Kapal Perang Belanda-Tiongkok Bersitegang di Laut China Selatan
astakom.com, Jakarta – Insiden di Laut China Selatan memicu ketegangan baru antara Tiongkok dan Belanda pada Rabu silam (27/05/2026).
Ketegangan ini mencuat setelah fregat militer Belanda terlibat konfrontasi dengan armada angkatan laut China di lepas pantai Kepulauan Paracel yang disengketakan.
Saling klaim di Paracel
Menurut pernyataan resmi juru bicara Komando Teater Selatan Angkatan Laut Tiongkok, Kapten Senior Zhai Shichen, armada laut dan udara Tiongkok telah menerapkan "langkah-langkah yang diperlukan".
Respons berupa peringatan serta pengacakan elektronik tersebut dipicu oleh tindakan HNLMS De Ruyter yang diduga memasuki wilayah dekat Kepulauan Paracel secara ilegal dan meluncurkan helikopter berbasis kapal ke ruang udara Tiongkok.
Selain itu, ia menuduh tindakan Belanda telah berdampak "secara serius" terhadap rusaknya stabilitas di kawasan Laut China Selatan dan meminta mereka untuk "segera menghentikan pelanggaran dan tindakan provokatifnya. Demikian pernyataan Zhai Shichen dilansir dari Politico pada Jumat, (29/05/2026).
Insiden tersebut berlangsung di sekitar Kepulauan Paracel, wilayah bernilai strategis yang mencakup sekitar 130 pulau. Beijing merebut kawasan ini dari Vietnam pada dekade 1970-an, dan kini mengendalikannya secara penuh melalui penguatan jaringan pos militer serta sistem pengawasan canggih.
Akses menuju kawasan tersebut dijaga ketat oleh China, yang melarang keras kapal pribadi maupun komersial memasuki perairan teritorial di sekitar pulau-pulau itu.
Belanda bantah langgar hukum
Kementerian Pertahanan Belanda membantah keras klaim Beijing tersebut. Saat memberikan keterangan kepada Politico, mereka menyatakan kalau HNLMS De Ruyter beroperasi sesuai dengan hukum internasional,. "Termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).” tuturnya.
Menurut keterangan kementerian tersebut, pelayaran fregat di Laut China Selatan serta kunjungannya ke berbagai pelabuhan di wilayah itu bertujuan “untuk memperkuat hubungan diplomatik, keamanan, dan ekonomi” dengan para negara mitra.
Hanya saja, pihak Belanda menolak memberikan keterangan lebih lanjut terkait “rincian operasional” insiden tersebut.
Bukan insiden pertama
Insiden tersebut menyusul peristiwa pekan lalu di perairan dekat Filipina, saat komandan fregat Belanda menyebut sebuah helikopter militer Tiongkok sempat mendekati kapal mereka lalu pergi menjauh.
"Mereka bertanya siapa kami dan kami menjawab, dan itu sudah cukup,” ucap Komandan Rodger de Wit kepada sebuah surat kabar lokal.
Ambisi NATO di Indo-Pasifik
Dalam beberapa tahun terakhir, Belanda kian aktif meningkatkan eksistensinya di kawasan Indo-Pasifik. Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan rutin mengerahkan kapal perang melintasi Laut China Selatan, sebagai bagian dari strategi besar mereka untuk mempererat kemitraan keamanan di wilayah tersebut
Sebelumnya pada tahun 2021, kapal fregat HNLMS Evertsen terpantau berlayar di wilayah itu, bergabung dengan gugus tempur kapal induk Inggris di bawah pimpinan HMS Queen Elizabeth.
Pengerahan kekuatan berlanjut pada 2024 ketika HNLMS Tromp melaksanakan latihan bersama Angkatan Laut AS di perairan yang tengah diperebutkan tersebut.
China tetap mengklaim sebagian besar Laut China Selatan dan menolak putusan arbitrase tahun 2016 di Den Haag. Padahal, keputusan hukum internasional tersebut dengan tegas menyatakan bahwa klaim luas Beijing tidak memiliki dasar hukum yang sah. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Laut China Selatan kembali memanas! Kapal perang Belanda (HNLMS De Ruyter) dicegat armada China di Kepulauan Paracel karena dinilai masuk wilayah secara ilegal. Pihak Tiongkok langsung main electronic scrambling dan kasih peringatan keras. Tapi, Belanda santai dan membantah, merasa pelayaran mereka sah-sah saja sesuai hukum internasional (UNCLOS) buat mempererat relasi di Indo-Pasifik. Intinya, tensi geopolitik global lagi-lagi naik level!










