Hujan Akhirnya Turun di Papua Selatan, Karhutla Langsung Merosot Tajam
astakom.com, Jakarta – Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan yang sempat bikin ketar-ketir di Papua Selatan akhirnya mulai mereda. Gara-gara gempuran Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang ngebut dikerahkan pemerintah, jumlah titik panas alias hotspot langsung ambles drastis sampai 78 persen.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, spill kalau fokus penanganan saat ini disebar ke empat kabupaten, yaitu Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat, dengan total luas lahan terbakar mencapai 161,5 hektare.
Operasi Modifikasi Cuaca
Demi menjinakkan api, pemerintah nggak main-main. Sebanyak 10 sorti OMC digaskeun dengan menyebar 10.000 kilogram garam ke langit. Hasilnya hujan sukses turun mengguyur wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, plus ujung selatan Mappi.
Hotspot ambles 78 persen
“Saat ini bisa kami sampaikan, dari hari-hari sebelumnya turun signifikan titik api sebesar 78 persen. Tadinya titik api sebesar 295, saat ini kita dapati ada 65 titik,” tutur Berton pada konferensi pers berdasarkan rilis yang diterima oleh astakom pada Jumat (30/10/2026).
Asmat makin zonk
Meski situasinya udah jauh lebih adem dan jarak pandang yang tadinya cuma 1–5 kilometer (km) kini naik jadi 7–8 km, perjuangan belum kelar. Kabupaten Asmat, misalnya, masih zonk alias belum kesiram hujan sama sekali.
Makanya, pemerintah bakal terus nge-push OMC sampai seluruh wilayah benar-benar clean dari api. Apalagi, ancaman El Niño yang strong banget ditambah angin kering bikin kawasan Papua tetap high risk. Belum lagi ada kiriman asap lintas batas dari Papua Nugini yang ikut bikin situasi makin tricky.
“Tentu upaya-upaya tetap kami laksanakan untuk memadamkan api ini, sehingga nantinya Papua Selatan ini juga bebas dari api,” sambungnya.
Dampak positif dari hujan buatan ini juga bikin jarak pandang di Papua Selatan yang tadinya cuma 1–5 kilometer (km) langsung naik kelas jadi 7–8 km. Kondisi cuaca diprediksi bakal makin glowing seiring naiknya potensi awan hujan di kawasan Merauke Selatan menjelang akhir pekan.
Walaupun begitu, BNPB tetap pasang mode waspada karena ancaman El Niño yang kuat masih menghantui wilayah Papua. Kombinasi cuaca ini plus angin kering bikin risiko karhutla di sana jadi makin tinggi.
“Dan tentu kami juga menyampaikan, El Niño saat ini sangat kuat dan Papua Selatan sangat rawan terbakar. Serta asap lintas batas dari Papua Nugini juga datang ke Papua Selatan,” ungkap Berton.
Berton berharap OMC bisa terus konsisten memanggil hujan demi membasmi habis titik panas yang makin diperparah oleh fenomena El Niño.
“Kita berharap hujan ini pun akan tetap terjadi. Sehingga titik api baik itu yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam permukaan, misalnya gambut, bisa teratasi dengan baik,” lanjut Berton.
Perjuangan Belum Usai
Sebagai catatan, BNPB saat ini masih berjibaku mengatasi total 462 hektare lahan terbakar yang tersebar di 10 provinsi, termasuk Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku.
Sementara itu, aksi OMC juga terus digencarkan di berbagai wilayah rawan lainnya. Pada Rabu (28/10) lalu, pemerintah mengerahkan 16 sorti OMC dengan menyebar es kering (dry ice) serta garam hingga total 22.600 kg di tiga provinsi sekaligus, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Hasilnya pun nggak kaleng-kaleng, sukses memicu hujan ringan hingga sedang di Kotawaringin Barat, Banjarmasin, sampai Banjarbaru. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Buat lo yang peduli lingkungan, kasus karhutla di Papua Selatan ini bukti kalau teknologi kaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) alias hujan buatan itu bener-bener ngebantu banget nurunin titik api sampai 78%. Tapi, karena ancaman El Niño dan angin kering masih ngelabrak, kita semua tetep harus aware sama isu lingkungan dan dukung aksi pencegahan biar bumi nggak makin "overheat".







