Kemensos dan Relawan Beri Layanan Psikososial untuk Pulihkan Trauma Korban Gempa Sikka

Editor: A. Cuwantoro
Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Kemensos dan Relawan Beri Layanan Psikososial untuk Pulihkan Trauma Korban Gempa Sikka
Tim Kemensos bersama 18 lembaga dan organisasi non-pemerintah (NGO) mengaktifkan Subcluster Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi korban gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/8/2026). [Kemensos]

astakom.com, Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) bersama 18 lembaga dan organisasi non-pemerintah (NGO) mengaktifkan Subcluster Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi korban gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/08/2026). Pendampingan ini difokuskan sejak hari ketiga pengungsian dengan memprioritaskan kelompok rentan, mulai dari anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, hingga warga lanjut usia.

Tim LDP Kemensos telah melakukan asesmen psikososial untuk memetakan kondisi mental pengungsi. Hasilnya menunjukkan 19 persen korban berada di kategori merah (berisiko sangat tinggi), 31 persen di kategori kuning (berisiko sedang), dan 50 persen di kategori hijau (berisiko ringan).

“Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial,” kata Igun Gunawan, dikutip dari laman Kemensos.

Korban di kategori merah mendapat penanganan dari tim psikolog universitas dan tim penanganan bencana. Sementara korban kategori kuning dan hijau menerima pendampingan Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreasional, serta pemulihan fungsi sosial.

Pendampingan khusus

Pendampingan khusus juga diberikan kepada warga yang memiliki trauma masa lalu akibat gempa dan tsunami 1992. Bayangan tragedi lama tersebut berpotensi muncul kembali saat terjadi gempa susulan.

“Karena sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada yang kembali mengalami keterkejutan, kecemasan atau ketakutan. Karena itu, kami memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar mereka mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika merasa cemas atau takut,” ujar Igun.

Selain latihan stabilisasi dan grounding, pengungsi dibekali edukasi penyelamatan diri. Kegiatan psikososial ini dikemas dalam rutinitas harian di pengungsian yang dimulai sejak pukul 06.00 WITA lewat senam pagi bersama warga, relawan, TNI, dan Polri.

Sesi pendampingan anak-anak berlangsung pukul 10.00–12.00 WITA. Selanjutnya, giliran perempuan dewasa, ibu hamil, menyusui, dan lansia mendapatkan pendampingan pada pukul 14.00–16.00 WITA.

“Ada layanan rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur,” kata Igun.

Kegiatan anak-anak berlanjut pada sore hari dan disambung dengan aktivitas keagamaan. Anak-anak beragama Islam mengikuti Magrib Mengaji di musala darurat, sedangkan anak-anak beragama Katolik mengikuti Sekolah Minggu. Pendampingan bertahap ini akan terus berjalan sesuai kebutuhan pengungsi. (ACwan/RaM)

Gen Z Takeaway 

Kemensos bareng 18 lembaga relawan gercep buka layanan dukungan psikososial buat korban gempa di Sikka, NTT. Selain bikin rutinitas seru dari senam pagi sampai ngaji di pengungsian, tim ahli juga memetakan trauma warga. Sebanyak 19 persen pengungsi yang kena trauma berat—termasuk kenangan kelam gempa 1992—langsung dapat rujukan penanganan khusus dari psikolog!

Gempa NTT Gempa Sikka NGO Gempa

Infografis

Terkini