Apa Itu Beras Fortifikasi? Simak Pengertian, Manfaat, hingga Bedanya dengan Beras Biasa

Penulis: Hapsari
Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 17 September 2026 | 08:08 WIB
Apa Itu Beras Fortifikasi? Simak Pengertian, Manfaat, hingga Bedanya dengan Beras Biasa
Pengertian beras fortifikasi dan bedanya dengan beras biasa (Gemini AI-astakom.com)

astakom.com, Jakarta - Lagi ramai banget soal beras fortifikasi palsu yang selama ini diduga beredar di masyarakat. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap 25 daftar merek beras yang diduga merupakan beras fortifikasi palsu.

Deretan merek tersebut diduga tidak memenuhi standar mutu dan kandungan gizi, tetapi tetap dijual dengan harga yang cukup mahal.

Pemerintah kemudian bergerak untuk menarik produk-produk tersebut dari pasar, mencabut izin usaha, serta memproses hukum pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini.

Hal tersebut diungkap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (15/09/2026).

Tak hanya kandungan gizinya yang menjadi sorotan, harga jual beras tersebut juga ikut dipermasalahkan. Menurut Mentan Amran, ada beras yang mengalami markup hingga dijual seharga Rp57.000 per kilogram, padahal harga aslinya hanya sekitar Rp13.000 per kilogram.

Berikut 25 merek beras fortifikasi yang disebut dalam hasil pemeriksaan laboratorium dan diungkap kepada publik:

  1. Idola Fortifikasi
  2. Idola High Quality Whole Grain Rice
  3. Idola Long Grain Rice
  4. Ikan Mas Cupang
  5. AAA Wijaya Kusuma
  6. Cantik Manis
  7. Penari Bangkok
  8. Topi Koki Short Grain
  9. Topi Koki Setra Royale
  10. Topi Koki Long Grain Crystal
  11. HOK-1 Gohan
  12. Maknyuss Pulen Gizi
  13. Anak Raja Fortifikasi
  14. Anak Raja Nusantara
  15. Top Anak Raja
  16. PMS Induk Ayam
  17. Sumo
  18. Rasvit
  19. FS Nutri Rice
  20. Pelikan
  21. Rice Rojolele
  22. Super Kepala Beras Premium 111
  23. 111 Golden Number
  24. Putri Koki
  25. Wellfarm Beras Diabet

Apa itu beras fortifikasi?

Sistem fortifikasi pada makanan sebenarnya bukan hal baru. Garam beryodium, tepung terigu, hingga minyak goreng yang ditambahkan vitamin A merupakan beberapa contoh fortifikasi yang sudah lama diterapkan. Kini, beras juga menjadi salah satu bahan pangan yang dapat difortifikasi.

Mengutip laman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, beras fortifikasi adalah beras yang sengaja ditambahkan zat gizi mikro melalui proses teknologi pangan. Proses tersebut dilakukan setelah padi digiling menjadi beras.

Berdasarkan aturan Kementerian Pertanian, beras fortifikasi harus memenuhi SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan. Bahan fortifikasi tersebut wajib mengandung vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng dengan kadar tertentu.

Dari sisi bentuk, beras fortifikasi sebenarnya terlihat sama seperti beras biasa. Hal ini karena kernel fortifikasi dibuat menyerupai butiran beras sebelum dicampurkan dengan beras biasa.

Kemudian, butiran kernel yang kaya vitamin dan mineral tersebut dicampurkan dengan beras biasa. Butiran-butiran itu kemudian bercampur dalam satu kemasan dan disebut sebagai beras fortifikasi.

Hasilnya, kandungan gizi nasi yang dikonsumsi menjadi lebih lengkap.

Cara ini dikembangkan untuk meningkatkan nilai gizi beras sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk sebagai salah satu upaya untuk membantu mengatasi persoalan kekurangan gizi dan stunting.

Namun, dalam pengembangannya, beras fortifikasi membutuhkan teknologi tambahan sehingga biaya produksinya dapat lebih tinggi dibandingkan beras biasa. Selain itu, rasa dan teksturnya terkadang bisa sedikit berbeda jika tidak diolah dengan baik.

