Gencatan Senjata Cuma Formalitas? PBB Beberkan Kejahatan Perang Israel
astakom.com, Jakarta – Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) balik membongkar borok otoritas dan pasukan militer Israel. Lembaga dunia ini menegaskan bahwasanya deretan kejahatan perang hingga kejahatan terhadap kemanusiaan terus dilancarkan secara masif di seluruh wilayah pendudukan Palestina.
“Israel terus melakukan tindakan genosida di Gaza meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata,” tutur sebuah komisi PBB dilansir dari Anadolu pada Rabu (28/10/2026).
Gencatan Senjata Formalitas
Dampak konflik berkepanjangan ini benar-benar membawa luka mendalam bagi warga sipil. Laporan PBB menyoroti eskalasi korban jiwa yang sangat memprihatinkan, di mana mayoritas korbannya adalah kelompok rentan.
“Lebih dari 75.000 warga Palestina telah terbunuh di seluruh Wilayah Pendudukan Palestina sejak 7 Oktober 2023, termasuk setidaknya 21.500 anak-anak dan 11.000 perempuan,” papar Ketua Komisi, Srinivasan Muralidhar, kepada Majelis Umum PBB.
Tragedi tak berhenti sampai di situ. Batas area aman yang disepakati seakan tak lagi digubris oleh militer di lapangan. Pasukan Israel terus membunuh dan melukai warga sipil, termasuk anak-anak, yang mendekati atau melintasi "Garis Kuning" (Yellow Line) di Gaza, menurut laporan terbaru komisi tersebut.
Kondisi ini terbilang parah lantaran gencatan senjata seakan cuma formalitas belaka. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, tentara Israel terus melancarkan serangan setiap hari di Gaza, yang mengakibatkan setidaknya 1.551 warga Palestina tewas dan 5.573 lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Teror Tepi Barat
Tak cuma di Gaza, situasi di Tepi Barat yang diduduki juga memburuk secara drastis, operasi militer Israel dan kekerasan oleh pihak pendudukan Israel merupakan bagian dari apa yang digambarkan oleh komisi tersebut sebagai serangan terkoordinasi terhadap warga Palestina.
Laporan itu menyebutkan kalau perluasan permukiman, aneksasi wilayah Palestina, dan pengusiran penduduk merupakan tujuan dari tindakan-tindakan tersebut. Israel telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Tepi Barat, termasuk pemusnahan, penyiksaan, pemerkosaan, dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya, ungkap komisi tersebut.
Komisi itu juga menemukan kalau anak-anak Palestina telah dianiaya karena usia mereka, dan bahwa kekerasan berbasis gender digunakan untuk mengusir, menundukkan, serta mendestabilisasi warga Palestina.
Rapuhnya Pengawasan Otoritas
Di sisi lain, laporan tersebut juga mengungkapkan kalau pasukan keamanan Palestina semakin sering menggunakan kekuatan yang tidak perlu atau tidak proporsional terhadap warga Palestina di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023.
Otoritas Palestina dipandang gagal melakukan penyelidikan yang efektif dan gak memihak soal pembunuhan-pembunuhan yang terjadi, serta gagal memberikan pemulihan bagi para korban dan keluarga mereka.
Desakan Tindakan Global
Merespons krisis yang makin out of control ini, pimpinan komisi melayangkan ketegasan keras kepada komunitas internasional agar tidak tinggal diam.
Muralidhar menekan Israel untuk nge stop pendudukan atas wilayah Palestina, mengevakuasi permukiman, dan menyingkirkan hambatan terhadap hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina. Ia juga mendesak negara-negara anggota PBB untuk berhenti memberikan bantuan politik, militer, ekonomi, atau keuangan yang turut melanggengkan pendudukan dan permukiman.
Negara-negara wajib memakai segala cara yang ada demi mencegah dan menghukum genosida dan mensupport Mahkamah Pidana Internasional, terutama di tengah sanksi yang baru-baru ini dijatuhkan Amerika Serikat terhadap mahkamah tersebut beserta para pejabatnya, ujarnya.
Drama penegakan hukum ini pun makin terasa kontroversial di balik layar. Muralidhar menyampaikan pernyataannya lewat konferensi video usai gagal meraih visa buat bepergian ke New York, walaupun ia sudah berusaha untuk memperolehnya. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Gencatan senjata yang harusnya jadi jalan damai malah kelihatan cuma formalitas belaka, soalnya aksi kekerasan dan kejahatan perang di Gaza serta Tepi Barat masih terus ugal-ugalan terjadi. PBB sampai turun tangan minta komunitas internasional berhenti merestui pendudukan ini dan tegas nuntut keadilan buat para korban. Real talk, situasi kemanusiaan di sana udah bener-bener di titik kritis dan butuh perhatian serius dari seluruh dunia.









