Mendiktisaintek Sebut Jabatan Rektor Bukan Puncak Karier Akademisi

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:03 WIB
Mendiktisaintek Sebut Jabatan Rektor Bukan Puncak Karier Akademisi
Mendiktisaintek Sebut Jabatan Rektor Bukan Puncak Karier Akademisi [Dok. Kemendiktisaintek]

astakom.com, Bandung – Jabatan rektor bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang akademisi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan bahwa kontribusi ilmu pengetahuan akan semakin berarti ketika hasil riset dan inovasi mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 09/10/2026, pesan tersebut disampaikan Brian dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Tahap III Tahun 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.

“Pencapaian tertinggi seorang akademisi bukan semata-mata menduduki jabatan rektor atau posisi struktural lainnya. Ilmu pengetahuan mencapai nilai tertingginya ketika dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Brian.

Menurut Brian, perguruan tinggi perlu memperluas orientasi pengembangan akademik agar tidak hanya berfokus pada pencapaian di lingkungan kampus, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang berguna bagi masyarakat.

Perubahan teknologi dorong kampus beradaptasi

Brian menilai perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), globalisasi, hingga dinamika geopolitik membawa perubahan besar bagi dunia pendidikan tinggi.

Situasi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk lebih adaptif dalam menentukan arah pengembangan institusi. Kampus juga perlu membangun keunggulan yang sesuai dengan karakter masing-masing serta mampu menciptakan nilai tambah dari pengetahuan yang dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup dilihat dari publikasi ilmiah, reputasi akademik, maupun jabatan struktural yang dimiliki para pengajarnya. Dampak nyata dari kegiatan akademik juga menjadi bagian penting dalam menilai kontribusi institusi.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul di atas kertas, tetapi harus mampu beradaptasi, menciptakan nilai, dan menghasilkan dampak nyata,” kata Brian.

Riset diharapkan berlanjut menjadi inovasi

Brian mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat riset terapan, memperluas hilirisasi hasil penelitian, serta membangun kolaborasi dengan dunia industri.

Melalui langkah tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi, inovasi, solusi sosial, maupun produk yang memiliki nilai ekonomi.

Meski demikian, publikasi ilmiah dan riset dasar tetap memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Keduanya menjadi fondasi bagi lahirnya temuan baru yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut agar memberikan manfaat lebih luas.

“Namun hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, melainkan berkembang menjadi teknologi, inovasi, solusi sosial, dan nilai ekonomi,” jelasnya.

Untuk mendukung arah tersebut, Brian menyoroti perlunya perubahan budaya akademik di lingkungan kampus. Perguruan tinggi diharapkan menyediakan insentif dan apresiasi yang memadai bagi dosen maupun peneliti yang menghasilkan karya tepat guna.

Dengan demikian, pengembangan riset tidak hanya diarahkan untuk memenuhi target akademik, tetapi juga memiliki jalur pemanfaatan yang jelas sesuai kebutuhan masyarakat.

Kepemimpinan kampus perlu punya visi jangka panjang

Selain mendorong riset berdampak, Brian menekankan pentingnya kepemimpinan perguruan tinggi yang visioner, adaptif, dan responsif terhadap perubahan.

Pimpinan kampus dituntut mampu membaca perkembangan zaman, memperluas jejaring lintas sektor, serta mengelola aset dan sumber daya institusi secara efektif. Penataan program studi juga perlu dilakukan secara terarah untuk memperkuat keunggulan dan daya saing perguruan tinggi.

Pesan tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan AKPT, yakni memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola para pimpinan serta calon pemimpin perguruan tinggi di Indonesia.

Berdasarkan keterangan resmi Kemdiktisaintek, AKPT Tahap III Tahun 2026 berlangsung pada 8–9 Oktober 2026 di ITB dengan tema Institutional Transformation & Innovation. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi institusi pendidikan tinggi agar lebih adaptif, inovatif, dan berdampak. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Pesan Brian menegaskan bahwa pencapaian akademisi bukan cuma soal jabatan atau publikasi, tetapi juga bagaimana ilmu yang dikembangkan bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalan nyata. Riset yang bermanfaat, inovasi yang bisa diterapkan, dan kampus yang adaptif menjadi bagian penting dari kontribusi pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Kemendiktisaintek Mendiktisaintek pendidikan Brian Yuliarto

Infografis

Terkini