Go International! BRIN dan Vietnam Kerjasama Perkuat Riset STEM & Sosial-Emosional PAUD
astakom.com, Jakarta – Pusat Riset Pendidikan (PRP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkokoh kerjasama riset internasional dalam sektor pendidikan anak usia dini (PAUD).
Sebagai langkah awal, sebuah webinar bertajuk “Bridging Early Childhood Education Perspectives: Sharing Insights on Social Emotional Learning (SEL) and STEM in Early Childhood Education between Indonesia and Vietnam” sukses dilaksanakan secara daring pada Kamis, (18/6/2026).
Forum tersebut mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi pendidikan Indonesia dan Vietnam guna mendiskusikan pentingnya metode Social Emotional Learning (SEL) serta pendidikan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bagi perkembangan anak usia dini.
Sinergi 2 Negara
Apresiasi tinggi diungkapkan oleh Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN, Trina Fizzanty, kepada seluruh peserta dan mitra dari Vietnam. Secara khusus, Trina menyambut baik kehadiran Wakil Kepala School of Child Development Science di Hanoi National University of Education (HNUE), Dr. Theo Doe, dalam pertemuan tersebut.
“Forum ini menyatukan pengetahuan, hasil penelitian, dan pengalaman dari kedua institusi serta komunitas pendidikan yang lebih luas. Kami berharap diskusi ini dapat memperkuat kemitraan dan membuka peluang kolaborasi riset di masa mendatang,” ucap Trina dikutip oleh astakom pada Jumat, (19/6/2026).
Trina juga memanfaatkan momen tersebut untuk mengenalkan Pusat Riset Pendidikan BRIN. Lembaga ini mempunyai 9 kelompok riset dengan total 69 peneliti. Dari seluruh kelompok yang ada, terdapat satu tim khusus yang mendedikasikan fokusnya pada pendidikan anak usia dini guna menghasilkan kajian yang mendukung pengembangan kebijakan berbasis data dan fakta lapangan.
BRIN siapkan Lab baru
Langkah penguatan ekosistem riset pendidikan juga terus digenjot oleh BRIN. Menurutnya, upaya ini diwujudkan melalui pengembangan dua laboratorium baru yang masing-masing akan membidangi pendidikan STEM inklusif serta studi psikologi dan kesehatan mental.
“Inisiatif ini sangat relevan dengan tema webinar hari ini karena mendukung upaya memahami perkembangan belajar anak, kesejahteraan, inklusi, dan kesiapan mereka menghadapi masa depan,” tuturnya.
Trina berpendapat kalau kualitas pendidikan bagi anak usia dini tidak hanya diukur dari kecerdasan kognitif atau capaian akademis semata. Lebih dari itu, sisi sosial dan emosional anak merupakan fondasi utama yang harus dibangun secara matang sejak dini.
"Pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mengembangkan kemampuan kognitif, melainkan juga memelihara kesejahteraan emosional, kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berkolaborasi, serta nilai-nilai inklusi,” jelasnya.
Lewat kolaborasi ini, BRIN dan HNUE berkomitmen menciptakan ruang dialog yang produktif. Kedua institusi bertujuan saling membagikan hasil riset, praktik terbaik (best practices), serta pengalaman lapangan demi merumuskan sistem pendidikan anak usia dini yang adaptif terhadap tuntutan zaman.
Selain itu, forum ini merupakan bagian dari upaya memperluas jaringan penelitian pendidikan di kawasan ASEAN. Melalui sinergi internasional ini, para peneliti diharapkan dapat melahirkan inovasi baru serta rekomendasi kebijakan guna mendongkrak kualitas layanan pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia dan Vietnam.
Mengakhiri sambutannya, Trina menaruh harapan agar diskusi yang berlangsung mampu menciptakan ide-ide segar yang berdampak positif bagi kemajuan riset serta implementasi di dunia pendidikan.
“Semoga diskusi hari ini berlangsung produktif, memberikan manfaat bagi seluruh peserta, serta menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam penelitian dan inovasi pendidikan,” jelasnya.
Guru jadi kunci utama
Menurut pandangan Vietnam, tim akademisi Hanoi National University of Education (HNUE) justru menyoroti urgensi kesiapan para guru. Menurut mereka, kompetensi guru menjadi kunci utama keberhasilan implementasi pendidikan STEM sejak fase usia dini.
Pendidik HNUE, Hyun Anh Mai memaparkan kalau metode STEM sangat cocok dengan karakter belajar anak usia dini. Pada fase ini, anak-anak secara natural memiliki rasa penasaran yang besar dan gemar menjelajahi lingkungan di sekitar mereka.
"Dalam konteks pendidikan STEM di Vietnam, pendekatan ini sangat sesuai dengan cara anak usia dini belajar. Anak-anak sering dipandang sebagai ilmuwan kecil yang memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia di sekelilingnya,” paparnya.
Hasil studi HNUE menunjukkan kalau kompetensi guru, sikap profesional pendidik, dan dukungan kepala sekolah memegang peranan yang jauh lebih krusial dalam menyukseskan implementasi STEM, ketimbang sekadar mengandalkan fasilitas teknologi yang tersedia.
Berdasarkan hasil dari temuan tersebut, membuktikan kalau penguatan pendidikan STEM gak harus berawal dari laboratorium kampus atau perusahaan teknologi global, melainkan semenjak anak menapakkan kaki di bangku sekolah usia dini.
Lewat aktivitas bermain, mengobservasi sekitar, melakukan eksperimen kecil, serta memecahkan persoalan sederhana, anak-anak akan bisa menciptakan fondasi kompetensi yang penting untuk masa depan mereka.
Membentuk Ilmuan Kecil
Diskusi antara peneliti Indonesia dan Vietnam ini turut menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan metode STEM dengan penguatan aspek sosial-emosional secara bersamaan. Kedua poin tersebut menjadi bekal utama bagi anak untuk berkembang menjadi individu yang kreatif, mudah beradaptasi, mampu bekerja sama dalam tim, serta siap menghadapi tantangan abad ke 21.
Oleh sebab itu, adanya pendekatan STEM pada fase anak usia dini saat ini bergeser dari sekadar pilihan menjadi kebutuhan yang krusial. Langkah ini dinilai strategis untuk mempersiapkan generasi mendatang agar tumbuh lebih inovatif dan kompetitif. (nAD/aRsp)








