Minta Hentikan Kekerasan, Palestina Desak PBB Lucuti Senjata Pemukim Israel

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 29 Juli 2026 | 16:29 WIB
Minta Hentikan Kekerasan, Palestina Desak PBB Lucuti Senjata Pemukim Israel
Minta Hentikan Kekerasan, Palestina Desak PBB Lucuti Senjata Pemukim Israel [Ilustrasi bendera Palestina dan PBB/Gemini]

astakom.com, Jakarta – Kekerasan yang terus membara di Tepi Barat buat situasi makin  memprihatinkan. Menanggapi kondisi yang kian tak terkendali ini, Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, melayangkan tuntutan keras agar para pemukim ilegal Israel segera dilucuti senjatanya demi melindungi warga sipil Palestina di wilayah pendudukan.

Desakan di PBB

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa (27/07/2026) Mansour menyampaikan ketegasannya secara langsung di hadapan forum internasional.

"Para pemukim Israel harus dilucuti senjatanya sebagaimana dinyatakan dalam resolusi Dewan ini untuk menghentikan mereka dari meneror rakyat kami. Dan para pemukim Israel serta pasukan pendudukan harus meninggalkan tanah kami dan membiarkan kami hidup tenang," tutur Mansour kepada Dewan Keamanan dilansir dari TRT World pada Rabu (29/07/2026).

Ia juga menyentil soal aturan dan resolusi yang selama ini sudah disepakati tapi terkesan cuma jadi formalitas tanpa eksekusi di lapangan.

"Dewan ini dan Majelis Umum telah mengadopsi resolusi yang menyerukan perlindungan semacam itu, tetapi hal itu tidak ditemukan di mana pun," sambungnya.

"Warga Palestina terus terbunuh setiap hari dalam pemboman di Gaza, dalam serangan oleh pemukim dan pasukan pendudukan di Tepi Barat," ucap Mansour.

Nyawa yang diabaikan

Ia juga menambahkan kalau hal ini memperlihatkan warga Palestina yang telah terbunuh.

"Saat mereka tidur, saat meeka mengurus kebun mereka, saat mereka pergi ke sekolah, saat mereka duduk di rumah mereka."paparnya.

Kondisi ini memperlihatkan betapa murahnya harga nyawa manusia di mata para pelaku kekerasan.

"Mereka dibunuh seolah-olah nyawa mereka tidak berarti, seolah-olah mereka bisa dikorbankan, dan mereka akan terus dibunuh sampai mereka yang membunuh mereka dimintai pertanggungjawaban," jelasnya.

Taktik politik Israel

Lebih lanjut, Mansour membongkar taktik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dinilai sengaja memelihara konflik demi agenda politik internal serta memperluas penguasaan wilayah secara paksa.

"Israel berupaya meningkatkan ketegangan di Tepi Barat, baik untuk membenarkan penindasan lebih lanjut, untuk memfasilitasi aneksasi dan pengusiran, atau untuk tujuan elektoral; ya, dihadapkan pada prospek kekalahan dalam pemilihan mendatang, Netanyahu berupaya meraih keuntungan elektoral dengan menumpahkan darah warga Palestina dan bahkan warga Israel," ungkapnya.

Bukannya meredam konflik, langkah yang diambil pemerintah Israel justru makin memperkeruh keadaan.

"Dan seolah itu belum cukup, perdana menteri Israel menyimpulkan bahwa jawabannya adalah lebih banyak penjajahan, lebih banyak perampasan hak milik, lebih banyak pengungsian, lebih banyak kekerasan," ucapnya.

Mansour menegaskan kalau pola serangan ini bukanlah kejadian acak, melainkan bagian dari rancangan besar yang sudah berlangsung lama.

"Selama bertahun-tahun kami telah memperingatkan tentang kekerasan para pemukim dengan dukungan pasukan pendudukan Israel sebagai bagian integral dari strategi Israel untuk mencaplok sebanyak mungkin tanah Palestina dengan jumlah warga Palestina seminimal mungkin," paparnya.

"Kisah tentang pemukim yang berkeliaran di perbukitan tidak masuk akal," tegasnya, seraya menekankan kalau kedatangan para pemukim tersebut didasari satu tujuan utama, yaitu meneror dan mengusir penduduk melalui provokasi serta pembunuhan yang terjadi secara terus-menerus.

Perlindungan hak Palestina

Sebagai kekuatan pendudukan, Israel secara hukum humaniter internasional memiliki kewajiban untuk melindungi warga sipil. Namun karena hal itu tak pernah diwujudkan, Mansour menegaskan bahwa dunia internasional tidak boleh cuma jadi penonton

"Rakyat kami berhak atas perlindungan internasional," tegasnya.

"Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab komunitas internasional untuk memberikan perlindungan kepada rakyat kami," sambung Mansour, sembari menuntut Dewan Keamanan dan komunitas internasional untuk take action.

Sebelum mengakhiri pernyataannya, Mansour kembali menegaskan poin utamanya tanpa keraguan sedikit pun.

"Para pemukim Israel harus dilucuti senjatanya. Saya ulangi, harus dilucuti senjatanya," jelasnya.

Gaya kekerasan oleh pasukan dan pemukim ilegal Israel di Tepi Barat mengalami puncaknya semenjak eskalasi genosida di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Berdasarkan data resmi otoritas Palestina, tercatat setidaknya 1.182 warga Palestina tewas, 13.000 orang luka-luka, dan hampir 24.000 warga ditangkap di wilayah pendudukan selama rentang waktu tersebut. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Isu kemanusiaan di Palestina bukan cuma soal konflik biasa, tapi tentang ketidakadilan sistematis yang terus berulang tanpa kepastian hukum. Ketika resolusi PBB cuma jadi formalitas di atas kertas dan nyawa warga sipil dikorbankan demi agenda politik, saatnya kita sebagai generasi muda tetap kritis, aware, dan terus menyuarakan keadilan internasional agar aksi nyata—bukan sekadar retorika—segera diwujudkan.

PBB palestina Palestina Update Update Palestina 2026

Infografis

Terkini