Menperin Soroti Tingginya Angka Pengangguran Lulusan SMK: Butuh Evaluasi dan Link and Match Real
astakom.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyoroti nasib lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang justru masih menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran terbesar di Indonesia.Padahal, sekolah kejuruan ini sejatinya diproyeksikan sebagai pemasok utama tenaga kerja untuk berbagai sektor industri.
Menperin mengaku prihatin banget melihat fenomena ini. Menurutnya, pembenahan secara mendasar di sektor pendidikan vokasi sudah sangat mendesak agar para lulusannya benar-benar bisa terserap oleh industri yang sedang berkembang di Tanah Air.
"Agak menjadi ironi SMK kita, pendidikan vokasional kita, yang sebenarnya diharapkan bisa siap masuk ke dunia kerja, tetapi fakta menunjukkan kontradiksi yang cukup membuat kita pusing semua," ungkap Sarmuji saat hadir di Rapimnas Kadin Indonesia 2026 yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
"SMK kita termasuk salah satu yang menjadi sumber dari pengangguran yang ada di Indonesia. Tentu harus ada perbaikan yang memadai, butuh kerja sama lintas kementerian dan lintas lembaga," tambahnya.
PR besar soal link and match dunia sekolah dan industri
Sarmuji membagikan pengalamannya saat meninjau langsung SMK yang berada di bawah binaan Kementerian Perindustrian. Di sana, para siswa sudah disiapkan secara matang untuk terjun ke dunia kerja,bahkan tak sedikit yang sudah di-book oleh pihak industri sebelum mengantongi ijazah.
"Tetapi yang menjadi pertanyaan besar, itu kan SMK yang berada di bawah kementerian teknis seperti Perindustrian. Pertanyaannya, bagaimana dengan dunia pendidikan secara umum, apakah ada link and matchdengan industri? Terus terang ini agak ironis," ceritanya.
Jangan sampai bonus demografi malah jadi beban
Penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri dinilai Sarmuji sangat krusial, apalagi saat ini Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni adalah kunci utama untuk menarik investasi sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kita harapkan ada perubahan yang signifikan di mana bonus demografi kita yang terjadi hingga tahun 2035 ini betul-betul menjadi bonus, bukan menjadi beban bagi Indonesia yang sedang berupaya tumbuh lebih tinggi," jelasnya.
"Tanpa kesiapan sumber daya manusia, rasanya apa yang kita rencanakan dan kita kondisikan sebagai enabling factor bagi tumbuhnya dunia industri pasti tidak akan bersahutan dengan kemampuan SDM kita," tegas Sarmuji. (RaM)
Gen Z Takeaway
Fenomena lulusan SMK yang masih numpuk di daftar pengangguran ini bikin pusing banget,padahal anak vokasi harusnya jadi pemain utama di dunia kerja. Kalau link and match antara kurikulum sekolah dan kebutuhan industri nggak segera dibenahi bareng-bareng lintas lembaga, potensi bonus demografi sampai tahun 2035 nanti malah berisiko jadi beban berat ketimbang dorongan buat kemajuan ekonomi.







