Hamas Minta BoP Tindak Tegas Pelanggaran Gencatan Senjata Israel
astakom.com, Jakarta – Hubungan dan situasi di Gaza kembali berada di titik kritis. Hamas mendesak Dewan Perdamaian (BoP) Gaza serta para mediator internasional untuk turun tangan menekan Israel agar segera menghentikan serangan dan taat pada kesepakatan gencatan senjata. Langkah ini diambil setelah operasi militer Israel kembali memakan korban jiwa dan melukai sejumlah warga Palestina pada Selasa (01/09/2026).
Desakan gencatan senjata
Demi meredam situasi yang makin unpredictable, Hamas telah mengontak para mediator dan perwakilan BoP buat Gaza, Nikolay Mladenov. Mereka meminta "tekanan maksimum" diarahkan kepada pemerintah Israel agar menyetop agresi dan memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Hamas mengecam keras aksi meliter tersebut sebagai operasi kriminal dan menyerukan agar komunitas internasional mengambil sikap yang jelas dan tegas buat mengutuk serangan mendadak itu.
Hamas berpendapat, eskalasi serangan Israel sengaja dilakukan buat melemahkan fondasi gencatan senjata, menggagalkan proses penyelesaian implementasinya, serta menciptakan skenario agar perang besar di Gaza kembali pecah.
“Berlanjutnya serangan tersebut membuat para mediator dan pihak penjamin memiliki tanggung jawab mendesak untuk mengambil tindakan, menghentikan eskalasi, dan mencegah situasi kembali berkembang menjadi konflik yang lebih luas,” ucap Hamas, dikutip dari Anadolu, Rabu (02/09/2026).
Kronologi serangan Gaza
Di sisi lain pada Selasa, total ada 3 warga Palestina dinyatakan meninggal dunia dan lebih dari 20 orang lainnya termasuk anak-anak luka-luka akibat rentetan serangan Israel di kawasan Al-Katiba, sebelah barat Kota Gaza.
Saksi mata di lokasi membeberkan kalau ada lebih dari 16 kali serangan mendadak yang diluncurkan dalam kurun waktu kurang dari 30 menit. Aksi pengeboman tersebut juga diiringi tembakan berat serta pergerakan pesawat tempur dan drone Israel di udara.
Klaim operasi militer
Kantor media pemerintah Gaza menjelaskan kalau awalnya pasukan khusus Israel mencoba melakukan operasi keamanan rahasia di dalam Kota Gaza. Namun, keberadaan mereka terdeteksi, sehingga militer Israel langsung meluncurkan serangan udara berskala besar.
Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi kalau pihaknya memang menggempur sejumlah titik di Kota Gaza dengan dalih menghilangkan ancaman atas pasukannya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mengklaim kalau pasukannya berhasil menciduk seorang pemimpin senior Hamas, meski tanpa membeberkan identitas resminya.
Sebagai informasi, kawasan Al-Katiba sendiri ialah salah satu spot paling padat di Gaza yang menjadi tempat pengungsian warga Palestina, serta menjadi titik berdirinya fasilitas umum seperti rumah sakit, universitas, dan pusat bisnis.
Dampak panjang agresi
Israel sudah menggempur serangan masif ke Gaza sejak 8 Oktober 2023. Pertempuran ini meluas selama 2 tahun dan membawa kehancuran skala besar. Sayangnya, dugaan pelanggaran dari pihak Israel terus membayangi meski gencatan senjata sejatinya sudah disepakati sejak 10 Oktober 2025.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, deretan pelanggaran yang terjadi selama masa gencatan senjata saja telah merenggut 1.318 nyawa warga Palestina dan melukai 4.375 orang lainnya. Tim evakuasi bahkan masih terus menemukan ratusan jenazah di bawah puing reruntuhan bangunan.
Sampai Selasa, jumlah korban jiwa akibat agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023 diperkirakan telah menembus 73.462 orang, sementara 174.509 orang lainnya luka-luka. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Gencatan senjata yang harusnya jadi jalan damai malah terus diterobos. Serangan mendadak Israel di Gaza bikin Hamas minta mediator internasional turun tangan sebelum situasi makin chaos dan memicu perang besar lagi. Intinya, komitmen damai di atas kertas masih rapuh banget di lapangan.









