Abu Vulkanik Anak Krakatau Bikin Maskapai Berpotensi Boncos Rp19 Miliar per Hari
astakom.com, Jakarta - Muntahan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan kerugian ekonomi di sektor penerbangan.
Abu vulkanik yang menyebar di ruang udara (Flight Information Region/FIR) Jakarta memicu kerugian finansial yang signifikan buat industri penerbangan nasional.
Asosiasi maskapai menghitung dan memperkirakan potensi kerugian ekonominya bisa tembus sampai Rp19 miliar per hari. Angka itu didapatkan dari perhitungan akibat pembatalan tiket, lonjakan konsumsi bahan bakar buat rute mutar, hingga pembengkakan biaya kompensasi penumpang.
Tekanan berlapis buat keuangan maskapai
Indonesia National Air Carrier Association (INACA) mendata, gangguan sebaran abu vulkanik ke arah timur laut berefek langsung pada kepadatan koridor Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).
Hal ini menjadi tekanan berlapis buat keuangan maskapai karena hilangnya potensi pendapatan dari penjualan kursi di saat biaya operasional darurat justru naik tajam.
"Dampak bisnis ke maskapai bersifat ganda, yakni kehilangan pendapatan sekaligus menanggung lonjakan biaya operasional," kata Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto kepada salah satu media, dikutip astakom.com pada Senin (07/09/2026).
Potensi kerugian
"Simulasi harian gangguan di CGK dan TKG menunjukkan potensi kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari dari 30-50 penerbangan yang batal, ekstra avtur, parkir pesawat, serta kompensasi penumpang, yang jika berlanjut sepekan bisa menembus Rp70 miliar sampai Rp130 miliar," kata Bayu.
Peringatan dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin dan Notam navigasi penerbangan mencatat bahwa pembatalan otomatis diberlakukan kalau konsentrasi abu vulkanis di jalur lepas landas maupun pendaratan lebih dari ambang batas 4.000 ppm.
Kondisi ini bikin rute menuju Lampung menjadi paling rawan karena posisinya hanya berjarak kurang dari 150 kilometer dari kawah aktif.
Penundaan perjalanan
Selanjutnya diikuti dengan rute padat menuju Batam, Pontianak, serta keberangkatan ke arah selatan dan barat Jakarta.
"Penundaan dan holding selama 60 hingga 120 menit menjadi dampak paling dominan di CGK, sementara rute domestik ke Sumatera bagian selatan serta rute internasional ke Australia terpaksa dialihkan memutar lewat utara Jawa dengan tambahan waktu terbang 20-40 menit. Jika status Siaga dan kode oranye bertahan, sebanyak 15-25 persen penerbangan dari CGK dan 40-60 persen dari TKG berpotensi terganggu," kata Bayu.
Diketahui kerugian terbesar maskapai penerbangan berasal dari hangusnya 50 sampai 60 persen potensi pendapatan akibat pengembalian dana (refund) tiket, sementara biaya atau leasing armada dan beban gaji awak pesawat tetap berjalan.
Maskapai menanggung makan dan hotel
Pihak maskapai juga menanggung fasilitas makan dan hotel untuk buat keterlambatan di atas empat jam. Maskapai juga dibebani biaya perawatan mesin yang sangat mahal kalau pesawat sempat terpapar partikel debu vulkanik.
"Pesawat yang melintasi area abu wajib menjalani borescope check dengan biaya USD20 ribu hingga USD50 ribu per mesin. Meski saat ini masih terkendali di tingkat operasional darurat (IROP), jika gangguan abu berlangsung lebih dari lima hari kerugian ekonomi akan melampaui Rp100 miliar dan menggerus target kuartal III dan IV, sehingga kecepatan data VAAC dan fleksibilitas AirNav menjadi kunci mitigasi," ungkapnya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai bikin maskapai ketar-ketir karena sebaran abu vulkanik di FIR Jakarta mengganggu penerbangan. INACA memperkirakan kerugian bisa mencapai Rp10–19 miliar per hari, akibat pembatalan penerbangan, rute memutar, ekstra avtur, hingga kompensasi penumpang. Kalau gangguan berlangsung lebih dari lima hari, total kerugian bahkan berpotensi tembus Rp100 miliar.








