Menbud Ajak Teladani Pemikiran dan Perjuangan Bung Hatta dari Rumah Kelahirannya

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 21 Juni 2026 | 15:32 WIB
Menbud Ajak Teladani Pemikiran dan Perjuangan Bung Hatta dari Rumah Kelahirannya
Menbud Ajak untuk Teladani Pemikiran dan Perjuangan Bung Hatta dari Rumah Kelahirannya(Kemenbud)

astakom.com, Jakarta – Jejak pemikiran dan perjuangan para pendiri bangsa dinilai tetap relevan untuk dipelajari di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Salah satu tokoh yang warisannya masih terasa hingga kini adalah Mohammad Hatta atau Bung Hatta, proklamator kemerdekaan sekaligus salah satu perumus arah ekonomi bangsa melalui konstitusi.

Dalam kunjungan kerja ke Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengajak masyarakat meneladani pemikiran dan perjuangan sang proklamator. Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang nilai-nilai keteladanan yang melekat pada sosok Bung Hatta, mulai dari disiplin, kejujuran, kesederhanaan, hingga integritas.

Melansir keterangan resmi Kementerian Kebudayaan yang diterima Astakom, Sabtu (20/06/2026), Fadli Zon menyebut Bung Hatta sebagai tokoh yang memiliki pemikiran besar sekaligus salah satu perumus Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33 yang menjadi landasan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Bung Hatta dan ekonomi kerakyatan

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon menyoroti salah satu warisan terbesar Bung Hatta, yakni gagasan ekonomi kerakyatan yang kemudian menjadi bagian penting dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Menurutnya, Bung Hatta tidak hanya berperan sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga merupakan pemikir besar yang turut merumuskan arah pembangunan ekonomi Indonesia melalui konstitusi.

“Karena itu, saya menganggap Bung Hatta sebagai Bapak Ekonomi Kerakyatan. Karena ekonomi yang tercantum dalam konstitusi kita adalah ekonomi kerakyatan yang saat ini juga sedang dilaksanakan dan direalisasikan oleh Bapak Presiden Prabowo, melalui berbagai kebijakan seperti koperasi dan Danantara,” ujar Fadli Zon.

Ia mengingatkan kembali bahwa Pasal 33 UUD 1945 menegaskan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara. Selain itu, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Menurut Fadli, berbagai langkah pemerintah dalam mencegah kebocoran penerimaan negara, termasuk praktik under invoicing dan transfer pricing, merupakan bagian dari upaya menjalankan amanat konstitusi tersebut.

“Ekonomi Indonesia bukan ekonomi kapitalis, neoliberalis, ataupun Washington Consensus, melainkan ekonomi kerakyatan yang antara lain berbasis pada koperasi dan peran negara. Itulah salah satu buah pemikiran Bung Hatta yang dituangkan ke dalam konstitusi kita. Karena itu, konstitusi kita bukan hanya merupakan konstitusi politik, tetapi juga konstitusi ekonomi,” sambungnya.

Menelusuri jejak sang proklamator

Selain menyoroti pemikiran Bung Hatta, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung lingkungan yang membentuk karakter salah satu pendiri bangsa tersebut sejak usia muda.

Menteri Kebudayaan meninjau sejumlah bagian rumah yang kini menjadi museum, mulai dari kamar tidur, ruang belajar, hingga berbagai sudut yang menyimpan kisah masa kecil Bung Hatta.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 37, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Rumah bersejarah ini merupakan tempat Bung Hatta dilahirkan pada 12 Agustus 1902 dan menghabiskan masa kecilnya sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Berdasarkan data resmi pengelola museum, bangunan tersebut kini menjadi pusat edukasi sejarah yang menyimpan berbagai koleksi terkait kehidupan Bung Hatta dan keluarganya. Kehadiran museum ini bertujuan menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperkenalkan nilai perjuangan Bung Hatta kepada generasi penerus.

Dalam sejarah Indonesia, Bung Hatta dikenal sebagai proklamator kemerdekaan bersama Soekarno pada 17 Agustus 1945 dan menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Ia juga dikenal luas sebagai tokoh yang memperjuangkan koperasi dan konsep ekonomi yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Museum jadi sumber inspirasi

Menutup kunjungannya, Fadli Zon berharap dilakukan kajian yang lebih mendalam mengenai kehidupan Bung Hatta dengan menggunakan sumber-sumber yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar pengembangan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta agar semakin menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat sejarah bangsa.

Menurutnya, rumah kelahiran Bung Hatta bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga ruang yang dapat menjelaskan bagaimana karakter, pola pikir, dan semangat perjuangan seorang tokoh bangsa terbentuk sejak usia dini.

Melalui pengembangan museum yang lebih baik, pemerintah berharap warisan pemikiran dan keteladanan Bung Hatta dapat terus hidup serta menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ricky Kurniawan, budayawan sekaligus penyair Taufiq Ismail, serta sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Kebudayaan. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Bung Hatta membuktikan bahwa menjadi tokoh besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Dari ruang belajar sederhana di rumah masa kecilnya di Bukittinggi, lahir sosok yang ikut merumuskan arah bangsa. Di tengah era serba cepat saat ini, nilai disiplin, kejujuran, integritas, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama tetap menjadi bekal yang relevan untuk menghadapi masa depan.

Menbud Kemenbud Bung Hatta Rumah Kelahiran Bung Hatta Pahlawan Bukittinggi

Infografis

Terkini