Hasil Pemilu Israel Bikin Gempar: Blok Netanyahu Imbang, Partai Arab Pegang Kunci!
astakom.com, Jakarta – Hasil pemilu parlemen Israel terbaru benar-benar bikin tensi politik lokal makin mendidih. Berdasarkan data parsial, belum ada pemenang mutlak yang berhasil mengamankan suara mayoritas. Baik blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun kubu pesaing utamanya, Gadi Eisenkot, sama-sama masih belum nemu jalan mulus buat menguasai kursi pemerintahan.
Hasil imbang
Sampai dengan penghitungan 57 persen suara pada Rabu jam 8 pagi (06:00 GMT), koalisi sayap kanan Netanyahu diproyeksikan mengantongi 56 kursi di parlemen (Knesset) yang berisikan total 120 kursi. Sementara itu, blok oposisi pimpinan Eisenkot menempel ketat di angka 49 kursi.
“Kita harus membentuk pemerintahan nasionalis sayap kanan yang kuat,” ucap Netanyahu.
“Kita tidak boleh membahayakan Israel dan membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis.” ungkap Benjamin Netanyahu dilansir dari Al Jazeera pada Rabu (28/10/2026).
Penentu kunci
Padahal, kedua pihak butuh setidaknya 61 kursi buat membentuk pemerintahan mayoritas secara sah. Di sisi lain, partai-partai Arab diprediksi meraih 16 kursi. Angka ini secara otomatis menjadikan mereka pemegang peranan super krusial yang bisa membalikkan keadaan dalam penentuan koalisi mendatang.
Ajang pemilu kali ini pada dasarnya menjadi panggung pertaruhan publik atas kepemimpinan Netanyahu, khususnya pasca-serangan 7 Oktober 2023 serta rentetan aksi militer di Gaza, Lebanon, dan Iran. Kebuntuan hasil pemilu ini membuat kondisi politik Israel terancam stuck, sekaligus memberi celah bagi Netanyahu untuk tetap bertahan di kursi kepemimpinan sementara proses lobi-lobi koalisi berjalan.
"Blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak. Ini adalah keruntuhan total, dan publik telah menyuruh mereka pulang.” jelas Yair Lapid, pemimpin oposisi
Kubu oposisi menilai hasil ini sebagai sinyal kuat dari publik yang mulai burnout dan kehilangan rasa percaya pada rezim Netanyahu.
"Kita telah menerima kesempatan bersejarah untuk membangun pemerintahan perubahan sejati di Israel dan kita tidak berniat untuk melepaskannya,” tulis Yair Golan pemimpin Partai Demokrat oposisi di X.
Namun, pihak Likud merespons santai dan menganggap euforia kubu oposisi terlalu terburu-buru.
"Likud adalah partai terbesar di Israel. Selalu baik untuk belajar sesuatu dari masa lalu" papar Gideon Saar menteri luar negeri Israel sekaligus anggota partai Likud Netanyahu.
Rekor partisipasi
Antusiasme warga dalam pemilu kali ini tergolong sangat masif. Komite Pemilu Pusat mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen (sekitar 5,69 juta suara dari total 7,33 juta pemilih terdaftar). Ini merupakan angka keikutsertaan tertinggi dalam sejarah pemilu Knesset sejak tahun 1999.
"Pemerintahan pertumpahan darah harus lengser!" ucap Yousef Jabareen pada sebuah pernyataan.
Ketua Ra'am (Daftar Arab Bersatu), Mansour Abbas, turut merespons positif hasil proyeksi pemilu tersebut. Dalam keterangannya kepada Channel 12 Israel, ia menegaskan komitmennya untuk mentransformasi amanah suara yang didapat partainya menjadi perubahan nyata bagi dinamika politik negara itu.
“Kami akan mengubah mandat yang kami terima menjadi realitas baru di negara ini.” ucap Mansour Abbas.
Meskipun suara partai Arab melonjak dan berpotensi jadi penentu penentu kemenangan, baik Netanyahu maupun Eisenkot sejauh ini masih menolak berkoalisi dengan mereka karena perbedaan pandangan politik yang mendasar.
Jalan buntu
Analis politik Ehab Jabareen sekaligus peneliti Palestina di Israel, menilai kondisi ini menunjukkan celah pelemahan di kubu incumbent, tetapi belum bisa disimpulkan sebagai akhir karier sang perdana menteri.
“Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa bloknya telah kehilangan mayoritas, tetapi juga menunjukkan bahwa lawan-lawannya menghadapi tugas yang sulit dalam membangun mayoritas, Jika kedua pihak tidak dapat membentuk pemerintahan, Netanyahu dapat tetap menjabat sebagai pemerintah sementara selama negosiasi berlangsung.” ucapnya. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Pemilu Israel kali ini tensinya lagi chaos banget: suara rakyat rekor tertinggi sejak 1999, kubu incumbent vs oposisi sama-sama stuck nggak dapet mayoritas, dan plot twist-nya partai Arab justru yang pegang kunci penentu walau dua-duanya masih gengsi buat koalisi.









