Kronologi Anak 6 Tahun Dirundung dan Diseret ke Tiang Listrik di Taman Kramat Pulo

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 12 Juni 2026 | 13:21 WIB
Kronologi Anak 6 Tahun Dirundung dan Diseret ke Tiang Listrik di Taman Kramat Pulo
Kronologi Anak 6 Tahun Dirundung dan Diseret ke Tiang Listrik di Taman Kramat Pulo (pexels)

astakom.com, Jakarta – Seorang anak berusia 6 tahun di Taman Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, menjadi korban kekerasan. Korban berinisial MWP kini harus berjuang melewati masa koma di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah menjadi korban persekusi oleh dua anak yang menyeret dan menempelkan tubuhnya ke tiang listrik yang mengalami kebocoran arus (induksi).

Peristiwa yang terjadi pada Minggu sore silam (07/06/2026) itu memicu keprihatinan mendalam sekaligus desakan publik terkait pengawasan ramah anak di area taman kota serta respons cepat pemeliharaan fasilitas umum.

Kasus ini sekarang sedang ditangani secara intensif oleh Satuan Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polres Metro Jakarta Pusat.

Kepala Satuan (Kasat) PPA-PPO Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Rita Oktavia Shinta, menyatakan kalau ancaman hukuman untuk pelaku apabila terbukti bersalah.

"Diduga pelaku itu masih di bawah umur, dan ancamannya kami buat Undang-Undang Perlindungan Anak, ancamannya masih di bawah lima tahun," ucap Rita dikutip oleh astakom pada Jumat (12/06/2026).

Dipalak hingga diseret ke tiang listrik

Bocah berinisial MWP meminta izin kepada ibunya, Vira Islamiati, untuk bermain di Taman Kramat Pulo bersama teman-temannya.

Sebelum pergi, anak tersebut sempat meminta uang jajan, namun uang sebesar Rp2.000 yang dibawa korban ternyata diminta paksa oleh terduga pelaku yang berinisial LNG dan RVN. Korban bahkan diancam tidak akan ditemani jika tidak menyerahkan uang tersebut.

"Ternyata ada laporan ke saya, katanya itu uangnya bukan buat dia, ternyata buat temannya, buat si pelaku, diminta paksa," ucap Vira dikutip oleh astakom pada Jumat, (12/6/2026).

Vira sempat mengecek kondisi anaknya di taman dan melihat MWP masih dalam keadaan aman. Namun, hanya berselang 30 menit setelah ditinggal, situasi berubah, anaknya sudah ditarik-tarik dan diseret ke tiang listrik, dan dirundung oleh dua bocah anak.

"Lalu korbannya kan udah keseret-seret ya, sampai kakinya luka, sama bagian kepala, pingsan juga, udah gitu anaknya sampai enggak sadar, dibawa ke rumah sakit, sampai napasnya pun enggak ada," jelas ibunya.

Bukti CCTV ungkap kekerasan pelaku

Kepastian mengenai dugaan itu baru diperoleh Linda seorang nenek dari korban pada keesokan harinya setelah ia memeriksa rekaman CCTV. Berdasarkan bukti visual tersebut, ia menyebut sang cucu telah menjadi korban persekusi oleh dua orang terduga pelaku.

"Di dalam rekaman terlihat cucu saya dipersekusi oleh dua orang yang diketahui berinisial LNG dan RVN. Cucu saya sempat diseret, dan dibawa ke tiang yang ternyata tiang tersebut ada aliran listriknya hingga menyebabkan cucu saya kesetrum,” papar Linda seorang nenek korban.

“Cucu saya itu datang main ke taman sekitar pukul 18.30 hingga sekitar pukul 19.30 WIB di Taman Kramat. Saya dapat kabar dari anak saya, Vira, bahwa cucu saya MWP kejang-kejang,” ucap nenek korban, Linda Reselin.

Linda mengungkapkan kalau sang cucu sempat pingsan di lokasi kejadian. Meski wajah bocah tersebut sudah disiram air oleh orang di sekitar, korban tetap berada dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Persekusi terhadap cucu saya cukup kejam juga. Cucu saya juga mengalami benjol pada kepala bagian belakang kepala karena sempat dibanting,” ungkap Linda.

Linda menambahkan kalau proses visum terhadap cucunya belum dapat dilakukan oleh pihak keluarga. Hal ini dikarenakan mereka masih menunggu terbitnya surat pengantar resmi dari pihak kepolisian untuk keperluan pemeriksaan medis tersebut.

“Kalau sekarang cucu saya sudah sadar tapi dia masih takut kalau ketemu orang. Ini juga belum divisum hingga saat ini karena belum ada surat dari kepolisian," ucap Linda.

