Dukung Pemenuhan Gizi, Pemerintah Targetkan Budi Daya Ikan di 4.000 Lokasi pada 2026

Penulis: Alfian Tegar
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 3 September 2026 | 09:31 WIB
Dukung Pemenuhan Gizi, Pemerintah Targetkan Budi Daya Ikan di 4.000 Lokasi pada 2026
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari [Dok. Bakom RI]

astakom.com, Jakarta — Pemerintah makin serius nih mikirin asupan gizi masyarakat sekaligus ningkatin produksi pangan nasional. Lewat program Budi Daya Ikan Darat Tematik, gak tanggung-tanggung, tahun 2026 ini targetnya bakal berkembang di 4.000 lokasi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Kehadiran budi daya ikan darat ini disiapin buat nyokong kebutuhan protein harian masyarakat secara merata.

“Program Budi Daya Ikan Darat Tematik bertujuan memenuhi kebutuhan ikan konsumsi domestik, sekaligus mendukung salah satu program prioritas Presiden, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (02/09/2026).

Sebelum sampai ke target 4.000 titik, program ini sejatinya udah mulai start di tahun 2025 lalu. Tahap awal penataan difokuskan pada 100 lokasi yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Persiapan lahan sampai pemasaran dipantau ketat

Rencana ekspansi gede-gedean ini juga gak dilakukan secara serampangan. Qodari menjelaskan kalau penambahan lokasi bakal digarap bertahap sambil mastiin setiap wilayah benar-benar ready, mulai dari tahap kurasi lahan sampai barang siap dijual ke pasar.

“Mulai dari pengusulan dan verifikasi kesiapan lahan, penetapan penerima, pembangunan sarana-prasarana, pelatihan, penebaran benih, hingga pendampingan produksi dan pemasaran,” katanya.

Prioritaskan lele dan nila

Khusus untuk pelaksanaan di tahun 2026, pemerintah bakal memprioritaskan dua jenis ikan tawar yang paling populer dan jadi favorit masyarakat, yaitu lele dan nila. Alasan utamanya karena cepat panen, perawatannya gak ribet, peminatnya melimpah, dan gak butuh lahan super luas.

Bukan cuma itu, pemerintah juga ngajak para pembudi daya buat upgrade cara ternak pake teknologi modern berbasis ekologis.

“Teknologi ini dinilai mampu menghemat penggunaan air, mengoptimalkan pemanfaatan pakan, meningkatkan produktivitas, sekaligus mendukung praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan,” kata Qodari.

Meskipun lele dan nila jadi main character di awal, pemerintah gak menutup pintu buat jenis ikan air tawar lainnya. Spesies lain seperti patin, gurami, ikan mas, sampai ikan lokal daerah tetap punya peluang besar buat dikembangin sesuai potensi wilayah masing-masing.

Ekosistem dan rantai pasok yang jelas

Gak cuma sekadar nyuruh orang ternak ikan lalu dilepas gitu aja, pemerintah juga menyiapkan ekosistem dan rantai pasok yang jelas. Pembudi daya bakal langsung terhubung ke jaringan konsumen dan pembeli potensial.

“Hasil panen nantinya akan dipasarkan melalui koperasi atau lembaga pengelola kepada berbagai saluran, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pasar tradisional, pelaku usaha pengolahan, rumah makan, hingga jaringan ritel,” kata dia.

Lewat skema terintegrasi ini, Qodari optimistis produksi ikan nasional bakal melonjak tajam. Selain bikin gizi masyarakat makin level up, program ini juga punya potensi besar buat nyiptain lapangan kerja baru, ningkatin pendapatan warga, sampai bikin perekonomian di tingkat desa makin berputar kencang. (aLf/aNs)

Gen Z Takeaway

Pemerintah menargetkan Program Budi Daya Ikan Darat Tematik berkembang di 4.000 lokasi pada 2026 untuk memperkuat pasokan protein sekaligus mendukung MBG. Lele dan nila jadi prioritas karena mudah dibudidayakan, cepat panen, dan punya pasar luas. Program ini juga terintegrasi dari kesiapan lahan hingga pemasaran, sehingga diharapkan meningkatkan gizi, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi desa.

Budidaya Ikan Bakom RI Kepala Bakom RI Muhammad Qodari

Infografis

Terkini