Udara Makin Berbahaya, Kemenkes Siapkan Opsi PJJ untuk Lindungi Siswa
astakom.com, Jakarta - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberi dampak serius bagi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar di sekolah. Ketika kualitas udara memburuk dan masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya, aktivitas anak-anak di luar ruangan menjadi perhatian khusus pemerintah.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini menyiapkan surat edaran yang memungkinkan sekolah mengurangi pembelajaran tatap muka saat kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) meningkat. Langkah tersebut diarahkan untuk menekan paparan asap karhutla terhadap anak-anak yang masuk kelompok rentan.
Melansir keterangan Kemenkes dalam Media Briefing yang digelar melalui Zoom pada Rabu (26/08/2026), Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan surat tersebut akan dikirimkan Sekretaris Jenderal Kemenkes kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Agama (Kemenag).
PJJ jadi opsi saat ISPU tinggi
Kemenkes menyiapkan kebijakan tersebut sebagai langkah perlindungan ketika kualitas udara sudah tidak memungkinkan untuk aktivitas luar ruangan. Sekolah dapat mengurangi kegiatan tatap muka dan mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sesuai kondisi ISPU di wilayah masing-masing.
"Jadi betul untuk kelompok rentan ini kita sudah membuat surat ya, nanti Sesjen mengirim surat ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kemenag untuk anak-anak apabila ISPU-nya tinggi, tidak sehat, itu bisa tidak melakukan aktivitas di luar sehingga bisa melakukan kegiatan seperti apakah jarak jauh, maksudnya tatap mukanya dikurangi dan sebagainya," kata Then dalam Media Briefing Kemenkes melalui siaran Zoom, Rabu (26/08/2026).
Surat edaran tersebut saat itu masih dalam tahap persiapan dan ditargetkan terbit dalam dua hari. Kebijakan ini diharapkan menjadi pedoman ketika kondisi udara di suatu daerah memburuk akibat karhutla.
Then juga menyebut sudah ada surat edaran dari Menteri Lingkungan Hidup kepada gubernur serta bupati dan wali kota untuk memantau kualitas udara. Saat ISPU meningkat, sekolah diharapkan tidak menjalankan pembelajaran tatap muka.
ISPU Jambi-Kalteng tembus berbahaya
Dorongan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan datang ketika kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak karhutla menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.
Hasil pemantauan Kemenkes pada Rabu (26/08/2026) sekitar pukul 05.00 WIB terhadap 17 stasiun menunjukkan sejumlah daerah berada dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Di Kabupaten Muaro Jambi, nilai ISPU tercatat mencapai 302. Sementara di Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, angkanya bahkan mencapai 573 dan masuk kategori berbahaya.
"Yang saat ini kondisi yang berbahaya ada di Kabupaten Muaro Jambi dengan nilai ISPU-nya 302 ya, kemudian di Palangka raya Jekan Raya di Kalimantan Tengah dengan 573 ya ini berbahaya," ungkap Then.
Selain kedua wilayah tersebut, kualitas udara kategori sangat tidak sehat juga terpantau di Pelalawan, Riau; Penukal Abab Pematang Ilir dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan; Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat; serta Gunung Mas dan Katingan, Kalimantan Tengah.
Kemenkes menjelaskan ISPU 101-200 masuk kategori tidak sehat, sedangkan angka 201-300 tergolong sangat tidak sehat. Jika ISPU sudah berada di atas 300, kondisi tersebut masuk kategori berbahaya sehingga aktivitas luar ruangan perlu dihindari.
3,4 juta warga terdampak asap
Karhutla bukan hanya soal jarak pandang yang terganggu. Dampaknya sudah masuk ke aspek kesehatan masyarakat.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin menyebut sekitar 3,405 juta penduduk terdampak karhutla di sejumlah wilayah. Dalam data tersebut, 42 orang mengalami luka ringan, sementara dua orang mengalami luka berat atau harus menjalani rawat inap. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga mengalami peningkatan di sejumlah daerah. Di Kalimantan Barat saja, pencatatan sejak 1 Januari hingga 7 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 165.747 kasus ISPA.
" Kemenkes juga memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak dengan mengirimkan tenaga kesehatan cadangan. "
Agus mengatakan total tenaga kesehatan yang dimobilisasi untuk mendukung penanganan karhutla di sejumlah provinsi mencapai 321 orang. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan, termasuk dokter dan petugas kesehatan lingkungan.
Selain memperkuat layanan di fasilitas kesehatan, sebagian tenaga tersebut turun langsung ke lokasi kebakaran untuk membantu mengantisipasi kondisi petugas pemadam yang mengalami kelelahan atau kekurangan oksigen.
Kemenkes juga menyalurkan sejumlah kebutuhan kesehatan sesuai kondisi daerah, seperti masker, oksigen konsentrator, handscoon, oxycan, faceshield, alat pelindung diri (APD), hingga makanan tambahan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia.
Anak jadi prioritas perlindungan
Anak-anak menjadi perhatian karena paparan polusi udara dapat berdampak pada tubuh yang masih dalam tahap perkembangan. Kemenkes menyoroti kondisi paru-paru, sistem kardiovaskular, dan fungsi kognitif anak yang masih berkembang.
Selain itu, anak cenderung lebih aktif melakukan kegiatan di luar ruangan sehingga peluang terpapar polutan dari kabut asap juga lebih besar.
Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah PM2.5. Partikel ini dapat menyebar mengikuti pergerakan udara sehingga paparannya bisa meluas dan sulit dibatasi hanya pada satu titik.
Karena itu, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kualitas udara. Aktivitas di luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi ISPU, sementara penggunaan masker dianjurkan apabila harus beraktivitas di luar.
"Baik, dari kami menekankan bahwa kita harus pantau udara ya kualitas udara, kita kurangi aktivitas di luar sesuai dengan hasil ISPU, gunakan masker apabila harus di luar, kita lindungi kelompok rentan, dan segera berobat jika sakit," tutup Then. (deA/RaM)
GenZ Takeaway
Kabut asap karhutla bukan cuma bikin langit kelabu dan aktivitas luar ruangan jadi terbatas. Saat ISPU sudah masuk level berbahaya, sekolah bisa mengurangi tatap muka dan PJJ menjadi salah satu opsi untuk melindungi siswa. Jadi, sebelum beraktivitas di luar, cek dulu kualitas udaranya—jangan sampai dianggap sepele.









