Kurikulum Ekoteologi: Menag Minta PTKN Segera Garap Konsepnya
astakom.com, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menginstruksikan seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk segera merumuskan kurikulum berbasis ekoteologi.
Arahan tersebut ia sampaikan dalam Seminar Nasional Pengembangan PTKN Berbasis Ekoteologi di UIN Syekh Wasil Kediri, sebagai upaya menyelaraskan kebijakan kampus dengan program lingkungan yang tengah diusung Kementerian Agama.
Penandatanganan peresmian alih status dari IAIN menjadi UIN Syekh Wasil Kediri juga menjadi bagian dari rangkaian acara ini.
Teologi ramah lingkungan
Menurut Menag, transformasi kelembagaan ini menuntut adanya pergeseran paradigma ilmiah yang berkontribusi langsung pada kemaslahatan publik dan lingkungan. Ia juga menyoroti pentingnya kurikulum ekoteologi untuk mereformasi pemahaman keagamaan masyarakat, yang sejauh ini masih menempatkan alam sekadar sebagai objek eksploitasi.
"Jadi PR kita sebagai UIN tidak sedikit lah. Kita perlu menciptakan suatu konsep kurikulum ekoteologi, yang merevisi konsep teologi kita yang berkembang dalam masyarakat," ucap Menag di Kediri, dikutip oleh astakom pada Minggu (21/6/2026).
Manusia & alam satu kesatuan
Menag menegaskan perlunya membangun kesadaran bersama kalau manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang utuh. Lewat pendekatan ekoteologi atau teologi berbasis lingkungan, cara pandang masyarakat dalam memperlakukan alam semesta diharapkan dapat berubah.
"Bagaimana supaya kita menganggap alam dan manusia itu bukan sesuatu yang terpisah. Persahabatan dengan alam semesta jauh lebih menyelamatkan daripada menjadikan alam ini sebagai objek (eksploitasi)," jelasnya.
Babak baru UIN Syekh Wasil
Menteri Agama meresmikan alih status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri menjadi UIN Syekh Wasil Kediri yang ditandai dengan penandatanganan prasasti.
Perubahan status ini menandai babak baru bagi perguruan tinggi Islam tersebut, setelah menempuh perjalanan sejarah yang panjang sejak 1960-an.
Sejarah kampus ini bermula pada tahun 1961 ketika berdiri sebagai Fakultas Ushuluddin cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Seiring berjalannya waktu, lembaga tersebut resmi mandiri menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri pada tahun 1998.
Perjalanan institusi ini berlanjut pada 2018 saat statusnya meningkat menjadi IAIN Kediri, hingga akhirnya berhasil merampungkan transformasi formal menjadi UIN Syekh Wasil Kediri pada 2025. Saat ini, kampus yang sudah mengantongi akreditasi Unggul tersebut mengasuh 4 fakultas dan 1 program pascasarjana.
Fasilitas baru dari Dana SBSN
Selain meresmikan alih status kampus, Menteri Agama turut menandatangani prasasti peresmian tiga gedung baru, yakni Gedung Pusat Terpadu (GPT), Gedung Kuliah Terpadu (GKT), serta Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Ketiga fasilitas penunjang perkuliahan dan daya tampung mahasiswa ini dibangun menggunakan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Peresmian ini disaksikan langsung oleh Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Amin Suyitno, Direktur Diktis Sahiron, dan Rektor UIN Syekh Wasil Kediri Wahidul Anam. Selain itu, tampak hadir Stafsus Menag Farid Saenong, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar, jajaran rektor di bawah naungan Kemenag, hingga perwakilan dosen dan civitas akademika. (nAD/aRsp)
Gen Z Takeaway
Menag pengen kampus Islam gak cuma belajar teori agama, tapi juga gerak nyata nyelametin bumi lewat teologi lingkungan. Biar kita gak cuma bisa manfaatin alam, tapi sadar kalau merusak lingkungan itu sama aja ngerusak diri sendiri. Time to eco-friendly faith!








