Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu, Ini Bahayanya Jika Masuk ke Dalam Tubuh
astakom.com, Jakarta - Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan menyebar hingga wilayah Pulau Jawa. Di balik bentuknya yang terlihat seperti debu biasa, abu vulkanik ternyata bisa membawa sejumlah risiko bagi kesehatan maupun lingkungan.
Abu vulkanik, yang juga sering disebut pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik, merupakan material vulkanik yang terlontar ke udara saat terjadi letusan gunung berapi.
Material ini terdiri dari berbagai jenis batuan, mulai dari berukuran kecil hingga besar. Batuan berukuran bongkah hingga kerikil umumnya jatuh di sekitar kawah dengan radius sekitar 5–7 kilometer. Sementara material yang berukuran lebih halus dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari kawah.
Abu vulkanik memang terlihat seperti debu biasa, tetapi ukurannya yang sangat halus membuat material ini mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Dari sinilah muncul pertanyaan, sebenarnya apa saja yang terkandung di dalam abu vulkanik hingga bisa berdampak pada tubuh manusia?
Menariknya, material yang sama juga memiliki sisi lain. Di balik potensi risikonya bagi kesehatan, abu vulkanik menyimpan mineral dan unsur hara yang dapat memberikan manfaat bagi tanah. Lalu, apa saja kandungan abu vulkanik dan seberapa besar bahayanya bagi tubuh jika terhirup? Serta, bagaimana material ini justru bisa dimanfaatkan dalam sektor pertanian? Simak penjelasannya dikutip astakom.com dari sejumlah sumber, Senin (07/09/2026).
Abu Vulkanik Bisa Menyebar Jauh
Kemampuan abu vulkanik menyebar hingga wilayah yang jauh dari sumber letusan bukan hal baru.
Saat letusan Gunung Krakatau pada 1883, misalnya, abu vulkaniknya mengitari bumi selama berhari-hari. Sementara material vulkanik dari letusan Gunung Galunggung pada 1982 bahkan dapat mencapai Australia.
Meski memiliki risiko, abu vulkanik juga memiliki manfaat. Material ini dapat digunakan sebagai bahan pozolan karena mengandung silika dan alumina, sehingga dapat mengurangi penggunaan semen sebagai bahan bangunan.
Abu vulkanik juga dapat membantu menyuburkan tanah di sekitar gunung karena mengandung mineral serta unsur penyubur tanah seperti sulfur dan fosfor.
Di Balik Tanah Subur, Ada Zat yang Perlu Diwaspadai
Tanah vulkanik memang dikenal subur. Namun, di balik kandungan mineral dan unsur haranya, material dari aktivitas gunung api juga dapat menyimpan zat yang berpotensi berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Hasil penelitian terhadap batuan permukaan tanah di sekitar tepian kawah gunung berapi hingga radius sekitar 1 kilometer menunjukkan adanya sejumlah zat kimia berbahaya dalam jumlah cukup tinggi.
Zat tersebut dikenal sebagai potential harmful elements (PHEs), yang terdiri dari logam berat dan beberapa unsur lain yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan karena bersifat toksik atau beracun dan karsinogenik atau dapat memicu kanker.
Penelitian tersebut dilakukan di kawasan Taman Wisata Alam Talaga Bodas, Garut, Jawa Barat, yang berada tidak jauh dari lahan perkebunan. Temuan ini juga memperkuat penelitian di sejumlah negara lain mengenai kandungan zat berbahaya pada batuan vulkanik.
Di Indonesia, kondisi ini perlu diperhatikan karena banyak wilayah sekitar gunung api dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan, hingga pariwisata.
Paparan zat berbahaya dalam jumlah berlebihan berisiko mengganggu kesehatan manusia. Tanah vulkanik sendiri terbentuk dari pelapukan batuan vulkanik yang berasal dari material hasil letusan gunung api.
Material vulkanik yang kaya nutrien membuat tanah Indonesia terkenal subur dan banyak dimanfaatkan untuk pertanian serta perkebunan.
Namun, ketika tanaman menyerap unsur hara dari tanah, zat berbahaya juga dapat ikut terserap dan masuk ke dalam produk pangan.
Risiko lain juga muncul dari aktivitas wisata. Kawasan sekitar gunung api yang memiliki pemandangan alam menarik banyak dijadikan tujuan wisata. Jika lokasi dibuka untuk kunjungan tanpa panduan yang jelas, pengunjung dapat berisiko terpapar zat berbahaya di lokasi tersebut.
Enam Zat Berbahaya dalam Batuan Vulkanik
Sejumlah zat yang perlu diwaspadai antara lain arsenik, antimon, kadmium, kobalt, kromium, dan merkuri.
