Presiden Prabowo Nggak Mau RI Kena Shock Global: Sistem Keuangan Dijaga Ketat untuk Stabilitas Makro Nasional

Pewarta: Shintya
Editor: AR Purba
Sabtu, 23 Mei 2026 | 21:10 WIB
Presiden Prabowo Nggak Mau RI Kena Shock Global: Sistem Keuangan Dijaga Ketat untuk Stabilitas Makro Nasional
Presiden Prabowo Nggak Mau RI Kena Shock Global, Sistem Keuangan Dijaga Ketat (Kementerian Sekretariat Negara)

astakom.com, Jakarta - Presiden RI Prabowo Subianto terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dan keuangan negara, terlebih lagi di situasi global saat ini yang penuh dengan ketidakpastian.

Sebagai upaya dalam memastikan kondisi Indonesia terus resilien dalam menghadapi tantangan global ke depan. Kemarin (22/5/2026), Presiden Prabowo menerima tokoh-pakar senior di bidang ekonomi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan. 

Pertemuan itu dilakukan untuk membahas pengalaman penanganan krisis ekonomi di periode sebelumnya.

Di pertemuan itu juga membahas langkah antisipatif pemerintah buat jaga stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional di situasi dunia yang lagi menghadapi banyak dinamika.

Pengalaman menghadapi krisis

Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian bilang kalau dalam pertemuan itu, ekonom menyampaikan pengalaman krisis pada tahun 2008, dan krisis minyak atau lonjakan harga minyak di 2005.

“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” kata Menko Airlangga dalam keterangan pers usai pertemuan dikutip oleh astakom.com pada Sabtu (23/5/2026).

Pernah hadapi lonjakan harga minyak

Airlangga menyebutkan kalau para tokoh memberikan beberapa catatan penting soal pengalaman menghadapi tekanan ekonomi global, kayak lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, dan perubahan nilai tukar.

Airlangga ngespill kalau dulu Indonesia pernah menghadapi situasi harga minyak naik tinggi dan berdampak pada inflasi.  

“Di tahun 2005 ada krisis minyak. Di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar (AS per barel),” katanya.

Situasi makro ekonomi RI lebih baik

Airlangga bilang kalau kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini cenderung lebih baik dibandingkan saat krisis sebelumnya. Fundamental ekonomi dinilai lebih kuat dan depresiasi rupiah juga ada di tingkat yang lebih rendah.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” katanya.

Dari pertemuan itu, pemerintah mengambil pembelajaran soal langkah antisipatif yang harus dilakukan buat hadapin setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Sektor keuangan diperketat

Bahkan Presiden Prabowo minta jajaran yang terkait untuk terus melakukan pengawasan regulasi yang bisa memperkuat stabilitas sektor keuangan juga menjaga prinsip kehati-hatian perbankan. 

Lalu perlunya kajian terhadap penguatan permodalan perbankan sebagai upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional tetap kuat menghadapi dinamika global.

“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” kata Airlangga.(Shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

Prabowo lagi all out jaga ekonomi RI biar tetap strong di tengah global uncertainty yang makin random. Ekonom senior sampai dipanggil ke Istana buat spill pengalaman krisis 2005 dan 2008 biar Indonesia nggak kecolongan lagi. Kabar baiknya, fundamental ekonomi sekarang dinilai lebih resilient dan rupiah masih relatif aman.

Prabowonomics Menko Ekonomi Airlangga Hartarto Presiden Prabowo Kebijakan Fiskal Berita ekonomi

Infografis

Terkini