Anak Sering Tantrum? Kenali 4 Tanda Kelelahan yang Perlu Diperhatikan
astakom.com, Jakarta – Anak yang mendadak menangis, mudah marah, atau sulit diajak bekerja sama bisa membuat orang tua kebingungan. Namun, sebelum langsung menganggapnya sebagai perilaku yang sulit dikendalikan, ada baiknya memperhatikan kebutuhan dasar anak, termasuk waktu istirahatnya.
Melansir dari situs Ayo Sehat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang membahas kaitan kurang tidur dengan tantrum pada balita. Kurang tidur memang bukan satu-satunya penyebab tantrum, tetapi kelelahan dapat membuat anak lebih sulit menghadapi rasa frustrasi.
Lantas, bagaimana mengenali kemungkinan tersebut? Ada beberapa pola yang bisa diamati orang tua, meski tanda-tanda ini tidak dapat dijadikan diagnosis tunggal.
Empat tanda anak mungkin terlalu lelah
- Tantrum sering muncul menjelang waktu tidur. Jika anak lebih mudah menangis atau marah ketika mendekati waktu tidur siang maupun malam, kelelahan bisa menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
- Reaksi emosinya terlihat lebih besar dari pemicu. Hal sederhana, seperti mainan yang tidak sesuai keinginan atau permintaan untuk memakai sepatu, bisa memicu tangisan panjang ketika anak sudah kelelahan.
- Anak membutuhkan waktu lebih lama untuk tenang. Cara yang biasanya membantu, seperti mengalihkan perhatian atau mengajaknya bermain, mungkin tidak langsung berhasil saat anak merasa sangat lelah.
- Suasana hati membaik setelah beristirahat. Jika anak terlihat lebih ceria dan lebih mudah menghadapi situasi setelah tidur cukup, kondisi tersebut bisa menjadi petunjuk bahwa kelelahan ikut memengaruhi emosinya.
Namun, orang tua perlu mengingat bahwa tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan balita. Rasa lapar, frustrasi, perubahan rutinitas, dan berbagai faktor lain juga bisa memicunya.
Apa yang sebaiknya dilakukan saat anak tantrum?
Ketika anak sedang mengalami ledakan emosi, orang tua bisa mencoba beberapa langkah sederhana:
- Tetap tenang dan dampingi anak di tempat yang aman.
- Kurangi keramaian atau rangsangan berlebihan jika memungkinkan.
- Gunakan kalimat singkat untuk membantu anak mengenali perasaannya.
- Tawarkan pelukan atau sentuhan jika anak menginginkannya.
- Hindari ceramah panjang atau ancaman ketika anak masih sangat emosional.
- Tunggu sampai anak lebih tenang sebelum membicarakan apa yang terjadi.
Tujuannya bukan sekadar menghentikan tangisan secepat mungkin, melainkan membantu anak melewati emosinya dengan aman. Respons yang tenang dari orang dewasa dapat membantu anak belajar mengelola perasaan secara bertahap.
Bangun rutinitas tidur yang konsisten
Selain mendampingi anak saat tantrum, orang tua dapat memperhatikan pola tidur sehari-hari. Pastikan kebutuhan tidur sesuai usia terpenuhi dan usahakan waktu tidur serta bangun tidak berubah terlalu jauh setiap hari.
Rutinitas menjelang tidur juga tidak harus rumit. Mandi, mengenakan piyama, membaca buku, lalu meredupkan lampu bisa menjadi rangkaian aktivitas yang membantu anak bersiap untuk beristirahat.
Perhatikan pula kualitas tidur, bukan hanya lamanya anak berada di tempat tidur. Jika anak sering terbangun, mendengkur keras, mengalami kesulitan bernapas saat tidur, atau terus terlihat lelah setelah bangun, konsultasikan kondisinya kepada dokter. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Anak yang tantrum belum tentu sedang mencari perhatian atau sengaja sulit diatur. Bisa jadi, ia sedang kewalahan menghadapi emosinya, dan kelelahan mungkin ikut berperan. Kenali pola perilakunya, dampingi dengan tenang, dan pastikan kebutuhan istirahatnya terpenuhi tanpa menganggap kurang tidur sebagai penyebab setiap tantrum.









