Houthi Ancam Perluas Serangan Laut Merah, Kapal Tanker Saudi Diklaim Target

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:35 WIB
Houthi Ancam Perluas Serangan Laut Merah, Kapal Tanker Saudi Diklaim Target
Houthi Ancam Perluas Serangan Laut Merah, Kapal Tanker Saudi Diklaim Target [Ilustrasi Gemini]

astakom.com, Jakarta – Situasi di Laut Merah makin memanas dan bikin panik pasar global. Kelompok Houthi, milisi yang didukung Iran di Yaman, mengklaim baru saja meluncurkan serangan ke 2 kapal tanker minyak milik Arab Saudi di wilayah utara Laut Merah. Tak berhenti di situ, mereka juga mengancam bakal mengintensifkan serangan demi tutup semua jalur akses bagi pengiriman minyak Saudi.

Dua Tanker Saudi Jadi Target

Dilansir dari The New York Times pada Jumat (07/08/2026) Juru Bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, mengonfirmasi pihaknya telah menembakkan rudal balistik ke arah kapal tanker Saudi yang bernama Wafa di dekat kota pelabuhan Yanbu. Meski begitu, ia tidak membeberkan secara rinci kapan persisnya insiden tersebut berlangsung.

Pada hari yang sama, Bapak Saree kembali mengumumkan target berikutnya. Mereka mengklaim telah menembak kapal tanker minyak Saudi kedua bernama "Daisy" di kawasan Teluk Aden menggunakan rudal balistik. Lewat unggahan di media sosial, ia menegaskan kalau kapal tersebut mengalami kerusakan dan "terpaksa berbalik."

Menanggapi klaim sepihak dari Houthi ini, pihak berwenang Arab Saudi belum memberikan respons atau komentar resmi apa pun.

Jalur vital diblokade, minyak melonjak

Ketegangan ini bermula saat kelompok Houthi secara resmi mendeklarasikan blokade atas pelayaran Saudi bulan lalu. Lokasi kekuasaan Houthi di Yaman memang sangat strategis karena berada tepat di dekat Selat Bab al-Mandab, jalur air sempit yang menjadi pintu masuk ke ujung selatan Laut Merah.

Sejak blokade diumumkan, Houthi mengaku telah menargetkan setidaknya 8 kapal yang terafiliasi dengan Arab Saudi. Akibatnya, sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa mengubah rute perjalanan ke area utara Laut Merah. Namun, ancaman terbaru Houthi mengindikasikan kalau mereka juga akan mengejar kapal tanker Saudi hingga ke perairan menuju Terusan Suez jalur vital perdagangan dunia. Imbas dari eskalasi ini, harga minyak global yang sempat melandai selama dua hari langsung melonjak 1 persen menjadi sekitar $80 per barel.

Hubungan antara Houthi dan Arab Saudi memang sudah lama berada di titik didih. Pada tahun 2015, Arab Saudi membentuk koalisi militer untuk menggulingkan Houthi setelah kelompok tersebut merebut ibu kota Yaman, Sanaa, yang kemudian memicu perang saudara berkepanjangan.

Meski konflik sempat tertahan dalam kondisi kebuntuan yang rapuh, ketegangan kembali meningkat pesat sejak bulan lalu akibat aksi saling serang yang makin intensif.

Dampak penutupan Selat Hormuz

Laut Merah mendadak jadi jalur super krusial setelah bentrokan antara AS dan Iran secara efektif melumpuhkan Selat Hormuz koridor utama pengiriman minyak dan gas di Teluk Persia. Kondisi ini memaksa Arab Saudi memindahkan sekitar 70% distribusi minyaknya via jalur pipa ke kota-kota pelabuhan di Laut Merah. Sayangnya, titik inilah yang sekarang menjadi target empuk serangan Houthi.

Koalisi pimpinan Saudi sebagian besar memilih untuk tidak secara terbuka mengonfirmasi atau membantah klaim spesifik dari Houthi. Meski demikian, koalisi telah melancarkan serangan balasan ke kota pelabuhan Hudaydah yang dikuasai Houthi, dengan alasan menargetkan "sasaran militer yang sah" yang dinilai mengancam keselamatan kapal-kapal komersial.

Eskalasi memburuk & diplomasi tertahan

Sayangnya, aksi balasan tersebut belum mampu meredam gempuran Houthi. Pada hari Selasa, Houthi mengklaim telah menyerang bandara di Najran, wilayah barat daya Arab Saudi, walau belum ada konfirmasi resmi maupun kepastian apakah serangan itu benar-benar terjadi.

Pada hari yang sama, sebuah kapal kargo India dilaporkan tenggelam di Laut Merah setelah dihantam proyektil menurut keterangan pemerintah India. Seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan. Meski Houthi tidak mengklaim bertanggung jawab atas insiden ini, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional tetap menuding Houthi sebagai pelakunya.

Rangkaian serangan dan ancaman ini terjadi di tengah upaya diplomasi antara Washington dan Teheran yang kembali diuji, setelah kesepakatan gencatan senjata sebelumnya runtuh dalam beberapa pekan terakhir. Presiden Trump sempat menyampaikan kepada Fox News bahwa kedua belah pihak telah melakukan "diskusi yang sangat baik," meskipun para pejabat Iran memilih untuk tetap realistis dan meredam ekspektasi akan adanya jalan keluar dalam waktu dekat. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Intinya, perseteruan panas antara Houthi dan Arab Saudi di Laut Merah ini bukan cuma masalah konflik kawasan lokal, tapi dampaknya langsung kerasa ke kantong kita secara global. Karena Selat Hormuz dan Laut Merah itu jalur utama "napas" distribusi minyak dunia, serangan ke kapal tanker ini otomatis bikin pasokan tersendat dan harga minyak dunia naik tajam ke $80 per barel—yang ujung-ujungnya bisa memicu efek domino bikin harga bensin sampai barang-barang kebutuhan ikut makin mahal!

Laut Merah Kapal Tanker Arab Saudi selat hormuz

Infografis

Terkini