Polisi selidiki kabel terkelupas

Setelah memeriksa rekaman kamera pengawas, Kompol Rita mengonfirmasi adanya indikasi tindakan kekerasan dalam insiden tersebut.

Namun, polisi juga menyelidiki kemungkinan unsur ketidaktahuan dari pihak-pihak terlibat mengenai kondisi tiang yang bertegangan listrik.

Saat melakukan cek TKP, petugas memang mendapati kabel yang terkelupas menjuntai hingga memicu aliran listrik pada tiang tersebut.

Sebagai langkah kepastian hukum, polisi menegaskan akan mengusut tuntas perkara ini dan telah bersurat ke pihak RSCM guna mengajukan permohonan visum.

Taman Kramat Pulo ditutup total

Kondisi di Taman Kramat Pulo, kemarin siang (11/06/2026), terpantau sepi dari aktivitas anak-anak maupun warga. Area taman hanya diisi oleh petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Jakarta Pusat yang melakukan pembersihan serta pemeriksaan instalasi listrik. Petugas di lapangan membenarkan adanya kebocoran arus listrik di tiang tempat korban tersetrum.

“Memang ada sedikit setrum tadi ya, sekitar 40 volt. Itu kan kemarin dites juga pakai alat itu, avometer. Nah sekarang posisinya sudah normal, tidak ada lagi,” ucap Ilham.

Ilham menjelaskan, demi keselamatan, ia langsung mematikan total seluruh aliran listrik taman pada Minggu malam sesaat setelah kejadian, dan melakukan perbaikan menyeluruh pada Seni pagi silam (08/06/2026).

“Hari Minggu malam Senin. Jadi posisinya saya datang, tapi karena ini harus bongkar semuanya, sementara dimatikan dulu (seluruh listrik di taman). Tindak lanjutnya besoknya, besok paginya,” jelas Ilham.

Namun, ia menyayangkan tidak adanya laporan awal dari warga mengenai kondisi kabel terkelupas tersebut sebelum jatuhnya korban.

"Ini yang disayangkan dari kasus ini juga kan nggak ada laporan sebelumnya. Kalau ada kejadian seperti itu misalnya sebelum kejadian nyetrum anak, kalau memang orang sini sudah tahu harusnya ada laporan sebelumnya,” papar Ilham.

Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Kramat Pulo, Haris, menyebutkan kalau taman ini merupakan pusat bermain utama yang selalu ramai dikunjungi anak-anak dari berbagai wilayah, terutama pada hari libur.

“Sering banget (jadi tempat bermain). Jadi kalau anak-anak dari mulai kalau hari libur ya, pagi ini itu sudah rame. Kita enggak buka saja dia manjat-manjat. Tempat bermain nih,” ucap Haris.

“Bukan anak sini saja, dari anak sono, sono, pada kemari. Taman ini ngundang lah, ngundang teman-teman. Di sini kan taman cuma ini saja gitu,” lanjutnya.

Untuk sementara waktu, Taman Kramat Pulo resmi ditutup dari segala aktivitas publik. Menurut keterangan Haris, fasilitas umum yang biasanya dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga malam hari sekitar pukul 22.00 WIB ini dihentikan operasionalnya demi keamanan.

“Kalau untuk sementara ya kita dalam pengawasan tutup dulu dah sementara ya kan,” jelas Haris.

Sementara itu, mantan Ketua RT setempat, Asep, mengonfirmasi kebenaran kabar mengenai bocah enam tahun yang menjadi korban kekerasan hingga tersetrum di dalam taman. Berdasarkan keterangannya, tindakan tersebut melibatkan dua orang remaja sebagai terduga pelaku.

"Diketahui yang melakukan persekusi adalah remaja SMA dan anak SMP,” ucap Asep. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Kasus ini bener-bener heartbreaking sekaligus jadi wake-up call buat kita semua. Bullying yang kebablasan digabung sama abainya pemeliharaan fasilitas publik itu fatal banget akibatnya. Stay safe dan jangan pernah ragu buat langsung speak up atau lapor ke pihak berwenang kalau kalian ngelihat ada fasilitas umum yang rusak atau membahayakan di sekitar kalian, sebelum ada korban lagi.

Polres Metro Jakarta Pusat Undang Undang perlindungan anak Kekerasan Terhadap Anak Kekerasan Anak

Infografis

Terkini

Penyaluran Bantuan Pangan 2026

Penyaluran bantuan pangan alokasi bulan Februari - Maret 2026, di Kantor Kelurahan Alun Alun Contong, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/6/2026).

Footage 13:50 WIB