Bukan Sekadar Pidato, Ide Diplomasi Agama Menag Bikin Tokoh Dunia Kepincut

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:35 WIB
Bukan Sekadar Pidato, Ide Diplomasi Agama Menag Bikin Tokoh Dunia Kepincut
Bukan Sekadar Pidato, Ide Diplomasi Agama Menag Bikin Tokoh Dunia Kepincut (Kemenag)

astakom.com, Jakarta – Buat urusan perdamaian global, Indonesia fix gak cuma kasih vibe wacana doang. Gagasan keren dari Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, soal pentingnya action terhadap kemanusiaan yang real sukses bikin para pemimpin agama dunia kepincut dan ngasih green light. Ide ini dibongkar langsung sama Menag pas hadirin Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant'Egidio di Assisi, Italia.

Bukan sekedar formalitas

Waktu memaparkan di sesi Opening Assembly Unarmed and Disarming Peace, Menag dengan tegas ngajak dunia buat shift paradigma diplomasi global. Jadi, hubungan antarumat beragama tuh gak boleh cuma sebatas formalitas, tapi harus beneran pakai aksi nyata yang impactful buat masyarakat.

Di hadapan ratusan delegasi lintas negara, Menag nyorotin fenomena KTT lintas agama klasik yang sering banget insecure karena cuma berhenti di gestur simbolis doang. Menurutnya, kalau mau dapet peace yang beneran, kita butuh langkah taktis yang langsung ke akar rumput.

Aksi nyata akar rumput

"Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas," ungkap Menag Nasaruddin Umar di Assisi, berdasarkan rilis yang diterima astakom, Rabu (28/10/2026).

“Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi aksi nyata dan gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput,” jelasnya.

Menag juga nge-push para pemimpin global buat start jadiin "bahasa agama" sebagai core mechanism di panggung internasional. Alasannya, kerangka spiritual tuh punya power buat nurunin tensi permusuhan psikologis yang udah akut, terutama pas cara politik dan militer konvensional udah buntu.

Living harmony Indonesia

Buat bukti nyata, Menag langsung nge-spill model living harmony ala Indonesia. Studi kasus ini nunjukin gimana cara ngelola keberagaman biar stabilitas tetep on track, sekaligus bukti kalau Indonesia konsisten ngawal moderasi beragama (Wasaṭiyyah Islam) lintas negara.

Validasi tokoh dunia

Gagasan segar soal diplomasi praktis ini langsung dapet validasi dan support penuh dari para elit agama dunia. Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia sepakat banget kalau kita harus keluar dari pola pikir kaku dan agresif. Menurutnya, institusi agama emang udah waktunya bareng-bareng ngapus permusuhan demi harkat martabat manusia.

Dukungan yang sama juga dateng dari Rabi Kepala Haim Korsia, Rabi Agung Prancis. Dia setuju kalau kolaborasi tokoh agama di proyek kemanusiaan lokal jauh lebih worth it dan kokoh buat fondasi perdamaian ketimbang sekadar gimmick perjanjian politik.

Gak ketinggalan, delegasi Kristen Ortodoks Timur juga kepincut sama vibes pluralisme Indonesia. Mereka mandang Deklarasi Istiqlal 2024 yang sebelumnya diteken Menag bareng Paus Fransiskus di Jakarta sebagai blueprint valid kalau beda teologi bukan alasan buat musuhan.

Sesi pembukaan yang mind blowing ini akhirnya ditutup sama komitmen bareng buat nularin "Semangat Assisi 1986" jadi instrumen diplomasi murni yang fokus banget ke aksi kemanusiaan, penyelamatan bumi, dan world peace secara sustainable. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Diplomasi agama udah gak zaman cuma sebatas formalitas atau tanda tangan kertas doang. Menag Nasaruddin Umar baru aja nge-spill di Italia kalau perdamaian sejati itu butuh real action yang berdampak langsung ke masyarakat dan lingkungan. Pendekatan ala Indonesia ini terbukti ampuh bikin para pemimpin agama dunia setuju kalau kolaborasi kemanusiaan jauh lebih worth it dibanding sekadar gimmick politik.

Diplomasi Keagamaan Indonesia. Kemenag kemenag update Kementerian Agama

Infografis

Terkini