Relawan Ahmad Zaki Ali Meninggal saat Bantu Korban Gempa NTT di Manggarai Timur
astakom.com, Jakarta - Kabar duka datang dari misi kemanusiaan di tengah penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Ahmad Zaki Ali, relawan kemanusiaan sekaligus pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal dunia saat membantu menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa di Manggarai Timur.
Zaki meninggal pada Jumat (21/08/2026) saat rombongan relawan dalam perjalanan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Lamba Leda Utara, Manggarai Timur. Saat itu, ia sedang membawa kendaraan logistik untuk mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak gempa.
Kondisi Zaki mendadak menurun ketika perjalanan berlangsung di wilayah Dampek. Ia sempat meminta kendaraan dihentikan karena merasa kondisinya kurang baik. Rekan-rekannya kemudian memberikan pertolongan dan membawanya ke Puskesmas Dampek, tetapi Zaki dinyatakan meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Pesan terakhir dari Flores
Astakom.com mengutip Instagram pribadi Ahmad Zaki pada Minggu (23/08/2026), ada video di mana Zaki menyampaikan bahwa sebagian besar bantuan yang dipercayakan kepadanya dan tim sudah disalurkan kepada ratusan keluarga terdampak gempa.
“Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa,” ucap Zaki dalam video tersebut.
Dalam laporan itu, Zaki juga menyinggung kondisi penyintas yang masih mengkhawatirkan. Bantuan terus bergerak, tetapi kebutuhan logistik di lapangan mulai menipis.
Zaki bersama timnya diketahui tiba di NTT pada 16 Agustus 2026, sehari setelah gempa mengguncang Flores. Selama berada di lokasi, mereka bergerak menyalurkan bantuan kepada warga terdampak di sejumlah wilayah.
Unggahan tersebut akhirnya menjadi salah satu jejak terakhir Zaki sebelum meninggal ketika kembali bergerak mengantarkan bantuan.
Keluarga kenang sosok Zaki
Jenazah Zaki kemudian dipulangkan ke Jakarta dan tiba di rumah duka kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Sabtu (22/08/2026). Ia selanjutnya dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Sabtu malam (22/08/2026).
Di rumah duka, kakak Zaki, Reza Milady Fauzan, mengenang adiknya sebagai sosok yang tetap sederhana ketika berada di lingkungan keluarga. Menurut Reza, berbagai identitas Zaki sebagai aktivis maupun pendiri Gerak Bareng tidak membuatnya berubah ketika bersama orang-orang terdekat.
“Beliau di luar mungkin punya atribut sebagai seorang aktivis, sebagai founder Gerak Bareng, sebagai aktivis pemuda Muslim, tapi ketika di keluarga, dia melepas semua atribut itu,” kata Reza, kepada awak media.
Reza juga menyebut kepedulian terhadap kebencanaan telah menjadi bagian penting dari perjalanan Zaki. Ia menggambarkan adiknya sebagai sosok yang cepat merespons ketika terjadi bencana dan langsung bergerak untuk membantu.
“Kalau Tsunami Aceh, hari pagi ini, malam sudah di Aceh. Beliau termasuk yang sangat responsif berkaitan dengan mitigasi bencana. Dan itu yang menjadi passion beliau,” ucap Reza.
Keluarga juga mengungkap bahwa Zaki sebelumnya pernah bercerita kepada Reza mengenai kondisi jantung yang dirasakannya dalam setahun terakhir. Namun, keterangan tersebut merupakan cerita dari keluarga dan tidak dijadikan sebagai kesimpulan medis mengenai penyebab kematiannya.
“Beliau cerita bahwa kondisi jantungku kayaknya sudah mulai ini nih, lebih sering delay, kadang berhenti sekejap. Dan mulai agak intens di tahun ini. 'Ya doain, Bang',” ujar Reza menirukan ucapan adiknya.
Penghormatan untuk relawan
Kepergian Zaki juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi NTT. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya relawan yang tengah menjalankan misi kemanusiaan tersebut.
“Pertama, sebagai Gubernur Provinsi NTT dan mewakili seluruh masyarakat NTT, khususnya masyarakat Flores terdampak ini, saya mengucapkan belasungkawa yang mendalam buat Pak Zaki yang meninggal ini,” ungkap Melki kepada awak media di pos utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo, Sabtu (22/08/2026).
Melki mengenang Zaki sebagai relawan yang gigih bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Beliau saya pernah ke Dampek tiga kali, saya dengar betul beliau salah satu orang yang sangat keras dan gigih antar bantuan keluar masuk kampung dan desa demi desa di Dampek sehingga akhirnya kerja dengan luar biasa akhirnya Pak Zaki meninggal,” ungkap Melki.
Sementara itu, Deputi Operasi dan Siaga Basarnas Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso membenarkan bahwa Zaki meninggal ketika sedang menjalankan distribusi logistik dari Reo menuju Lamba Leda Utara.
“Pada saat kejadian, yang bersangkutan dalam rangka pendistribusian logistik dari Reo menuju Lamba Leda,” kata Edy.
Setelah kejadian, proses evakuasi jenazah dilakukan oleh tim SAR. Jenazah kemudian dibawa dari Flores menuju Jakarta sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu (22/08/2026) malam. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Ahmad Zaki Ali pergi ketika sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu warga terdampak gempa. Bagi keluarga dan rekan-rekannya, Zaki bukan hanya dikenal sebagai aktivis atau pendiri Gerak Bareng, tetapi juga sebagai sosok yang selalu berusaha hadir ketika bencana terjadi.








