Hanya untuk Kerjasama Industri Aviasi! Kemhan Luruskan Rumor Bandara Kertajati Mau Jadi Pangkalan Militer AS
astakom.com, Jakarta — Isu liar yang menyebut Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bakal disulap jadi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) akhirnya resmi dibantah.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) langsung turun tangan memberikan klarifikasi untuk memastikan bahwa rumor yang beredar tersebut pure misinformasi, sekaligus menegaskan kedaulatan wilayah Indonesia tetap aman terkendali.
“Tidak benar,” terang Karo Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, kemarin (28/05/2026).
Plot twist-nya, narasi pangkalan militer ini muncul ke permukaan menyusul adanya rencana kerja sama strategis antara Indonesia dan AS.
Kolaborasi aviasi, bukan pangkalan tentara asing
Kedua negara memang berencana memanfaatkan bandara yang terletak di Majalengka, Jawa Barat tersebut, namun fokusnya adalah untuk kolaborasi di sektor industri aviasi, bukan untuk urusan invasi atau pangkalan tentara asing.
Rico mengungkapkan dalam kerja sama tersebut yang dibahas sebenarnya adalah peluang pengembangan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
Sederhananya, Bandara Kertajati justru diproyeksikan bakal menjadi bengkel internasional berskala high-level khusus untuk perawatan dan perbaikan pesawat angkut Hercules/C-130 demi memperkuat pertahanan nasional.
“Seluruh proses tetap mengedepankan kedaulatan Indonesia, hukum nasional, dan kepentingan nasional. Sampai saat ini pun pembahasannya masih pada tahap penjajakan dan belum ada keputusan final terkait implementasinya,” tegas Rico.
Pertemuan Menhan Sjafrie dengan Menhan AS
Wacana ini sendiri awalnya spill the tea setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin melakukan rapat kerja bareng Komisi I DPR pada Selasa silam (19/05/2026).
Dalam pertemuan formal tersebut, Menhan Sjafrie mengungkap momen pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (Secretary of Defense), Pete Hegseth, yang terjadi pada tahun lalu terkait potensi kolaborasi ini.
"Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN, dia menawarkan bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami," ujarnya.
Menhan Sjafrie mengaku tidak langsung mengiyakan tawaran MRO tersebut di tempat, melainkan memilih untuk melaporkannya terlebih dahulu kepada Presiden Prabowo Subianto selaku pemegang komando tertinggi.
"Saya lapor Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kasih Kertajati. Kita sedang bekerja untuk itu," tuturnya. (aLf/aNs/aRsp)