Ciri beras fortifikasi

Beras fortifikasi cukup sulit dikenali hanya dengan kasat mata. Pasalnya, warna, bentuk, hingga rasanya dapat dibuat menyerupai beras yang beredar pada umumnya.

Sebagian beras fortifikasi diproduksi menggunakan teknologi hot extrusion. Dalam proses ini, beras patah digiling menjadi tepung, kemudian dicampur dengan air dan zat gizi sebelum dicetak kembali menyerupai butiran beras utuh atau kernel. Metode tersebut dapat menghasilkan butiran yang sangat mirip dengan beras asli.

Hasilnya dapat terlihat, terasa, dan matang menyerupai beras biasa. Karena itu, konsumen memang tidak mudah mendeteksi mana beras fortifikasi dan mana beras biasa hanya dengan melihat bentuknya.

Namun, ada cara yang bisa dicoba agar konsumen tidak hanya mengandalkan iklan atau klaim pada kemasan.

Salah satunya adalah memeriksa label produk. Hal yang dapat diperhatikan antara lain komposisi, informasi produk, tabel nilai gizi, serta sertifikasi SNI resmi dari produsen.

Standar Nasional Indonesia atau SNI 9372:2025 mengatur kandungan gizi beras fortifikasi per 100 gram beras.

Standar tersebut mensyaratkan kandungan vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25–0,38 miligram, vitamin B12 1,0–1,5 mikrogram, zat besi 3,50–5,25 miligram, serta seng 3,0–4,5 miligram.

Pencampuran kernel fortifikan ke dalam beras juga diwajibkan memiliki rasio minimal 1 persen dan memenuhi persyaratan homogenitas.

Harga beras fortifikasi diduga dimainkan mafia

Pemerintah sebenarnya sudah menetapkan harga beras fortifikasi. Idealnya, produk tersebut dijual di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Namun, dari inspeksi yang dilakukan Kementan, ditemukan produk beras fortifikasi yang dijual dengan harga hingga Rp57.000 per kilogram.

Terbaru, Mentan Amran mengungkap dugaan adanya permainan mafia dalam peredaran beras fortifikasi di dalam negeri. Menurut Amran, harga beras fortifikasi ditemukan dijual jauh di atas harga kewajaran. Selisihnya bahkan mencapai sekitar Rp44.000 per kilogram.

Meski begitu, angka Rp57.000 per kilogram merupakan harga tertinggi yang ditemukan dalam hasil pengawasan pemerintah.

Mentan Amran menjelaskan, tambahan biaya untuk membuat beras fortifikasi sebenarnya relatif kecil. Biaya penambahan kernel fortifikasi yang mengandung vitamin dan mineral disebut hanya sekitar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram.

Dengan menggunakan beras medium sebagai bahan baku, harga beras fortifikasi menurut perhitungan Kementan seharusnya masih berada di kisaran Rp14.000-an per kilogram atau mendekati harga eceran tertinggi (HET).

Akibat dugaan manipulasi label gizi dan penyimpangan harga beras fortifikasi tersebut, pemerintah mengestimasi potensi kerugian konsumen secara nasional dapat mencapai Rp89 triliun.

Masih terus diteliti para ahli

Efikasi dan efektivitas beras fortifikasi masih terus diteliti oleh para ahli gizi di berbagai negara untuk memastikan penerapannya memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam The Lancet Global Health pada awal 2026 menyoroti dampak beras fortifikasi di kawasan Asia Tenggara.

Dalam penelitian tersebut, sekitar 50.000 partisipan usia sekolah di wilayah pedesaan mengikuti penelitian selama 12 bulan. Hasilnya menunjukkan penurunan prevalensi anemia defisiensi besi hingga 42%.

Skor fungsi kognitif anak-anak juga disebut mengalami peningkatan.

Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan perbaikan kadar hemoglobin berkat asupan zat besi, serta tercukupinya asupan seng dan vitamin B12 yang mendukung fungsi tubuh.

