Kenapa Jakarta Terasa Makin Panas? Kenali Urban Heat Island dan Faktor Pemicu Lainnya
astakom.com, Jakarta – Cuaca Jakarta yang terasa menyengat bisa dipengaruhi oleh penyinaran Matahari, kondisi atmosfer, serta karakteristik lingkungan perkotaan. Salah satu fenomena yang berkaitan dengan kondisi panas di kota besar adalah urban heat island(UHI) atau pulau panas perkotaan.
Fenomena ini membuat temperatur kawasan perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya. Banyaknya bangunan, jalan beraspal, dan terbatasnya vegetasi menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut.
Lantas, apa itu urban heat island dan bagaimana kaitannya dengan panas yang dirasakan warga Jakarta?
Mengenal urban heat island
Melansir keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 27 Juni 2024, urban heat island merupakan fenomena ketika temperatur wilayah perkotaan lebih tinggi daripada daerah pedesaan di sekitarnya.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan beberapa faktor, termasuk perubahan tutupan lahan menjadi kawasan terbangun, struktur perkotaan, dan minimnya vegetasi.
Aspal, beton, serta bangunan dapat menyerap dan menyimpan energi panas. Sementara itu, pepohonan memberikan keteduhan dan membantu mendinginkan lingkungan melalui proses penguapan air.
Perbedaan karakteristik permukaan tersebut membuat kawasan yang padat bangunan dapat memiliki kondisi termal berbeda dari area yang lebih banyak ditumbuhi pepohonan.
Dalam siaran pers yang sama, BMKG turut menyebut Jabodetabek sebagai salah satu kawasan perkotaan yang termasuk dalam kelompok kota dengan nilai land surface temperature (LST) tinggi berdasarkan kajian yang disampaikan saat itu.
LST merupakan suhu permukaan daratan yang diamati melalui penginderaan jauh. Data ini berbeda dari suhu udara yang biasa ditampilkan dalam prakiraan cuaca, sehingga keduanya tidak dapat disamakan begitu saja.
Mengapa Jakarta bisa terasa panas?
Selain karakteristik perkotaan, ada beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi panas di Jakarta.
1. Posisi semu Matahari
Pada periode September hingga Oktober, Matahari dalam gerak semu tahunannya bergerak melintasi ekuator menuju belahan Bumi selatan. Posisi tersebut memengaruhi pola penerimaan sinar Matahari di berbagai wilayah Indonesia.
Ketika Matahari berada relatif tinggi di langit dan kondisi cuaca mendukung, permukaan jalan, atap, serta bangunan dapat menerima lebih banyak energi Matahari.
Namun, posisi Matahari bukan satu-satunya penentu suhu udara. Tutupan awan, kelembapan, angin, dan kondisi permukaan juga ikut memengaruhi panas yang dirasakan masyarakat.
2. Kondisi cuaca dan tutupan awan
Langit yang cerah memungkinkan lebih banyak radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi dibandingkan ketika tutupan awan menghalangi sebagian radiasi tersebut.
BMKG dalam prakiraan cuaca periode 9–15 Oktober 2026 menyebutkan bahwa cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan, meskipun potensi hujan masih ada di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta.
Karena kondisi cuaca dapat berubah dari satu wilayah ke wilayah lain, penyebab panas pada hari tertentu perlu dilihat berdasarkan pengamatan dan prakiraan cuaca setempat.
3. Karakteristik lingkungan perkotaan
Kawasan yang didominasi bangunan dan permukaan beraspal dapat menyimpan panas yang diterima pada siang hari. Panas tersebut kemudian dilepaskan secara bertahap, sehingga sebagian lokasi perkotaan dapat tetap terasa hangat setelah intensitas penyinaran Matahari berkurang.
Sebaliknya, keberadaan pepohonan dan ruang terbuka hijau dapat memberikan keteduhan serta membantu mengurangi pemanasan permukaan.
Kondisi inilah yang membuat UHI relevan untuk dibahas dalam konteks lingkungan Jakarta. Meski demikian, besarnya pengaruh fenomena tersebut terhadap panas yang dirasakan warga pada Oktober 2026 belum dapat dipastikan hanya berdasarkan karakteristik kota.
Apakah UHI sama dengan gelombang panas?
Meski sama-sama berkaitan dengan kondisi panas, UHI berbeda dari gelombang panas atau heatwave.
UHI berkaitan dengan perbedaan temperatur antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya. Sementara itu, gelombang panas merupakan kejadian meteorologis yang dinilai berdasarkan kriteria suhu tinggi yang menyimpang dari kondisi normal setempat selama periode tertentu.
Dengan demikian, cuaca Jakarta yang terasa gerah tidak otomatis berarti kota ini sedang mengalami gelombang panas. Penetapannya membutuhkan analisis data suhu dan kriteria meteorologis yang sesuai.
Cara mengurangi dampak panas perkotaan
Menghadapi cuaca panas dapat dilakukan melalui langkah sederhana, seperti mengurangi paparan Matahari langsung, mencukupi kebutuhan air minum, dan menyesuaikan aktivitas luar ruangan ketika cuaca terik.
Dalam jangka panjang, pemeliharaan pepohonan peneduh, penambahan ruang terbuka hijau, serta perencanaan kawasan yang memperhatikan sirkulasi udara dapat membantu mengurangi dampak panas perkotaan.
Mitigasi UHI juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena kondisi tersebut berkaitan dengan tata ruang dan pengelolaan lingkungan kota, bukan hanya kebiasaan individu.
Pada akhirnya, panas yang dirasakan di Jakarta perlu dipahami melalui faktor cuaca dan karakteristik lingkungan secara bersamaan. UHI menjadi salah satu fenomena penting untuk mengenali pengaruh lingkungan perkotaan, tetapi tidak dapat langsung ditetapkan sebagai penyebab utama kondisi panas pada hari tertentu tanpa data pendukung. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Jakarta terasa panas bukan berarti otomatis mengalami gelombang panas. Posisi Matahari dan kondisi cuaca dapat memengaruhi pemanasan pada siang hari, sementara lingkungan yang didominasi bangunan dapat membuat panas tersimpan lebih lama. Fenomena urban heat island membantu menjelaskan perbedaan kondisi panas antara kota dan wilayah sekitarnya, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga ruang hijau di kawasan perkotaan.









