Menag Ingatkan Relasi Segitiga Manusia, Alam, Tuhan di KTT Konghucu ASEAN-Tiongkok

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:01 WIB
Menag Ingatkan Relasi Segitiga Manusia, Alam, Tuhan di KTT Konghucu ASEAN-Tiongkok
Menag Ingatkan Relasi Segitiga Manusia, Alam, Tuhan di KTT Konghucu ASEAN-Tiongkok [Kemenag]

astakom.com, Jakarta – Bumi lagi butuh dirawat, dan para tokoh lintas negara berkumpul untuk membahasnya. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok Ke-5 digelar di Hariston Hotel & Suites, Jakarta. 

Forum ini hasil kolaborasi Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) dan Shandong University, dengan dukungan penuh dari Pusat Bimbingan dan Pendidikan (Pusbimdik) Konghucu Kementerian Agama.

Titik Temu Tokoh Lintas Negara

Di tengah tantangan lingkungan dan sosial yang makin kompleks, Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang membuka forum ini, mengingatkan bahwa laju peradaban harus diimbangi nilai-nilai agama. Menurutnya, umat beragama punya tanggung jawab moral untuk berpikir jauh ke depan demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan next generation .

Di hadapan delegasi akademisi dan tokoh Konghucu dari Tiongkok, Hong Kong, dan negara-negara ASEAN, Menag menekankan satu konsep utama.

Sinyal Bahaya Relasi Segitiga

“Sangat ditekankan perlunya relasi segitiga, yaitu antara manusia, alam, dan Tuhan. Jika relasi antara manusia, alam, dan Tuhan ini renggang, maka problem kemanusiaan akan bermunculan,” tutur Menag dikutip oleh astakom pada Kamis, (8/10/2026).

Menag juga meminta agar pemanfaatan alam tidak hanya berpusat pada kepentingan manusia (antroposentris), tetapi mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. Karena itu, ia menyerukan para tokoh agama jadi garda terdepan dalam speak up kesadaran lingkungan.

"Menjadi kewajiban semua tokoh agama untuk mengajak seluruh umatnya mencintai alam semesta seperti mencintai dirinya sendiri," jelasnya.

Bukan cuma soal lingkungan, Menag juga menyoroti pentingnya merawat persaudaraan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang. Menghadapi tantangan global seperti kemiskinan dan kelaparan, kuncinya adalah penguatan budi pekerti dan solidaritas antarumat manusia.

Stop Ego Antroposentris!

"Semua anak manusia itu bersaudara. Mari kita kembali kepada ajaran suci kita masing-masing. Semakin dekat kita kepada ajaran agama kita, maka semakin bermartabat manusia itu sendiri,” jelas Menag.

Ide Menag disambut positif oleh MATAKIN. Ketua Umum MATAKIN, Xs. Budi Santoso Tanuwibowo, menekankan bahwa pelestarian alam dan pengokohan budi pekerti sejalan dengan filosofi spiritualitas umat Konghucu di Indonesia saat ini.

Ekoteologi Jadi Langkah Nyata

“Kita akan fokus lebih ke lingkungannya, karena itu menjadi program utama dari Menteri Agama juga, yaitu Ekoteologi. Namun secara keseluruhan, tentu yang paling penting dan paling abadi adalah bicara soal kemanusiaan, serta bagaimana membangun hubungan antarbangsa yang rukun harmonis,” ucap Budi.

Forum yang dihadiri puluhan pakar dan sarjana ini diharapkan tidak berhenti di wacana. Targetnya adalah rumusan dan langkah nyata yang memperkaya khazanah keilmuan sekaligus membawa manfaat langsung bagi perdamaian, kelestarian bumi, dan kesejahteraan umat manusia secara luas. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Bukan cuma soal ritual, isu bumi rusak dan krisis iklim ternyata nyambung banget sama pesan para tokoh agama lintas negara hari ini. Kalau hubungan manusia, alam, dan Tuhan berantakan, dampaknya bakal langsung dirasain sama next generation. Jadi, jaga lingkungan itu bukan sekadar tren eco-friendly di media sosial, tapi investasi moral paling real buat masa depan bumi kita!

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok Ke-5 Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok Konghucu Asean update

Infografis

Terkini