Temuan tersebut menjadi salah satu bukti yang mendukung pengembangan fortifikasi beras sebagai strategi kesehatan masyarakat yang dinilai cost-effective untuk membantu mengatasi kekurangan gizi dan mencegah persoalan seperti anemia serta stunting di negara berkembang.

Alternatif memaksimalkan penyerapan nutrisi makanan

Beras fortifikasi memang erat kaitannya dengan upaya pemerintah dan badan kesehatan global untuk menekan angka stunting, anemia pada ibu hamil, serta persoalan kekurangan nutrisi lainnya.

Namun, beras fortifikasi bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan asupan nutrisi.

Pola makan secara keseluruhan dan cara mengolah makanan juga perlu diperhatikan agar nutrisi yang masuk ke tubuh dapat lebih optimal.

Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan:

  1. Jangan mencuci beras terlalu bersih: mencuci beras terlalu sering atau terlalu lama dapat menyebabkan sebagian zat gizi yang terdapat pada permukaan beras ikut terbuang. Karena itu, beras dapat dicuci secukupnya untuk menghilangkan kotoran sebelum dimasak.
  2. Konsumsi bersama vitamin C: zat besi dari sumber nabati atau makanan yang difortifikasi umumnya lebih sulit diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber hewani. Mengonsumsi makanan atau buah yang kaya vitamin C, seperti jeruk, dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
  3. Jangan langsung minum kopi atau teh setelah makan: Kopi dan teh mengandung senyawa yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Karena itu, jika ingin mengonsumsi kopi atau teh, sebaiknya berikan jeda setelah makan agar penyerapan zat besi tidak terlalu terganggu.
  4. Air tajin jangan sampai terbuang: untuk pengolahan beras, penggunaan air yang sesuai dengan kebutuhan dapat membantu mengurangi hilangnya zat gizi akibat proses memasak dan pembuangan air. Air tajin juga mengandung sejumlah zat gizi, sehingga tidak selalu harus dibuang.

Siapa yang membutuhkan beras fortifikasi?

Beras fortifikasi pada dasarnya dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok masyarakat. Namun, produk pangan yang diperkaya zat gizi seperti ini terutama dapat menjadi bagian dari pola makan untuk kelompok yang membutuhkan asupan mikronutrien lebih banyak, seperti perempuan usia subur, ibu hamil, anak-anak dalam masa pertumbuhan, serta masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap makanan bergizi seimbang.

Asupan nutrisi yang cukup menjadi salah satu faktor penting dalam membantu mencegah anemia, kekurangan gizi, serta masalah pertumbuhan pada anak. Pada akhirnya, beras fortifikasi bukan sekadar soal beras yang harganya lebih mahal.

Di satu sisi, fortifikasi dikembangkan untuk meningkatkan kandungan gizi pangan yang dikonsumsi sehari-hari. Namun di sisi lain, kualitas produk, ketepatan kandungan gizi, keamanan pangan, serta kewajaran harga tetap menjadi hal penting yang perlu diawasi agar manfaat fortifikasi benar-benar diterima oleh masyarakat. (hPs/RaM)

Gen Z Takeaway

Spill, beras fortifikasi palsu lagi jadi sorotan setelah pemerintah mengungkap 25 merek yang diduga bermasalah dari hasil pemeriksaan laboratorium. FYI, beras fortifikasi itu bukan beras biasa, karena sudah ditambahkan zat gizi seperti vitamin B1, B12, asam folat, zat besi, dan seng. Bedah sedikit, bentuknya memang dibuat mirip beras biasa, jadi cukup susah dibedakan cuma dari warna atau bentuknya. Next, yang bikin heboh bukan cuma soal kandungan gizinya, tapi juga harga, karena ada yang ditemukan dijual sampai Rp57 ribu per kilogram. Btw, konsumen bisa lebih teliti dengan mengecek komposisi, tabel nilai gizi, label, dan sertifikasi resmi di kemasan.

Mentan Mentan Amran Kementerian Pertanian beras fortifikasi

Infografis

Terkini