Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Langsung Chill Pas Reses Pasar

Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:31 WIB
Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Langsung Chill Pas Reses Pasar
Trump Lagi Panic Mode? Selat Hormuz Ditutup Iran, Trump Cuma Bisa Ngancam (Astakom / The Guardian)

astakom.com, Jakarta - Harga minyak bumi terpantau melandai pada perdagangan Jumat (09/10/2026) atau Sabtu pagi WIB. Meredanya kekhawatiran soal gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah jadi pemicu utama di balik tren penurunan ini, usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ngeluarin pernyataan resmi yang bikin pasar lebih tenang.

Trump ngetegasin kalau pihak AS gak bakal ngelakuin serangan ke Iran sebelum gelaran pemilihan umum sela bulan depan. Selain itu, dia juga ngespill adanya diskusi produktif buat mengakhiri konflik yang selama ini sempat bikin pasar energi global ketar-ketir. 

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga ngasih sinyal bakal ada pengumuman soal bahan bakar diesel dalam waktu dekat, plus lagi menimbang wacana penangguhan pajak bensin federal.

Pasar merespons dinamika tersebut dengan pergerakan harga yang cenderung stabil. Harga minyak Brent tercatat menguat tipis 19 sen ke level USD 104,47 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 36 sen dan ditutup pada posisi USD 91,85 per barel.

Langkah ekspor China turut redam gejolak pasar

Selain tensi geopolitik yang mendingin, kebijakan dari China selaku importir minyak terbesar di dunia juga ikut menekan pergerakan harga. China berencana buat ngebuka kembali kran ekspor bahan bakar olahan mereka setelah sempat dihentikan sementara selama libur Golden Week.

Analis dari PVM Oil Associates, Tamas Varga, ngumpulin dua faktor utama ini sebagai pendorong turunnya tekanan harga minyak. Menurutnya, kombinasi antara sinyal damai dari Trump serta keputusan ekspor China sukses bikin tensi pasar melandai. Sepanjang pekan, harga minyak memang sempat naik-turun akibat ancaman keamanan di Teluk dan Selat Hormuz jalur krusial yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah.

Sinyal islah dengan Iran di tengah badai sanksi

Di lain sisi, Washington ngaku lagi ngebangun "diskusi produktif" bareng Teheran. Trump memastikan gak ada aksi militer sebelum pemilu sela Kongres pada 3 November mendatang, sekaligus menepis rumor yang sempat beredar soal rencana serangan mendadak.

Dari pihak Iran, Kantor Berita Tasnim mengutip Menlu Abbas Araqchi yang nyebut kalau Teheran lagi ngebahas tanggapan AS terkait usulan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam kurun tujuh hari. Walau begitu, tekanan ekonomi AS tetap jalan lewat sanksi baru yang menyasar individu, jaringan bisnis, hingga 17 kapal pengangkut minyak dan petrokimia asal Iran.

Komplikasi pasokan bensin dan ancaman cuaca buruk

Dampak konflik Iran serta perang Rusia-Ukraina sejauh ini emang masih ngedistruksi pasokan bahan bakar olahan kayak bensin, bahan bakar jet, dan khususnya diesel. Kondisi ini makin diperparah sama faktor alam di Teluk Meksiko.

Ancaman Badai Isaias memaksa para produsen memangkas operasional mereka. Berdasarkan data US Marine Minerals Administration per Kamis, produksi minyak yang dihentikan sementara mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari, atau menyedot sekitar 62,9 persen dari total kapasitas produksi minyak di kawasan tersebut. (RaM)

Gen Z Takeaway

Kabar lega banget nih buat pasar global, tensi panas di Timur Tengah akhirnya mulai chill setelah Trump ngasih kepastian gak bakal ada plot twist serangan ke Iran dalam waktu dekat. Ditambah China yang udah ready ekspor bahan bakar lagi, harga minyak yang sempat bikin anxious perlahan balik ke mode stable. Walau masih ada tantangan dari sanksi ekonomi dan badai di Teluk Meksiko, setidaknya sinyal damai ini cukup buat bikin pasar energi gak panic buying lagi.

Donald Trump iran harga minyak dunia Perang Iran-AS Donald Trump Dewan Perdamaian Donald Trump ICE iran Iran AS iran israel

Infografis

Terkini