Danantara Indonesia Ngespill DSI Fokus Sikat Praktik Transfer Pricing & Under Invoicing, Gak Bakal Caplok Ekspor!

Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:01 WIB
Danantara Indonesia Ngespill DSI Fokus Sikat Praktik Transfer Pricing & Under Invoicing, Gak Bakal Caplok Ekspor!
Danantara Indonesia Ngespill DSI Fokus Sikat Praktik Transfer Pricing & Under Invoicing, Gak Bakal Caplok Ekspor! [Dok. Danantara]

astakom.com, Jakarta – Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, tegas banget bilang kalau pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) alias DSI itu bukan buat mencaplok aktivitas ekspor atau mendadak jadi perantara ekspor Sumber Daya Alam (SDA) yang bikin para pelaku usaha merugi. Jadi, buat yang mengira lembaga ini bakal bertindak layaknya tengkulak, kalian salah besar, itu real no cap!

Sebaliknya, Dony menegaskan kalau DSI dibentuk justru buat memastikan seluruh komoditas SDA strategis milik Indonesia dijual dengan harga yang semestinya dan transparan di pasar global.

Siasat cerdik memangkas praktik curang

Hadirnya DSI ini punya misi mulia, yaitu buat mencegah taktik curang dalam ekspor yang selama ini diam-diam bikin negara rugi bandar, seperti praktik transfer pricing dan under invoicing. Pemerintah gak mau lagi kecolongan sama oknum-oknum nakal yang memanipulasi data finansial demi keuntungan pribadi.

"Kita hanya memastikan, tujuan kita sebenarnya. 'Eh, lu jualnya dengan harga yang bener dong.' Tujuan kita kan itu sebenarnya. Bukan mengambil barang mereka dan menjadi calo yang kemudian menjual," jelas Dony dalam siniar Podcast Kaleng-Kaleng, dilansir laman Prabowo Subianto, disitat astakom.com pada Sabtu (13/06/2026).

Bongkar fakta di lapangan: kenapa DSI dibentuk?

Dony membeberkan kalau pemerintah gak asal bikin aturan tanpa alasan yang jelas. Langkah taktis ini diambil berdasarkan realitas nyata di lapangan. Selama ini, Indonesia sering banget berhadapan sama trik transfer pricing—yaitu taktik menjual produk ekspor dengan harga jauh lebih murah ke perusahaan afiliasi milik eksportir itu sendiri di luar negeri.

Gak cuma itu, ada juga masalah under invoicing, di mana nilai ekspor yang dilaporkan sengaja dikecil-kecilin biar pajaknya murah. Dampaknya? Penerimaan negara langsung anjlok drastis.

Pemerintah jelas gak mau membiarkan praktik manipulatif kayak begini terus-menerus berjalan mulus. Indonesia gak mau lagi dijadikan ladang perasan oleh para eksportir nakal. Harapannya, negara dan seluruh rakyat bisa merasakan manfaat yang beneran optimal dan menyala dari hasil bumi kita sendiri.

“Yang penting tujuannya adalah bahwa tidak boleh terjadi transfer pricing, tidak boleh terjadi under invoicing. Lalu bagaimana pemerintah me-monitor ini? Dibentuklah DSI,” imbuh dia.

Masa transisi: pebisnis tetap kalem, gak perlu panik

Lebih lanjut, Dony menjabarkan kalau pencegahan transfer pricing dan under invoicing ini bakalan jadi prioritas paling utama DSI selama masa transisi kebijakan ekspor SDA satu pintu, yang dijadwalkan berjalan mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026. Masa transisi ini jadi periode krusial buat adaptasi sistem baru.

Nah, buat para pelaku usaha atau eksportir, kalian tetap bisa menjalankan aktivitas perdagangan luar negeri seperti biasa kok, jadi tetap bisa chill aja. Syaratnya cuma satu: wajib melaporkan seluruh kegiatan ekspornya kepada DSI terintegrasi lewat sistem layanan ekspor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.

Komitmen pemerintah jaga kepercayaan pasar

Dony juga mengimbau para pelaku usaha untuk gak perlu overthinking atau khawatir berlebihan soal implementasi kebijakan baru ini selama masa transisi. Pemerintah menjamin bakal tetap menghormati dan menjaga semua kontrak dagang yang sudah berjalan sah. Lagipula, aturan ini sifatnya gak kaku karena bakal dievaluasi total setelah tiga bulan berjalan.

Lewat komitmen ini, Dony memastikan kalau pemerintah sama sekali gak punya niat terselubung buat merusak ekosistem perdagangan yang selama ini sudah mapan. Kebijakan ini murni dirancang demi memperkuat pundi-pundi penerimaan negara, menggenjot laba bersih pelaku usaha yang jujur, sekaligus menciptakan tata kelola ekspor yang jauh lebih sehat dan transparan.

“Jadi nggak usah khawatir. Tidak ada keinginan pemerintah untuk menghancurkan sistem pendapatan kita. Justru kita ingin pendapatan kita jadi lebih besar. Dan apa impact-nya untuk para pemegang di bursa? Dengan kita kontrol, seharusnya teman-teman di bursa menjadi lebih confidence lagi,” terangnya. (aNs)

Gen Z Takeaway

Danantara Indonesia lewat COO-nya, Dony Oskaria, baru aja ngespill kalau pembentukan DSI itu real bukan buat jadi tengkulak atau nyaplok cuan ekspor para pelaku usaha, melainkan fokus utama mereka adalah menyala memangkas praktik curang kayak transfer pricing dan under invoicing yang bikin negara rugi bandar. Selama masa transisi dari Juni sampai Desember 2026, para eksportir disuruh tetap chill dan no overthinking karena aktivitas dagang tetap jalan normal asalkan wajib lapor sistem terintegrasi, plus kontrak yang ada dijamin aman demi bikin iklim pasar makin confidence dan transparan. 

PT Danantara Sumberdaya Indonesia PT DSI Transfer Pricing Under Invoicing SDA Strategis Ekspor SDA Ekspor SDA Satu Pintu Prabowonomics

Infografis

Terkini