dan permukiman terdampak dapat menjadi baseline untuk mengevaluasi risiko banjir.

Dengan basis data tersebut, proses pemulihan di Sumatera diarahkan bukan hanya untuk mengembalikan wilayah seperti sebelum banjir. Informasi geospasial diharapkan ikut membantu pemerintah menyiapkan wilayah yang lebih aman dan tangguh menghadapi risiko banjir ke depan. (deA/aNs)

Gen Z takeaway

Peta banjir ini bukan sekadar menunjukkan daerah yang kebanjiran. Data tersebut dipakai untuk menentukan langkah berikutnya agar pemulihan dan mitigasi bisa lebih tepat sasaran.

Badan Informasi Geospasial (BIG) BIG Mitigasi Bencana Pascabanjir Sumatera Sumatera Pulih

Infografis

Terkini