1. Arsenik (As)
Batuan vulkanik di Pulau Jawa umumnya mengandung sekitar 9 ppm arsenik. Sementara pada batuan di sekitar kawah, jumlahnya dapat mencapai sekitar 39 ppm.
Angka tersebut melebihi batas kandungan arsenik untuk tanah pertanian di Italia, Uni Eropa, dan Vietnam sebesar 20 ppm. Belanda menetapkan batas 29 ppm, sedangkan Kanada dan Finlandia menetapkan batas yang lebih rendah, masing-masing 11 ppm dan 5 ppm.
Arsenik juga dikenal sebagai zat beracun dan kerap digunakan dalam pestisida.
2. Antimon (Sb)
Kandungan antimon pada batuan vulkanik di Pulau Jawa diketahui sekitar 1 ppm. Namun, jumlahnya dapat mencapai sekitar 36 ppm pada batuan di sekitar kawah.
Angka tersebut melebihi ambang batas kandungan antimon dalam tanah di Finlandia sebesar 2 ppm.
Dalam kehidupan sehari-hari, antimon dapat ditemukan pada bahan pelapis tahan api, kosmetik, hingga digunakan dalam pembuatan botol plastik kemasan. Pada batuan, antimon terkandung dalam mineral stibnit atau antimonit.
3. Kadmium (Cd)
Batuan di sekitar kawah mengandung sekitar 18 ppm kadmium. Jumlah ini relatif lebih rendah dibandingkan kandungan pada batuan vulkanik segar berupa abu vulkanik yang mencapai sekitar 18–24 ppm.
Angka tersebut melebihi ambang batas yang digunakan di Finlandia, Kanada, Italia, Belanda, Uni Eropa, dan Vietnam yang berkisar antara 0,8 hingga 3 ppm.
Kadmium banyak digunakan sebagai bahan pembuatan baterai, pestisida, dan pupuk anorganik. Zat ini dikenal beracun, dapat membahayakan ginjal, serta berpotensi memicu kanker.
4. Kobalt (Co)
Kandungan kobalt pada batuan vulkanik umumnya sekitar 27 ppm. Sedangkan pada batuan di sekitar kawah, jumlahnya dapat mencapai 406 ppm.
Nilai tersebut melampaui batas kandungan kobalt untuk tanah pertanian di Kanada dan Finlandia yang berkisar antara 19 hingga 20 ppm.
Meski dapat berbahaya, kobalt juga merupakan unsur esensial dan menjadi bagian dari vitamin B12 yang digunakan untuk terapi anemia. Kobalt juga banyak digunakan dalam cat dan kosmetik.
5. Kromium (Cr)
Batuan vulkanik mengandung sekitar 44 ppm kromium. Jumlahnya dapat mencapai sekitar 86 ppm pada batuan di sekitar kawah.
Jumlah tersebut melebihi batas untuk tanah pertanian di Kanada dan Finlandia yang berada pada kisaran 67–100 ppm.
Seperti kobalt, kromium juga dikenal sebagai unsur esensial yang bermanfaat dalam menjaga kadar gula dalam darah. Namun, konsumsi kobalt dan kromium secara berlebihan berpotensi menyebabkan masalah pada organ hati dan ginjal.
6. Merkuri (Hg)
Batuan vulkanik yang diteliti mengandung sekitar 6 ppm merkuri. Sementara batuan di sekitar kawah dapat mengandung hingga sekitar 22 ppm merkuri.
Nilai tersebut melebihi ambang batas kandungan merkuri dalam tanah di Finlandia, Kanada, Italia, Belanda, Uni Eropa, dan Vietnam yang rata-rata kurang dari 1 ppm.
Merkuri dapat ditemukan pada beberapa jenis kosmetik dan alat kesehatan seperti termometer. Zat ini juga banyak digunakan dalam pengolahan emas.
Sumber utama merkuri di alam berasal dari mineral sinabar (cinnabar). Merkuri dikenal berbahaya karena bersifat racun dan karsinogenik. (RaM)
Gen Z Takeaway
Abu vulkanik bukan sekadar debu yang terbawa angin. Material halus dari letusan gunung api bisa menyebar jauh, mengganggu kesehatan, hingga membawa sejumlah unsur yang perlu diwaspadai.Di sisi lain, abu vulkanik juga punya manfaat karena mengandung mineral dan unsur hara yang dapat membuat tanah di sekitar gunung api menjadi subur. Jadi, di balik kesuburan tanah vulkanik, tetap ada risiko yang perlu diperhatikan, terutama ketika materialnya terhirup, masuk ke lingkungan pertanian, atau berada di kawasan wisata.









